Friday, December 24, 2021

Bandara Hang Nadim Batam dan kawasan Batam, Bintan dan Karimun

Pengembangan Bandara Hang Nadim Batam akan Dorong Kawasan BBK

Rabu, 22 Desember 2021 / 11:34 WIB


Pengembangan Bandara Hang Nadim Batam akan mendorong kawasan Batam, Bintan dan Karimun (BBK). Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam) menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Badan Usaha Pelaksana Proyek KPBU Pengembangan Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Selasa (22/12).

Hal tersebut dilakukan untuk pengembangan Kawasan Batam, Bintan dan Karimun (BBK) yang diharapkan mendorong terbukanya akses penerbangan yang langsung. Terutama ke Korea Selatan, China, serta beberapa negara lain. 

Di samping itu, Kementerian Koordinator Perekonomian menyebut, Batam akan dapat menjadi alternatif hub untuk penerbangan internasional, terutama ke Pulau Jawa, Bali, NTB, Sulawesi, Maluku, dan Papua dengan memanfaatkan jaringan bandara yang dioperasikan Angkasa Pura I tersebut.

Jaringan penerbangan internasional dari dan ke Batam dinilai akan mempercepat pemulihan dan pengembangan industri pariwisata di Kawasan BBK. Serta dapat mengefisienkan layanan kargo, yang akan dapat meningkatkan daya saing industri dan mengurangi biaya logistik di Batam. Selain itu, juga dapat mendorong supply chain barang elektronik, baik dari bahan baku maupun produknya sendiri.

“Penandatanganan PKS ini menandai era baru dari proses panjang dalam upaya percepatan pengembangan Bandara Hang Nadim Batam dalam menunjang pengembangan kawasan BBK, serta kawasan regional Indonesia bagian barat, maupun menghubungkan dengan pasar global seperti Korea, Jepang, dan Tiongkok, bahkan bisa menjangkau Amerika Serikat,” jelas Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan secara virtual, Rabu (22/12). 

Peluang tersebut diyakini akan dapat dicapai dengan memperhatikan kapasitas dan kapabilitas anggota konsorsium. Yakni PT Angkasa Pura I telah mengelola 15 bandara di Indonesia dengan layanan 83,4 juta penumpang dan 556.000 ton kargo pada 2019, Incheon International Airport Corporation yang memiliki superprioritas jaringan rute antar benua dengan 88 maskapai, 52 negara destinasi, dan 173 kota destinasi, dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. yang memiliki portofolio overseas project di Asia dan Afrika.

Airlangga mengatakan, KPBU ini merupakan proyek brownfield dengan nilai investasi sebesar Rp 6,9 triliun dengan masa kerja sama selama 25 tahun. Ia juga mengharapkan KPBU ini dapat memberikan manfaat kepada BP Batam senilai Rp 34,58 triliun.

“Adapun dampak tidak langsung, namun sangat diperlukan, adalah terjadinya peningkatan pelayanan kebandarudaraan dengan target awal untuk lima tahun ke depan, yaitu pelayanan penumpang sebesar 2 kali lipat dan pelayanan kargo sebesar 1,5 kali lipat yang dihitung dengan capaian tahun 2019 sebelum pandemi Covid-19,” ujar Airlangga.

Kekuatan badan usaha konsorsium tersebut diyakini akan dapat menyusun dan menerapkan strategi pengembangan rute yang berorientasi ke global transhipment, yaitu menjadikan Batam sebagai hub logistik nasional.

Batam nantinya akan menjadi gerbang masuk dan keluar Amerika Serikat - Korea Selatan - Batam dan Tiongkok - Batam, Singapore market shifting dengan peningkatan fasilitas dan layanan warehousing, e-commerce fulfillment center dengan target produk ke Tiongkok dan Korea Selatan, serta meningkatkan ekspor produk pertanian dan perikanan dari Indonesia ke mancanegara.

Memperhatikan tujuan dan dampak besar dari pelaksanaan KPBU tersebut, Airlangga mengharapkan, operasionalisasi PKS ini dapat segera dijalankan dalam satu sampai dua bulan ke depan.

"Saya juga berharap proyek Bandara Hang Nadim ini akan dapat menjadi jembatan untuk kerja bersama, maju bersama, dan sejahtera bersama, antara Indonesia dan Korea Selatan,” imbuh Airlangga.


Sumber :

https://nasional.kontan.co.id/news/pengembangan-bandara-hang-nadim-batam-akan-dorong-kawasan-bbk

Tuesday, June 22, 2021

Lokasi Industri Manufaktur Teknologi 5G IoT

Batam Jadi Lokasi Industri Manufaktur dengan Teknologi 5G IoT Pertama di Indonesia

22 JUNI 2021

    


Kehadiran 5G di tanah air masih menjadi hal yang terus menarik untuk dibahas. Bagi sebagian besar masyarakat awam, pada awalnya keberadaan generasi terbaru dari jaringan internet ini dianggap dapat memberikan koneksi yang lebih cepat untuk keperluan hiburan atau aktivitas digital sehari-hari.

