Pages

Sunday, August 2, 2015

Vihara Samudra Dharma

Destinasi Wisata Religi di Vihara Samudra Dharma Tiban

Sebagai salah satu destinasi wisata religi, Vihara Samudra Dharma (cui kao pe kong keng) Tiban Mentarau, Tiban terus berbenah. Saat ini, Vihara hadir dengan bangunan lebih luas dan bisa menampung ribuan umat. "Vihara samudra dharma kondisinya saat ini sudah banyak mengalami perubahan, dengan bangunan lebih luas sehingga umat yang datang berdoa bisa lebih nyaman," kata Ketua yayasan samudra dharma Tiban Mentarau, Hartoyo Aheng, Sabtu (23/7/2015).

Aheng menambahkan, awal berdirinya Vihara samudra dharma tahun 1990, dulunya hanya sebuah gubuk kecil yang berdindingkan papan. Gubuk ini dulunya bekar proses pembuatan dapur arang. Keberadaan vihara juga berawal dari warga keturunan yang datang dan berusaha ke Batam.

"Disini tempanya proses dapur arang waktu itu, banyak warga keturunan berusaha di Batam, sebagai bentuk rasa syukur bisa berusaha di Batam perantau bersama-sama mendirikan vihara ini," jelasnya

Seiring berjalan waktu, secara bersama warga keturunan yang telah sukses dalam berbagai usaha di Batam, bangunan vihara mendapat pemugaran. Awalnya bangunan tempat sembahyang pek kong utama mendapat perluasan

Secara perlahan bangunan utama selain Pek kong, juga terdapat bangunan vihara budha yang berdiri bersebelahan dengan bangunan pek kong, serta dibagian belakang terdapat patung Dewi kwan yin, vihara ini juga dilengkapi 12 simbol sio yang dibuat dalam bentuk patung.

"Bangunan vihara ini akan terus mendapat perbaikan termasuk akan dibuat gerbang utama dan akses jalan masuk yang lebih nyaman," katanya

Vihara samudra dharma berada di daerah Tiban mentarau, Tiban, berdiri diatas area seluas 2,1 hektar. Vihara ini berada di lokasi yang dipercaya memiliki view yang bagus untuk berdoa atau bersembahyang. berdiri diatas perbukitan yang didepannya berhadapan langsung dengan muara (air).

Seiring dengan berjalannya waktu, keberadaan vihara jadi lebih dibutuhkan bagi umat vihara yang bernaung dibawah Yayasan samudra dharma mentarau jadi tujuan destinasi wisata di sektor pariwisata.

Sebagai destinasi wisata religi, keberadaan pek kong juga menjadi warisan budaya, tidak sedikit wisman asal singapura yang berkunjung ke vihara samudra dharma saat datang ke Batam, termasuk warga lokal

"Setiap akhir pekan dan hari libur banyak wisatawan Singapura atau negara lainnya berkunjung ke sini, terkadang rombongan wisman datang menyempatkan diri melihat dan berdoa di sini," jelas Aheng.

Selain itu, Vihara yang baru saja memperingati hari ulang tahun ke 25 yang berlangsung pada 20-21 Juli 2015, juga akan digelar dengan khidmat, sebanyak 5.000 lebih umat datang silih berganti untuk bersembahyang dan bersilahturahmi

"Ramai yang datang waktu acara ulang tahun vihara, seperti lautan manusia saja," jelas Hasan Gozali ketua panitia HUT Vihara samudra dharma  

Kemeriahan acara ulang tahun juga dihadiri oleh wakil Gubernur Kepri Soerya Respationo, Anggota DPD RI Haripinto Tanuwijaya, anggota DPRD Kepri Asmin patros, anggota DPRD Batam Hendra Asman, Li Khai, Eddy Hussy ketua PSMTI Kepri, Randy Tan ketua PSMTI Batam, Kartono ketua perhimpunan inti kota Batam dan tokoh-tokoh tionghoa Batam dan Kepri.

Rangkaian acara syukuran perayaan hut pek kong diisi dengan kegiatan hiburan dan lelang amal, vihara ini diharapkan dikunjungi oleh banyak warga sekaligus menjadi pusat pendidikan bagi umat budha.