5G yang baru saja hadir sejauh ini hanya dinilai mampu untuk memberikan pengalaman streaming atau menonton video dengan kualitas gambar yang tinggi tanpa kendala buffering, atau kemampuan tinggi lain layaknya mengunduh gim dengan kapasitas puluhan GB hanya dalam waktu belasan menit.

Nyatanya, keunggulan yang dibawa oleh teknologi 5G jauh lebih mumpuni dari hal yang disebutkan di atas. Praktisi, pakar, dan pihak yang memahami betul potensi sesungguhnya dari generasi terbaru internet ini sejatinya memiliki target tertentu dari pemanfaatan teknologi 5G, lebih tepatnya untuk penerapan AIoT dan mendukung apa yang selama ini banyak dikenal dengan istilah transformasi digital dan era Industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dan berbagai operator seluler di tanah air menjadi pihak utama yang paham betul akan potensi 5G bahkan jauh sebelum teknologi tersebut secara resmi dihadirkan secara komersial.

Sedikit kilas balik, beberapa waktu lalu Kemkominfo bersama salah satu operator seluler di tanah air yaitu Smartfren melakukan uji coba 5G pada pita frekuensi tertinggi yang belum pernah digunakan sebelumnya (mmWave), hasil uji coba yang diperoleh pun menunjukkan secara nyata bahwa 5G dapat mengakselerasi keberadaan Industri 4.0 di tanah air lewat kecepatan internet tertinggi yang dimiliki.

Dalam kesempatan itu pula, istilah ‘Dunia dalam Genggaman’ lewat penerapan kecerdasan buatan dan IoT pada sektor industri semakin ditekankan dan menjadi fokus utama dalam pemanfaatan 5G oleh Kemkominfo berdampingan dengan berbagai operator seluler di tanah air.

Bukan Jakarta, nyatanya Batam adalah kota yang mendapat keistimewaan sebagai lokasi di mana penerapan 5G dan IoT pertama kali diterapkan untuk sektor industri. Seakan bersinergi dengan uji coba yang dilakukan oleh Kemkominfo dan Smartfren beberapa waktu lalu, kali ini penerapan secara nyata dilakukan oleh operator lain yaitu Telkomsel dengan Schneider Electric sebagai salah satu pelaku industri yang akan bekerja sama mendukung keberadaan industri 4.0 melalui keberadaan 5G.

Pada tanggal 7 Juni lalu, Telkomsel sejatinya kembali memperluas layanan 5G yang dihadirkan di beberapa wilayah lanjutan yaitu Surabaya, Makassar, Bandung, Denpasar, dan Batam. Khusus untuk wilayah Batam, 5G yang dihadirkan sekaligus menjadi peresmian simbolis dari kolaborasi yang dilakukan untuk mewujudkan industri berbasis teknologi 5G IoT pertama di Indonesia.

Adapun peresmian kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Telkomsel dan Schneider Electric untuk memperkuat kemitraan strategis dalam mempercepat transformasi digital (DX) Indonesia dan Industri 4.0 dengan melaksanakan 5G trial joint collaboration melalui berbagai program.

Sekadars informasi, Schneider Electric yang berlokasi di Batam adalah perusahaan manufaktur terbesar dan diklaim sebagai yang terbaik dalam bidang pendistribusian serta otomatisasi dan kontrol industri.

Plant Director Plant Electronic Schneider Electric Manufacturing Batam, Kodrat Sutarhadiyanto pada kesempatan yang sama juga menyampaikan ungkapan mengenai kesiapan pihaknya menjadi industri pertama yang akan menerapkan teknologi 5G IoT dan berkolaborasi dengan Telkomsel.

“Kami memilih Telkomsel sebagai partner terpercaya dalam mendukung upaya Schneider Electric untuk menjadi yang terdepan di Industri 4.0 di Indonesia, Telkomsel sebagai pihak yang menyediakan solusi berbasis teknologi 5G untuk mengakselerasi transformasi digital pabrik pintar kami di Batam” ungkap Kodrat melansir rilis pada laman resmi Telkomsel.

Pada kesempatan yang sama, pihak Telkomsel dan Schneider Electric Batam juga menjabarkan mengenai teknologi atau program apa saja yang diterapkan melalui kolaborasi yang terjalin. Secara garis besar, ada 3 program berbasis 5G IoT yang siap diaplikasikan dalam operasional industri.

Pertama, menghadirkan fitur live streaming virtual tour pabrik pintar Schneider Electric Batam, sehingga para mitra industri global dapat mengunjungi pabrik pintar dari berbagai belahan dunia. Dengan kemampuan konektivitas yang dimiliki oleh 5G, kemampuan virtual tour ini jelas bisa berjalan dengan baik yang di mana selanjutnya akan meningkatkan kesadaran pelaku industri global akan keberadaan industri tanah air yang sudah mumpuni dan layak diperhitungkan keberadaannya.

Kedua, menghadirkan teknologi EcoStruxure Augmented Operator Advisor, yaitu berupa penerapan augmented reality menggunakan device (tablet) yang terhubung dengan jaringan 5G untuk membantu teknisi dalam aktivitas pemeliharaan jarak jauh. Lewat fasilitas ini, bukan tidak mungkin bahwa kedepannya tingkat efektivitas dan efisiensi di industri manufaktur akan semakin meningkat.