Sumber :
http://batam.tribunnews.com/2015/07/26/destinasi-wisata-religi-di-vihara-samudra-dharma-tiban

Wednesday, July 8, 2015

Perusahaan yang Hengkang dari Batam

Sejumlah Perusahaan Asing Hengkang dari Batam, Ada Apa?

Diam-diam, ada sejumlah perusahaan asing berkelas di Batam yang hengkang ke luar negeri. Para perusahaan tersebut tak tahan dengan adanya demo yang dilakukan serikat pekerja di Batam.
Perusahaan yang hengkang bahkan berskala multinasional, dan sudah punya nama yang besar. Statusnya di Indonesia adalah Penanaman Modal Asing (PMA).

Franky mendapatkan laporan dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepulauan Riau, terkait banyaknya aksi demo di kawasan free trade zone ini. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun sempat mengunjungi Batam dan mendengarkan langsung keluhan dari para pengusaha tersebut.

Demo yang dilakukan sudah cenderung anarkis, selain sweeping terjadi juga penyanderaan, mogok kerja, dan lainnya.

50.000 Pegawai Kena PHK

Demo pekerja yang berlangsung di Batam sudah terjadi dalam 3 tahun belakangan, membuat sejumlah perusahaan asing memutuskan hengkang. Alhasil, banyak pekerja yang terpaksa kini menganggur. Tahun lalu, 2014,  yang di-PHK itu minimum 50.000 orang sepanjang 2014 tahun.

Herannya, demo ini terus menerus dilakukan. Bahkan dia menduga ada sesuatu di balik demo yang terjadi.


2 Bulan Didemo Pekerja

"Gara-gara PHK, segala macam. Kalau yang namanya PHK itu kan bisa dibawa ke PHI (Pembinaan Hubungan Industrial) segala macam," kata Cahya, kala berbincang dengan detikFinance, Rabu (8/7/2015).

"Kadang PHK 5 orang, yang demonya itu ratusan orang dan berlangsung terus menerus. Kadang dari luar masuk, bukan pekerja 5 orang itu. Kan manajeman melakukan PHK karena ada alasannya. Sah-sah saja kalau saya lihat PHK itu," tuturnya. ‎

Selain itu, lanjut Cahya, beberapa pekerja pun melakukan demo karena menuntut tunjangan dan upah naik, seperti pada umumnya. Namun, demonstrasi yang dilakukan justru tak membuat suasana kerja menjadi baik. Bahkan ada salah satu kasus demo yang dilakukan tak berhenti.

"Demonya dua bulan ini. Ini yang mengkahwatirkan. Kita kan tahu aturannya, Apindo tahu mana yang normatif dan tidak normatif. Kami tidak mengerti, serikat pekerja itu menjadi-jadi," jelasnya.

Demonstrasi ini menurut Cahya sudah terjadi sejak 3 tahun belakangan ini. 


Ini Perusahaan yang Hengkang dari Batam Karena Demo Pekerja

Perusahaan-perusahaan asing berskala besar, satu persatu hengkang dari Batam, Kepulauan Riau. Sungguh sayang, karena perusahaan yang berstatus Penanaman Modal Asing (PMA) tersebut‎ sudah punya nama besar. Apa saja?

Perusahaan yang sudah hengkang adalah Siemens. Kini, perusahaan tersebut tak lagi mengoperasikan pabriknya di Batam. Kemudian ada Japan Servo, lalu Seagate, Xenon, Sun Creation Indonesia dan lain-lain. 

Penyebab perusahaan ini hengkang adalah karena tak kuat dengan demo buruh yang terjadi. Demo yang dilakukan pekerja dan serikat pekerja di Batam ini, sudah tergolong mengkhawatirkan, mengganggu lingkungan pekerjaan. Alhasil, perusahaan-perusahaan tersebut hengkang dari Indonesia. 

Yang saat ini masih didemo Phillips sudah dua bulan, yang masih didemo sampai sekarang Sanmina, Sanyo, Mcdermoot ada indikasi untuk relokasi pabrik keluar Batam.

Batam hingga saat ini belum bisa mengalahkan Singapura yang jauh lebih maju, meski jaraknya berdekatan. Entah mengapa, Batam selalu diganggu isu demo, yang membuat pertumbuhan industrinya lambat, dan sulit mengalahkan tetangganya Singapura.