Ketiga, pengaplikasian sistem EcoStruxure Machine Advisor yang menghubungkan perangkat IoT sensor dengan dashboard online yang digunakan untuk memantau operasional proses produksi manufaktur secara real-time.

Melihat kolaborasi awal yang terjalin tersebut, bukan tidak mungkin bahwa kedepannya akan terus bermunculan penerapan industri berbasis teknologi 5G IoT, dengan operator seluler atau penyedia layanan 5G lainnya yang semakin meningkatkan performa industri manufaktur di tanah air dan tak kalah bersaing dengan kecanggihan industri manufaktur yang dimiliki oleh negara lain.


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/06/22/batam-jadi-lokasi-industri-manufaktur-dengan-teknologi-5g-iot-pertama-di-indonesia

Wednesday, May 5, 2021

Asal-usul Nama Batam

Asal-usul Nama Batam: dari Akronim Batu Ampa dan Batang 

Batam adalah kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau dan merupakan salah satu kota industri di Indonesia yang paling menonjol. Kota Batam sendiri baru dikembangkan awal tahun 1970-an, namun kini telah menjadi salah satu kota metropolis di Indonesia. 

Wilayah Kota Batam terdiri dari Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang dan pulau-pulau kecil lainnya di kawasan Selat Singapura dan Selat Malaka. Pulau Batam, Rempang, dan Galang terkoneksi oleh Jembatan Barelang. 

Asal-usul nama kota Batam memiliki beragam versi. Hingga kini, belum ada data yang valid yang menjadi argumen pemberian nama Batam. Versinya beragam dan didapatkan dari berbagai sumber, terutama orang-orang lama yang justru berasal dari luar Pulau Batam. 

Dilansir laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI,  berbagai versi tentang hikayat Batam salah satu di antaranya disebutkan dalam buku “Patahnya Gunung Daik,” tulisan Drs. Abdul Razak. 

Di buku itu disebutkan bahwa “Batam” merupakan akronim dari “batu ampa,” yang merujuk pada cerita si Badang dan Putri Tumasik yang dikenal dalam khasanah hikayat rakyat Melayu. 

Namun, versi lain menyebut, “Batam” berasal dari kata “Batang.” 

Konon, ketika pertama kali tanah semenanjung tercipta, kawasan itu terkenal sangat labil. Ketika hembusan angin Selatan datang, tanah semenanjung itu diterpa angin kencang. Untuk melindungi kawasan labil itulah, dewa penunggu semenanjung meletakkan berbagai batang kayu yang masih berumbi di Belakang Selatan Semenanjung. 

Dahulu, rumpun batang itu dibentang lagi dengan rumpun batang yang lain. Lalu di bagian Selatan rumpun batang itu di Rempang dan di Galang pula dengan rumpun-rumpun batang lain. 

Pada akhirya, semua itu menjadi asal usul perkataan ‘Bintan,’ ‘Rempang.’ dan “Galang.’ Versi penamaan ‘Batam’ lainnya, tersebutkan pula dalam hikayat “Dari Nongsa ke Pulau Terong,” yang ditulis Abdul Basyid dan Raja Erwan. 

Versi ini menyebut, kata ‘Batam’ berasal dari kata pelanduk putih. Kalau ditilik dari akronimnya, kata ‘Batam’ dan ‘pelanduk putih'. Meskipun tidak memiliki korelasi secara tekstual. Tetapi hikayat ini mampu memperkaya khasanah asal-usul kota Batam. 

Pulau Batam dihuni pertama kali oleh orang Melayu dengan sebutan orang selat sejak tahun 231 Masehi. Pulau ini dulu pernah menjadi medan perjuangan Laksamana Hang Nadim dalam melawan penjajah yang kemudian digunakan oleh pemerintah pada dekade 1960-an sebagai basis logistik minyak bumi di Pulau Sambu. 

Pada dekade 1970-an, sesuai Keputusan Presiden nomor 41 tahun 1973, Pulau Batam ditetapkan sebagai lingkungan kerja daerah industri. Hal ini juga dengan didukung oleh Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam atau lebih dikenal dengan Badan Otorita Batam (BOB) sebagai penggerak pembangunan Batam.


Sumber :

https://www.kompas.com/sains/read/2021/05/03/163100123/asal-usul-nama-batam-dari-akronim-batu-ampa-dan-batang?page=all#page2.

Monday, April 26, 2021

Jembatan Batam-Bintan

Jokowi Jadi Bangun Jembatan Terpanjang di RI, Ini Faktanya

Pemerintah bakal menambah infrastruktur di bagian barat wilayah Indonesia, yakni proyek jembatan Batam-Bintan dengan panjang 7 Km. Dalam waktu yang tidak lama lagi, bakal ada pengerjaan pada proyeknya.

Berikut fakta-faktanya:


1. Jembatan Terpanjang di Indonesia

Jembatan ini bakal memiliki panjang 7 km dan menjadi terpanjang di Indonesia. Saat ini, status jembatan terpanjang jatuh pada Jembatan Suramadu yang membelah Selat Madura atau menghubungkan Pulau Jawa (Surabaya) dan Pulau Madura (Bangkalan). Panjang jembatannya mencapai 5,43 Km.