Tanggapan Menteri

Aksi demonstrasi oleh para buruh di Batam, Kepulauan Riau membuat beberapa perusahaan asing memutuskan untuk hengkang. Di antaranya adalah Siemens, Seagate, Japan Servo dan beberapa perusahaan lainnya.

Menteri Perindustrian Saleh Husin menilai kondisi ini sebenarnya hanya akan merugikan para buruh sendiri. Sebab ketika perusahaan hengkang, maka buruh akan hilangnya kesempatan bekerja.

Menurutnya, dalam penanganan persoalan ini penting sekali komunikasi yang intensif dengan buruh. Termasuk jika yang dibahas adalah penetapan upah buruh.

Demonstrasi memang merupakan hak bagi para buruh. Tapi inti dari aktivitas tersebut adalah penyampaian aspirasi. Bila dengan komunikasi mampu menyampaikan aspirasi, tentu aksi yang merugikan banyak pihak tidak akan terjadi.

Hal ini bukan hanya sekedar persoalan penetapan upah dan jaminan oleh buruh terhadap perusahaan. Melainkan tarik menarik investor antar negara secara regional.

Perebutan investor antar negara adalah bagian dari kompetisi. Tentu banyak upaya yang dilakukan oleh pihak negara lain untuk menarik investor. Tak terkecuali memanfaatkan kekuatan buruh.

Dalam keyakinannya, Franky mengatakan investor yang hengkang dari Indonesia tidak akan jauh-jauh mencari lokasi baru. Karena pasar yang dituju tetaplah Asia Tenggara dan sekitarnya.


Sumber :
http://finance.detik.com/read/2015/07/08/114957/2963358/4/perusahaan-asing-hengkang-dari-batam-50000-pegawai-kena-phk
http://finance.detik.com/read/2015/07/08/152402/2963666/1036/2/siemens-hingga-seagate-hengkang-dari-batam-ini-kata-menperin
http://finance.detik.com/read/2015/07/08/080940/2963112/1036/ini-perusahaan-yang-hengkang-dari-batam-karena-demo-pekerja
http://finance.detik.com/read/2015/07/08/071641/2963085/1036/diam-diam-sejumlah-perusahaan-asing-hengkang-dari-batam-ada-apa
http://finance.detik.com/read/2015/07/08/083603/2963133/1036/perusahaan-pilih-cabut-dari-batam-karena-2-bulan-didemo-pekerja

Wednesday, June 10, 2015

Pekerja Galangan Kapal Menyusut

Dulu Pekerja Galangan Kapal 250.000 Orang, Sekarang hanya 30.000

Sekretaris Asosiasi Perusahaan Galangan Kapal Batam (Batam Shipyard and Offshore Association/BSOA), Hermanto mengatakan industri galangan kapal di Batam mulai menurun sejak lima tahun terakhir. Ia mengatakan penurunan itu ditandai dengan berkurangnya tenaga pekerja yang digunakan industri.

“Dulu, pekerja galangan kapal di Batam mencapai 250.000 orang, sekarang hanya 30.000 orang saja,” kata Hermanto.

Jumlah perusahaan yang masih aktif pun kini berkisar 20-30 perusahaan saja dari sekitar 110 perusahaan di masa keemasan industri shipyard Batam.

Salah satu industri galangan kapal terbesar di Batam, yaitu PT Nippon Steel & Sumikin Batam Offshore Service Tanjunguncang ikut merasakan lambatnya pertumbuhan galangan di Batam. Perusahaan asal Jepang ini kehilangan pesanan dan ribuan karyawan terpaksa diberhentikan sejak 31 Maret lalu.

Pantauan Batam Pos di lokasi, tak terlihat aktivitas di dalam perusahaan. Beberapa bahan utama pembuatan baja dan scrap sama sekali tak terlihat. Hanya dua orang satpam berjaga di pintu masuk perusahaan.

“Sudah tutup perusahaannya. Tidak ada yang tertinggal di sini, hanya sekuriti saja,” kata Suwarji, salah seorang satpam kepada Batam Pos, Kamis (16/4) siang.

Sepinya pesanan atau orderan di PT Nippon Steel sudah terjadi pada September 2014. Beberapa pekerja kontrak sudah mulai diberhentikan dan peralatan pengeboran minyak serta alat produksi konstruksi baja mulai dibawa dan dijual ke perusahaan lain.

“Sekarang masa pembersihan. Karena tidak ada lagi yang tersisa,” terangnya.