Sementara jembatan terpanjang kedua saat ini adalah Jembatan Dompak dengan panjang 1,5 Km. Selanjutnya ada Jembatan Tayan yang menghubungkan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menempati posisi ketiga dengan panjang 1,44 Km.


2. Kerjasama Bareng Swasta, Investor Singapura Mau

Berbeda dengan pembangunan Jembatan Suramadu yang lebih banyak menelan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), proyek Jembatan Batam-Bintan nantinya akan dibangun dengan skema Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha (KPBU). Investor dari Singapura sempat dikabarkan berminat pada proyek ini.

Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga tengah melakukan pengkajian teknis dan finansial pada pembangunan Jembatan Batam-Bintan. Rencananya, pembiayaan pembangunan jembatan tersebut menggunakan skema KPBU. Namun, Pemerintah juga memberi dukungan finansial agar proyek tetap feasible.

"Dalam evaluasi yang dilakukan oleh Ditjen Pembiayaan Infrastruktur, tidak bisa totalitas dibiayai oleh KPBU, tetapi harus ada porsi dibantu oleh Pemerintah. Porsi Pemerintah sekitar 30%," ujar Direktur Pembangunan Jembatan, Ditjen Bina Yudha Handita Pandjiriawan, dalam keterangan resmi.


3. Terdiri dari Dua Jembatan

Jembatan Batam - Bintan termasuk jembatan khusus yang terdiri dari dua jembatan, yakni Batam-Tanjung Sauh dan Tanjung Sauh-Bintan. Sementara untuk porsi pembiayaan Pemerintah pada jembatan penghubung Batam - Tanjung Sauh, sedangkan Tanjung Sauh - Bintan akan dibangun oleh investor melaui proses lelang.

"Jembatan Batam ke Tanjung Sauh sekitar 2.000 meter dan Tanjung Sauh ke Bintan 5.000 meter, jadi total panjangnya sekitar 7.000 meter," terang Yudha.


4. Mimpi sejak 2005

Desain awal pembangunan jembatan ini sudah dibuat oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau pada 2005 dan diperbarui tahun 2010. Namun karena ke depan berbentuk jembatan tol atau kendaraan yang lewat akan dikenakan tarif, sehingga terdapat perubahan desain agar menyesuaikan standar tol. Di mana lebar jembatan yang sebelumnya 28 meter disesuaikan menjadi 33 meter.

Dikutip dari laman Pemprov Kepri, rencana pembangunan Jembatan Batam-Bintan sudah diutarakan Presiden Jokowi April 2019. Karenanya, proyeknya masuk ke dalam dalam Major Project RPJMN 2020-2024.

"Untuk jembatan Tanjung Sauh ke Bintan yang KBPU, nanti desain yang ada menjadi basic design untuk di-update oleh investor menjadi DED (detail engineering design), sehingga untuk ditindaklanjuti apa yang kurang difinalisasi. Sementara Jembatan Batam-Tanjung Sauh karena menjadi tugasnya Pemerintah, kami akan selesaikan kekurangan yang ada dalam beberapa bulan, sehingga saat proses KPBU selesai, DED-nya juga selesai," jelas Yudha.


5. Segera Masuk Konstruksi

Saat ini progresnya masih masuk dalam tahap finalisasi pembahasan KPBU diharapkan segera mulai konstriksi. Selain itu Jembatan Batam-Bintan juga akan mendukung rencana pembangunan pelabuhan peti kemas di Tanjung Sauh dan Shelter di pulau Bintan. Memacu pertumbuhan ekonomi, meningkatkan konektivitas wilayah juga mengurangi waktu tempuh dan biaya orang/barang.

"Bapak Menteri PUPR dan Bapak Presiden berharap tahun 2024 tidak ada pembangunan fisik. Itu menjadi concern kami, maka targetnya sebelum 2024 jembatan ini sudah selesai," jelasnya.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, menjelaskan keunggulan pembangunan infrastruktur dengan skema KPBU dibandingkan menggunakan APBN sepenuhnya. Di antaranya, bagi swasta memiliki kepastian pengembalian (Investasi) plus keuntungan, sementara keuntungan pemerintah proyeknya banyak yang mengawasi.


"Sehingga tercipta tertib administrasi dan tertib teknis," jelas Basuki.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/news/20210425121606-4-240645/jokowi-jadi-bangun-jembatan-terpanjang-di-ri-ini-faktanya

Wednesday, April 14, 2021

Batam untuk Saingi Singapura

Harapan BJ Habibie Membangun Batam untuk Saingi Singapura 

Presiden ketiga RI, Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto di Jakarta, Rabu (11/9/2019). Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 itu meninggal akibat penyakit yang dideritanya. 

Semasa hidupnya, banyak hal yang telah diperbuat Presiden ketiga RI ini, terutama terhadap pembangunan di Batam, Kepulauan Riau. BJ Habibie, begitu panggilan akrabnya menginginkan Batam tumbuh pesat pembangunannya dan mampu menyaingi negara tetangga, yakni Singapura. 