PT Nippon Steel & Sumikin Batam Offshore Service Tanjunguncang merupakan industri yang selalu mendapatkan orderan dari negara Australia, India, dan Amerika. Namun, belakangan ini negara-negara tersebut diperkirakan beralih ke perusahaan di Tiongkok karena pertimbangan insentif yang menggiurkan.

“Terakhir orderan di sini dari Australia pada Agustus 2014. Setelah itu tidak ada lagi,” paparnya.

Lemahnya pertumbuhan galangan kapal di Batam juga terlihat pada pembayaran gaji karyawan. Banyak karyawan yang berdemo akibat tidak mendapatkan haknya tersebut, bahkan beberapa karyawan di-PHK sepihak.

Sebelumnya, puluhan buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Logam Mesin dan Elektronik (Lemonik) menggelar aksi unjuk rasa di luar kawasan PT Batamec Industri, Tanjunguncang, Selasa (7/4) pagi. Mereka menuntut kejelasan dari pihak perusahaan PT Kim Huat atas PHK sepihak yang dilakukan kepada 15 pekerja.

Para buruh ini juga meminta gaji selama tiga bulan yang tak kunjung dibayar manajemen perusahaan. Padahal, sebelumnya buruh sudah melayangkan surat ke Disnaker, namun pihak manajemen tetap menolak memenuhi tuntutan buruh tersebut.


Sumber :
batampos.co.id
http://batampos.co.id/17-04-2015/dulu-pekerja-galangan-kapal-250-000-orang-sekarang-hanya-30-000/

Friday, June 5, 2015

Mudik dari Batam

Peristiwa mudik merupakan peristiwa yang mengasyikkan dan membanggakan bagi pekerja di Batam. Mengasyikkan karena akan bertemu dengan saudara di kampung dan membanggakan karena akan share kesuksesan setelah 1 tahun lamanya bekerja.

Mudik akan menjadi lancar jika moda transportasi cukup mumpuni. Lalu bagaimana kesiapan dari armada untuk mudik tersebut, berikut berita updatenya.


Antisipasi Mudik Lebaran, Lion Air Cadangkan Tiga Pesawat di Hang Nadim

Maskapai penerbangan Lion Air telah menyiagakan tiga pesawat cadangan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang pada musim mudik Lebaran di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam.
Selain untuk menangani penumpang dari dan menuju Bandara Hang Nadim, pesawat cadangan juga bisa digunakan untuk membantu operasional penerbangan di bandara-bandara sekitar Batam.

"Pihak Lion Air sudah menyampaikan hal itu. Pesawat cadangan yang siaga di Batam ini juga bisa diperbantukan jika terjadi lonjakan penumpang di bandara lain sekitar Batam," kata Suwarso, Kepala Bagian Umum Bandara Hang Nadim Batam.

Dijelaskan, Lion Air merupakan maskapai dengan jumlah penerbangan terbanyak di Bandara Hang Nadim. Lion Air melayani rute di regional Sumatera, seperti dari Batam menuju Medan, Padang, Pekanbaru, Jambi, dan Palembang. Sementara di luar wilayah Sumatera, Lion Air juga menerbangi Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Pontianak, dan Balikpapan.

Kendati demikian, pihak Lion Air memang belum mengajukan penambahan frekuensi penerbangan untuk musim mudik Lebaran. "Memang ada (pengajuan tambahan penerbangan). Namun, mereka sudah menyampaikan akan menyiagakan pesawat cadangan untuk memenuhi kebutuhan Lebaran," jelas Suwarso.

Saat ini, Lion telah menjadikan Bandara Hang Nadim Batam sebagai hub penerbangan antara wilayah di bagian timur dengan wilayah di bagian barat, terutama Sumatera, tanpa harus transit di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta yang sudah sangat padat. Selain itu, Lion Air juga memiliki fasilitas perawatan dan perbaikan pesawat (MRO) di Bandara Hang Nadim Batam.


Antisipasi Mudik Lebaran, PT Pelni Batam Tambah Jadwal Keberangkatan KM Kelud ke Belawan

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Cabang Batam menambah jadwal pelayaran rute Batam - Belawan melalui KM Kelud. Penambahan itu untuk mengantisipasi lonjakan penumpang pada periode mudik Lebaran 2015.
"Jadwal keberangkatan tujuan Batam ke Belawan, Sumatera Utara, akan ditambah dari hari biasanya. Setidaknya ada tiga jadwal keberangkatan sebelum Lebaran," ujar Abdullah N Tue, Kepala PT Pelni Cabang Batam, kepada BATAMTODAY.COM, Jumat (5/6/2015).