Bahkan dalam kunjungannya belum lama ini ke Batam, BJ Habibie sempat berpesan dan menginginkan pengelolaan Batam kembali pada konsep awal. Hal ini menjadi solusi penting untuk menyelesaikan kisruh dualisme kewenangan yang terjadi di Batam saat ini antara BP Batam (Otorita Batam) dengan Pemko Batam, demi pengembangan Batam yang lebih baik. 

Ide pengembangan Batam: dari Soeharto hingga BJ Habibie Dia menceritakan ide pengembangan Batam pertama kali dicetuskan oleh Soeharto, sebelum menjadi Presiden. Saat ada konfrontasi dengan Malaysia, Soeharto ditugaskan di Batam. Pulau tidak berpenghuni ini letaknya berdekatan dengan Singapura, yang menjadi pusat lalu lintas perdagangan. 

Dan ketika Soeharto menjadi Presiden, Soeharto ingin Batam bisa menyaingi Singapura. Terlebih saat itu Pertamina sedang menikmati hasil keuntungan yang bagus, akibat harga minyak dunia yang tinggi. Tentunya tidak sulit bagi Soeharto untuk membangun Batam menjadi kota yang dapat menyaingi Singapura. 

Tahun 1971, Soeharto pun menugaskan Direktur Utama Pertamina Ibnu Sutowo untuk membangun Batam, pertimbangannya karena wilayah Batam dekat dengan daerah operasi Pertamina di Natuna. Pertamina membangun Batam menjadi lokasi logistik penyimpanan pipa untuk kebutuhan perminyakan. 

Baru dua tahun membangun Batam, Pertamina kesulitan keuangan. Ambil alih pengembangan Batam dari Pertamina Sehingga di tahun 1973 Soeharto meminta BJ Habibie mengambil alih pengembangan Batam dari Pertamina. BJ Habibie meminta agar pengembangan Batam diubah. 

Dia ingin pengembangan Batam dilakukan dengan caranya sendiri dan Soeharto menyetujuinya. Untuk bisa mengalahkan Singapura, luas Pulau Batam yang hanya 75 persen dari negara tersebut harus ditambah. 

Makanya dia memperluas daerahnya ke pulau lain di sekitarnya yakni Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru, dengan membangun enam Jembatan Barelang. Sebagai konseptor dan orang pertama yang menjadi Kepala Otorita Batam (BP Batam), BJ Habibie ingin Batam menjadi wilayah khusus ekonomi. 

"Batam ini dibangun untuk bisnis dengan harapan mampu menyaingi Singapura," kata Habibie saat berkunjung ke Batam belum lama ini. 

BJ Habibie ingin Batam menjadi ujung tombak pembangunan dan modernisasi Indonesia. Hingga akhirnya Batam diarahkan menjadi pusat industri di dalam negeri. Soal dualisme kewenangan BP Batam dan Pemkot Batam Saat ini dia cukup puas dengan pembangunan Batam yang sudah cukup maju, dibandingkan saat pertama kali dirinya masuk ke Batam. 

Meski begitu, dia mengakui masih ada permasalahan yang menghambat, terutama terkait dualisme kewenangan antara BP Batam dan Pemerintah Kota Batam. Bahkan untuk menimaliair dualisme kepemimpinan tersebut, Bapak Otorita Batam ini mengaku sangat setuju Batam menjadi provinsi tersendiri atau terlepas dari Kepulauan Riau. 

"Saya setuju Batam dijadikan provinsi istimewa dan sudah seharusnya Batam terpisah dari Kepulauan Riau untuk menjadi ujung tombak pusat ekonomi daerah terdepan Indonesia," jelas BJ Habibie. 

Dengan begitu, Batam bisa lebih cepat maju dengan konsep sebagai kota ekonomi, bila perlu menjadi kota pysat casino seperti Singapura dan Malaysia. 

"Yang penting sistemnya diperjelas, dan hanya diperuntukan untuk orang asing saja bukan orang Indonesia," paparnya.


Sumber :

https://regional.kompas.com/read/2019/09/12/06472021/harapan-bj-habibie-membangun-batam-untuk-saingi-singapura?page=all.

Wednesday, March 24, 2021

Kampung Dapur 12

Cerita Kampung Dapur 12 di Kota Batam, Dulu Jadi Pemasok Arang untuk Warga Singapura

Tak banyak yang tahu jika di Kota Batam ada sebuah daerah yang memiliki nama unik yakni Kampung Dapur 12. Kampung ini cukup jauh dari hiruk pikuk Kota Batam tepatnya berada di Kelurahan Sei Pelunggut, Kecamatan Sagulung, Kota Batam. 

Dahulu kala, kampung tua ini memasok kebutuhan arang untuk memasak warga Singapura. Kampung Tua Dapur 12 awalnya bernama Kampung Tanjung Atok Itam. Namun untuk mengenang sejarah, kampung tersebut diberi nama Kampung Tua Dapur 12.

Pada masa lampau penduduk Batam yang disebut masyarakat Melayu mencukupi kebutuhannya dengan menangkap ikan. Selain itu mereka berdagang, mencari kayu, membuat tembikar, dan sebagainya. Sementara orang Tionghoa yang dikenal dengan sebutan nama Cina Kebun sebagian besar adalah imigran dari dataran Tiongkok yang menetap di pedalaman hutan dan membuka perkebunan karet, gambir, hingga merica. 

Sekitar tahun 1930-an, ada orang China yang membuka usaha dapur arang dan bekerja sama dengan orang Melayu yang mencari kayu bakau untuk pembuatan arang. Dikutip dari Buku Mozaik Batam di Bumi Segantang Lada yang ditulis oleh H Mhd Alfan Suheiri dijelaskan jika hutan bakau yang tumbuh sumbur di sepanjang pesisir Batam menjadi berkah bagi penduduk temppatan. 

Selain sebagai nelayan, sebagian penduduk menebangi hutan kayu bakau dan mengolah kayunya menjadi arang. Kayu arang olahan penduduk Batam bernilai ekonomis tinggi dan sangat laku di Singapura. 

Akhirnya kayu arang tersebut menjadi salah satu komiditas yang dijual ke Singapura. Penjualan arang sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda. Oleh warga Singapura, arang digunakan untuk bahan bakan saat memasak. Biasanya arang yang dibuat oleh warga Batam dibawa oleh toke arang dengan menggunakan kapal kayu. Bahkan sangking larisnya, dalam sehari toke arang bisa bolak-balik Batam-Singapura. 

Saat ke Singapura mereka membawa arang dan ketika pulang ke Batam, mereka membawa sembako. Transaksi yang dilakukan kala itu dengan cara tukar barang atau barter. Alfan Suheiri menulis pengiriman arang besar-besaran dari Batam ke Singapura terjadi pada tahun 1960-an. 

Saat itu kebutuhan arang cukup tinggi karena penduduk Singapura mulai ramai. Biasanya arang diproduksi di lokasi pesisir Batam dan dapur arang yang digunakan adalah milik tauke yang akan mempekerjakan beberapa orang. Namun ada juga tauke yang mengumpulkan arang dari penduduk dan jika jumlahnya sudah banyak akan dibawa ke Singapura. 

Ada 12 dapur arang berukuran besar 

Dari cerita tutur masyarakat sekitar, di Kampung Tanjung Atok Itam ada 12 dapur arang berukuran besar. Namun saat ini hanya ada beberapa dapur arang yang tersisa. Satu dapur arang berukuran besar dengan tinggi limer meter dan luas lebih dari 25 meter. 

Satu dapur arang bisa menghasilkan 30 ton arang dengan pembakaran antara 1 bulan hingga 1,5 bulan. Dua dapur arang dibangun oleh ayah Samyong, seorang tauke arang yang berasal dari Singapura. Tony A Samyong (Sam Hiong) adalah salah seorang pejuang pada zaman konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia. 

Saat Samyong masih kecil, ia dan ayahnya hijrah dari Singapura ke Batam dan mendirikan usaha dapur arang yang diteruskan oleh Samyong. Diceritakan saat Samyong berusia 12 tahun di tahun 1947, ia sudah terjun membuat arang membantu ayahnya. Di masa kejayaannya, satu dapur arang bisa menghasilkan hampir 30 ton arang yang dijual ke Singapura dengan mata uang dollar Singapura. 

Selain di Dapur 12, keluarga Samyong juga memiliki dapur arang di Seijodoh dan menjadi satu-satunya usaha dapur arang di lokasi tersebut. Kala itu, masyarakat melayu di Seijodoh masih bekerja sebagai nelayan dan sebagian berkebun. 

Usaha dapur arang juga ditemukan di hampir semua pesisir Batam dan muara sungai seperti Seijodoh, Duriangkang, Dapur 12, Sungai Buluh dan tempat lainnya. Selain dekat dengan bahan utama yakni kayu bakau, pemilihan lokasi di muara sungai dan pesisir adalah untuk memudahkan mengirim arang dengan perahu ke Singpaura. 

Kala itu banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari dapur arang. Namun sekitar tahun 1980 usaha dapur arang tersebut sudah tidak bisa bertahan, karena bahan yang digunakan sudah mulai menipis. 

Mulai berkurangnya bahan yang akan diproduksi dapur arang tidak bisa semua digunakan hanya beberapa dapur yang bisa digunakan. Seiring berjalannya waktu bisnis dapur arang sudah tidak bisa beroperasi karena bahan sudah tidak ada dan Batam sudah dibangun oleh pemerintah pusat. 

Saat ini usaha dapur arang tersebut hanya tinggal kenangan dan tidak adalagi aktivitas pembakaran arang. Bahkan dapurnya pun sudah lapuk dimakan usia karena tidak pernah digunakan. Untuk mengenang sejarah maka tetua Kampung Tanjung Atok Itam sepakat memberi nama kampung mereka menjadi Kampung Tua Dapur 12.


Sumber :

https://regional.kompas.com/read/2021/02/21/09100081/cerita-kampung-dapur-12-di-kota-batam-dulu-jadi-pemasok-arang-untuk-warga?page=all#page2.