Penambahan jadwal pelayaran itu sudah disosialisasikan kepada masyarakat dengan memasang spanduk di beberapa titik, seperti di Pelabuhan Beton, Sekupang dan kantor Pelni. Tujuannya agar calon penumpang bisa membeli jauh-jauh hari.

"Kan lebih baik jauh-jauh hari sudah beli daripada membeli tiket pada hari-H. Siapa tahu tiket sudah habis untuk tujuan Batam-Belawan," ujar pria yang baru satu minggu menjabat sebagai kepala kantor cabang Batam itu.

Pasalnya, kata dia, sebanyak 30-40 persen tiket dari Batam ke Belawan pada hari tertentu atau tanggal 7, 12, dan 16 Juli 2015 sudah dibeli oleh calon penumpang. Sementara kapasitas penumpang KM Kelud maksimal hanya 1905 ditambah 30 persennya. Sehingga total sekitar 2.600 termasuk penumpang transit dari pemberangkatan sebelumnya.

"Kalau penjualan tiket pada jadwal tersebut sudah mencapai 2.600 lebih, otomatis penjualan atau pencetakan tiket Pelni akan dihentikan," terangnya.



Sumber :
http://bpbatam.batamtoday.com/detil_berita.php?id=57772
http://www.batamtoday.com/berita57925-Antisipasi-Mudik-Lebaran,-PT-Pelni-Batam-Tambah-Jadwal-Keberangkatan-KM-Kelud-ke-Belawan.html

Tuesday, May 5, 2015

Rumah Liar (Ruli)

Ruli, Gusur Satu Tumbuh Seribu

Di sebuah warung di Kampung Nanas, Batam Kota, pembicaraan tentang rumah liar itu mengalun pelan. Yanti, pemilik warung, sudah bermukim di kampung itu sejak tahun 2004.

Kampung Nanas adalah salah satu permukiman liar yang cukup padat di Kota Batam. Di sana, keluarga kecil Yanti menempati sebuah petak milik kawan suaminya.

Pada 2008, Yanti dan suami sempat meninggalkan Kampung Nanas dan pulang kampung ke Padang. Mereka kembali lagi 1,5 tahun kemudian.

”(Saat balik ke Kampung Nanas) rumah itu sudah tidak ada. Kata orang-orang, kena badai,” ujar Yanti.

Yanti dan suaminya lantas datang ke seorang tua di sana. Namanya Pak Kopong. Mereka meminta sebuah lahan untuk bermukim. Pak Kopong menunjuk tanah yang hingga kini ia tempati bersama suami dan tiga anaknya itu.

Waktu itu, Yanti hanya membayar Rp 200 ribu. Itu upah tebas saja. Bangunan rumah tidak termasuk di dalamnya. Rumahnya menempati sebuah lahan kecil seluas seperempat lapangan bulu tangkis.

Ia membagi-baginya hingga menjadi empat ruangan.

Satu ruangan difungsikan sebagai warung. Satu ruangan untuk kamar tidur anak. Satu ruangan untuk kamar tidurnya dan suami. Satu lagi untuk dapur.

Dindingnya triplek saja. Atapnya seng. Kalau cuaca panas, gerahnya bukan main. Kalau hujan, air menetes di sana-sini.

”Seng sekarang kualitasnya nggak bagus. Harganya mahal, dipakai satu bulan sudah bocor,” katanya.

Meski begitu, ia bersyukur masih punya tempat tinggal. Ia tidak mungkin merepotkan kerabat-kerabatnya. Katanya, tidak banyak kerabatnya yang tahu ia tinggal di rumah liar.

Kalau tahu, kerabatnya pasti datang untuk mengentaskannya. Tapi, ”Tak enak. Sudah berkeluarga masa masih merepotkan saudara-saudara,” katanya.

Yanti tahu, tanah yang ia tinggali itu tanah ilegal. Suatu saat ia harus meninggalkannya dan pindah ke tempat lain. Se-Kampung Nanas juga sudah mengetahui kondisi itu.

Sudah ada persiapan?

Perempuan 32 tahun itu menggeleng sambil tertawa. Pendapatannya tak cukup untuk membeli kavling, seperti yang dilakukan para tetangganya. Ia lebih baik menggunakan uangnya untuk biaya sekolah anak-anaknya.

Ia memiliki tiga anak. Anak pertama kelas V SD. Anak kedua sekolah di PAUD. Dan yang terakhir baru lima bulan.

”Tahun ini, yang kedua mau masuk SD. Besoknya, yang pertama masuk SMP,” katanya.

Yanti sangat berharap pada lahan ganti-rugi. Setidaknya, sepetak kavling dan uang paku. Supaya ia bisa membangun rumah lagi di kavling yang baru nanti.

Sebagian besar tetangga di sana telah memiliki kavling. Dulu sempat ada orang yang datang dan menjajakan kavling-kavling di daerah Tiban. Mereka menjualnya dengan harga Rp 5 juta hingga Rp 6 juta per petak.

Yanti tak mungkin membelinya. Sementara Desi, istri Ketua RT 02 RW 09 di sana, sebenarnya bisa membelinya. Tapi ia urung membeli. ”Tak terpikir harganya akan semahal sekarang,” katanya.

Sekarang, harga kavling di wilayah Bengkong sudah sampai angka Rp 30 juta. Yang paling murah ada di wilayah Punggur. Harganya masih belasan juta rupiah. Paling mahal Rp 15 juta.

Sudah terlambat untuk membeli kavling. Desi dan suaminya, Syukur, hanya menunggu penggusuran saja. Supaya mendapat ganti kaveling.

Syukur tak sanggup jika harus membeli kavling itu. Ia masih harus membiayai dua anak yang hidup terpisah dengannya. Satu di Padang, satu di Tanjungpinang.

Sementara ia dan istrinya tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia tenaga lepas untuk proyek-proyek pembangunan gedung dan perumahan. Dan istrinya bekerja sebagai guru di PAUD Negeri di kawasan itu. ”Ia jadi guru karena ia istri RT. Tapi ya itu, gajinya tidak terlalu besar,” kata Syukur.

Pria yang sudah tujuh tahun menjabat sebagai Ketua RT itu yakin, penggusuran itu pasti akan berbalas lahan pengganti. Karena begitulah yang terjadi sebelum-sebelumnya.

Dulu, ketika sebagian lahan Kampung Nanas digusur, para penduduknya mendapat lahan pengganti di daerah Tiban. Namun, tersisa 28 rumah yang belum diganti rugi.

Proses ganti rugi 28 rumah itu agak sulit. Proses negosiasi ganti rugi tak kunjung membuahkan kata sepakat. Terakhir, pihak perusahaan meminta salinan KTP dari kepala keluarga ke-28 rumah itu.

”Kami tidak kasih. Nanti dikiranya kami sudah setuju. Padahal kan belum,” katanya.

Sementara Desi – istrinya, percaya, tidak akan ada penggusuran lahan dalam beberapa pekan ini. Bahkan sampai akhir tahun nanti. Ini tahun politik. Siapa yang mau kehilangan banyak suara di sini.

”Kami semua punya KTP. Kami ini pemilih aktif,” ujar perempuan itu sambil mengangkat lagi teleponnya.

Sadar tinggal di lahan ilegal dan suatu saat pasti akan digusur juga diungkapkan warga permukiman liar Baloi Kebun. Abas, tokoh masyarakat di Baloi Kebun, selalu menggaungkan pemahaman itu kepada seluruh penghuni rumah liar. Terlebih bagi para calon penghuni.

”Makanya, kami membuat kesepakatan permintaan kami ini apa saja. Supaya ketika digusur nanti, kompak,” katanya, Kamis (9/4).

Yang mereka yakini, penggusuran pasti akan diiringi dengan pemberian ganti rugi. Seluruh penghuni rumah liar Baloi Kebun sepakat tidak ingin rumahnya diganti dengan uang. Melainkan lahan.

Sebab, uang bisa habis dalam hitungan detik.

”Kalau dikasih Rp 10 juta, dibawa ke mal, langsung habis,” kata Sri, warga Ruli Baloi Kebun.