Friday, February 26, 2021

Batam Jadi Kota Paling Makmur

Kalahkan Medan, Batam Jadi Kota Paling Makmur di Region Sumatra   

Kota memang identik dengan kehidupan modern yang gemerlap. Akan tetapi, data kali ini mengajak Kawan GNFI melihat lebih dalam, seberapa makmur kota-kota di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatra. Caranya, kita lihat bagaimana kinerja PDRB per kapita mereka.

Dengan menggunakan harga berlaku, kita bisa melihat pergeseran-pergeseran yang terjadi dalam sektor ekonomi. Selain itu, bisa juga untuk melihat struktur ekonomi yang dimiliki oleh suatu kota, wilayah atau provinsi.

Bisa dikatakan bahwa PDRB adalah jumlah keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari semua kegiatan perekonomian di seluruh wilayah dalam periode tahun tertentu, yang pada umumnya dalam waktu satu tahun.

Biasanya data PDRB disajikan dalam bentuk per kapita, seperti halnya pendapatan. PDRB per kapita merupakan gambaran dan rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk selama satu tahun di suatu wilayah/daerah tertentu.

PDRB per kapita diperoleh dari hasil bagi antara total PDRB dengan jumlah penduduk suatu kota/provinsi. Data yang tersaji dalam bentuk ini merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu wilayah.


Pendapatan per kapita Batam Tertinggi di Sumatra

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 yang dirilis pada 2020, menempatkan Batam sebagai kota terkaya di wilayah Sumatra. PDRB per kapitanya menyentuh angka Rp119,33 juta/tahun atau hampir dua kali lipat dari PDRB per kapita Indonesia.

Batam merupakan markas dari beragam industri pengolahan berskala besar. Kemegahan kota ini juga tampak dari deretan gedung-gedung tinggi yang kian gemerlap. Dibanding kota lain di Sumatra, skyline Batam terlihat lebih menawan.

Posisi kedua diisi oleh Dumai, meskipun secara pamor tidak sekaliber Medan dan Palembang, tapi kota yang terletak di pesisir provinsi Riau ini termasuk salah satu kota paling tajir di Sumatra. Tercatat PDRB per kapita Dumai menyentuh angka Rp117,19 juta/tahun.

Dumai merupakan markas dari beragam perusahaan-perusahaan raksasa seperti Pertamina (kilang), Wilmar Group, Sinarmas Group, Asian Agri hingga Chevron.

Sementara Medan yang selalu digembor-gemborkan sebagai kota paling maju di region Sumatra hanya menempati posisi ketiga di bawah Batam dan Dumai. Pendapatan per kapitanya hanya senilai Rp105,91 juta/tahun.

Dua kota di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau lain menempel diposisi keempat dan kelima. Pekanbaru yang berstatus sebagai ibu kota Provinsi Riau berhasil mencatatkan nominal sebesar Rp104,17 juta tepat satu tingkat di atas Tanjung Pinang yang mencatatkan PDRB per kapita senilai Rp95,31 juta.


Berikut urutan kota-kota terkaya di Sumatra berdasarkan PDRB per kapita:

  1. Batam (Rp119,27 juta)
  2. Dumai (Rp117,19 juta)
  3. Medan (Rp105,91 juta)
  4. Pekanbaru (Rp104,17 juta)
  5. Tanjung Pinang (Rp95,31 juta)
  6. Palembang (Rp93,09 juta)
  7. Sungai Penuh (Rp82,36 juta)
  8. Banda Aceh (Rp68,87 juta)
  9. Bukittinggi (Rp66,52 juta)
  10. Padang (Rp65,58 juta)

Empat dari 10 kota terkaya di Sumatra berada di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau. Sementara kota-kota di Provinsi Bengkulu, Bangka Belitung dan Lampung tidak satupun masuk dalam daftar 10 kota terkaya di Sumatra.


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/02/25/kalahkan-medan-batam-jadi-kota-paling-makmur-di-region-sumatra

Saturday, January 16, 2021

Silicon Valley Indonesia

Mengintip "Silicon Valley Indonesia" di Batam

23 FEBRUARI 2020 

   


Batam adalah salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Riau. Batam merupakan sebuah pulau di antara 329 pulau yang terletak antara Selat Malaka dan Singapura yang secara keseluruhan membentuk wilayah Batam. Karena langkanya catatan tertulis dari pulau ini, maka hanya ada satu literatur yang menyebut nama Batam, yaitu Traktat London yang mengatur pembagian wilayah kekuasaan antara Belanda dan Inggris. Namun, menurut para pesiar dari China, pulau ini sudah dihuni sejak 231 M ketika Singapura masih disebut Pulau Ujung.

Pada tahun 1970-an Batam mulai dikembangkan sebagai basis logistik dan operasional untuk industri minyak dan gas bumi oleh Pertamina. Kemudian berdasarkan Kepres No. 41 tahun 1973, pembangunan Batam dipercayakan kepada lembaga pemerintah yang bernama Otorita Pengembangan Industri Pulau Batam atau sekarang dikenal dengan Badan Pengusahaan Batam (BP Batam). Dalam rangka melaksanakan visi dan misi untuk mengembangkan Batam, maka dibangun berbagai insfrastruktur modern yang berstandar internasional serta berbagai fasilitas lainnya, sehingga diharapkan mampu bersaing dengan kawasan serupa di Asia Pasifik.

Berbagai kemajuan telah banyak dicapai selama ini, seperti tersediannya berbagai lapangan usaha yang mampu menampung angkatan kerja yang berasal hampir dari seluruh daerah di tanah air. Kini, Batam yang telah berkembang pesat dengan jumlah penduduk hampir 1.3 juta jiwa, bahkan pasti tidak terbayangkan bahwa kota ini dahulu adalah rerawa-gugusan belukar, bahkan daerah hitam dengan penduduk hanya ribuan yang tinggal di pesisir pantai.

Pulau Batam secara geografis memiliki letak yang sangat strategis, berada di jalur lalu lintas perdagangan internasional Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan internasional tersibuk kedua setelah Selat Dover di Inggris.

Posisinya juga sangat strategis hanya 20 km atau 12,5 mil laut dari Singapura, dengan jarak tempuh hanya 45 menit melalui jalur laut, dengan aksesibilitas yang mudah ke negera lainnya di belahan dunia.

Pada 2009, Batam menjadi salah satu Zona Perdagangan Bebas di Indonesia. Pulau-pulau yang termasuk dalam zona ini adalah Batam, Bintan dan Karimun yang berada di salah satu rute pengiriman dunia antara Singapura dan Sumatera.

Sebagai Zona Perdagangan Bebas, pengusaha yang berinvestasi di Batam dibebaskan dari bea impor, pajak penjualan, PPN, pajak barang mewah, dan pajak saat memiliki insentif ekspor jika membuat produk langsung di Batam.

Sejak perekonomian global bergerak menuju digitalisasi, Batam sekarang memanfaatkan kekuatan dan keuntungan dari Zona Perdagangan Bebasnya yang sudah ada dengan mendigitaliasi industri-industri kuat yang ada di pulau ini, seperti pembangunan kapal serta minyak dan gas.

Batam yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau disinyalir menjadi kawasan yang paling strategis dalam mendukung pengembangan kawasan digital ekonomi di Indonesia. Pasalnya, lokasi Batam terletak tak jauh dari Singapura. Pertengahan tahun lalu, Sinar Mas Land berkomiten membangun ekosistem kota pintar berbasis teknologi di kota Nongsa, Batam. Proyek ini untuk mengembangkan “Jembatan Digital” yang menghubungkan Indonesia dan Singapura. Dalam proyek ini, Sinar Mas Land pun menggandeng Citra Mas Group untuk membangun Nongsa D-Town di jantung kota Batam sebagai destinasi generasi muda dalam membangun industri, kreativitas, dan konektivitas di bidang ekonomi digital.

Nongsa sendiri kini telah menjelma menjadi pusat digital di Batam. Terletak di kawasan ekonomi khusus dengan luas tak kurang dari 180 hektare, Nongsa Digital Park (NDP) baru 2 tahun beroperasi. NDP disiapkan menjadi sarana mengembangkan bisnis digital di Indonesia dan global. Kawasan terpadu ini selain mempekerjakan para kreator digital juga menyediakan fasilitas teknologi informasi mutakhir. Di antaranya jaringan optik berkecepatan tinggi dan pusat data yang dapat dijadikan server bagi perusahaan digital.


Kawasan Ekonomi Digital Nongsa

Kawasan NDP, kata Peters Vincent, Direktur NDP, tak ubahnya silicon valley-nya Indonesia yang berlokasi di Batam. Lokasinya di ujung timur Pulau Batam, yang hanya 35 menit ke Singapura dengan kapal ferry dan sekitar 10 kilomter dari Bandar Udara Internasional Hang Nadim. Sebutan silicon valley meniru kawasan tempat berkumpulnya perusahaan teknologi digital tingkat dunia di San Fransisco, Amerika Serikat. Perusahaan raksasa digital yang bercokol di sini seperti Google, Facebook, Youtube, Apple, Yahoo hingga HP. “Fasilitas NDP yang lengkap juga nyaman bagi technoprenuer,” kata Peters menambahkan.

Industri kreatif NDP bisa terbilang cepat meraih sukses di bidang digital. Ini terbukti dari sejumlah produk animasi yang mendapat pengakuan internasional. Di antaranya penghargaan AMI Award. Sedangkan film animasi yang digarap orderan dari perusahaan asing terus mengalir.

Beberapa film-film animasi yang digarap oleh para kreator di NDP. Ada Munki and Trunk, Sonic Boom, Vamparina, Zack and Quack, Shutterbug, Tatsumi, Octonauts, Peter Rabit, Garfield dan masih banyak lagi.

Pemerintah Indonesia dan Singapura juga sepakat untuk menindaklanjuti kerja sama terkait pengembangan Nongsa Digital Park guna memperkuat perekonomian kedua negara. Kedua negara sepakat untuk mengembangkan Nongsa Digital Park (NDP) di Batam. Kawasan ini akan menjadi basis bagi pelaku industri kreatif di bidang digital seperti pengembangan startup, web, aplikasi, program-program digital, film, dan animasi.


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/02/23/mengintip-silicon-valley-indonesia-di-batam

Related Posts