Abas, pria yang sudah mendiami wilayah tersebut sejak tahun 1983, bahkan merasa perlu ada penggantian biaya material bangunan. Pasalnya, harga material kini semakin tinggi.

”Kalau hanya diberi lahan saja, bagaimana membangunnya?” ujarnya.

Sudah lebih dari sepuluh pemodal yang datang ke rumah liar Baloi Kebun. Mencoba berbincang dengan warga. Namun, selalu mentok. Ganti rugi yang mereka tawarkan tak cocok.

Tanah Baloi Kebun itu termasuk luas. Wilayahnya dimulai dari samping Kantor Kelurahan Baloi hingga samping bangunan Imperium lama. Keuntungan wilayah itu adalah berada di tepi jalan raya.

Namun, ada satu kerugiannya. Kawasan itu berada tepat di bawah tower. Setidaknya, pemodal harus merelakan satu hektare tanah di bawah tower untuk tidak dibangun apa-apa.

”Pertimbangan mereka ada di situlah. Padahal, kalau saya diami sekarang juga tidak ada masalah apa-apa,” ujarnya.

Kendati masih berharap ganti rugi jika digusur, sesungguhnya, sebagian penghuni rumah liar sudah punya rmah pribadi di perumahan yang legal.

Abas, umpamanya, sudah memiliki sebuah rumah di satu perumahan di Batamkota. Rumah itu kini ia kontrakkan. Suatu saat digusur, ia akan langsung pergi ke rumah tersebut. Dan menetap di sana.

”Kalau setelah digusur baru membangun, keluarga mau tinggal di mana?” ujarnya.

Hal yang sama juga dilakukan Sri. Warga yang sudah menetap sejak tahun 2000 di Ruli Baloi Kebun itu sudah membangun rumah di wilayah kaveling Tiban. Rumah itu bahkan sudah sempat ia tempati selama dua tahun.

Namun, ia kembali lagi ke rumah liar. Alasannya, suasana di kavling berbeda dengan di rumah liar. Ia rindu suasana keakraban di rumah liar. ”Kalau di kaveling atau perumahan itu orangnya di rumah semua. Sendiri-sendiri semua,” katanya.

Rumah itu sudah ia bangun sejak adanya isu penggusuran. Namun, nyatanya, rumah liar Baloi Kebun itu tak jadi digusur.

Rumah itu akan ia tempati ketika ia benar-benar digusur. Namun, jika ia mendapatkan ganti rugi berupa lahan, ia akan membangun rumah lagi di atas lahan tersebut.

”Saya harap bisa sekampung lagi dengan orang-orang sini,” ujarnya.

Niko, warga rumah liar Baloi Kolam, juga sudah punya rumah pribadi di sebuah perumahan di Batuaji. Rumah itu kini ia kontrakkan. ”Lebih baik di sinilah. Kan tidak bayar. Rumah yang di Batuaji disewakan, tambah-tambah penghasilan,” katanya.

Niko mengatakan, dengan tinggal di rumah liar ia bisa mendapatkan penghasilan Rp 1 juta sebulan dari menyewakan rumahnya. Tinggal di rumah liar, menurutnya, tidak terlalu ribet.

”Di sini ada air dan listrik juga. Lagian masih lamalah penggusuran,” katanya.

Selain memiliki rumah di Batuaji, pria beranak lima ini juga memiliki dua kaveling di daerah Punggur. Kaveling ini sudah lama ia miliki. Ia dapat dari pemberian Badan Pengusahaan (BP) Batam.

”Kalau itu sudah lama. Itu investasi, biar saja di situ,” katanya.


Sumber :
http://batampos.co.id/05-05-2015/ruli-gusur-satu-tumbuh-seribu/

Sunday, April 19, 2015

Jembatan Barelang

SEJARAH SINGKAT JEMBATAN BARELANG

Kuatnya keinginan investor untuk investasi ke Pulau Batam mencapai puncaknya pada akhir 1991. Kala itu pengajuan permohonan investasi baru hanya dapat dipenuhi sekitar 8% dari 1.500 perusahaan yang sedang menunggu di pintu masuk. Fenomena ini membuktikan teori balon yang dicetuskan oleh BJ Habibie selaku aktor utama pengembangan kawasan industri Pulau Batam. Batam yang dianalogikan seperti balon mulai kepenuhan, sehingga pemerintah perlu bersiap-siap untuk meniup balon berikutnya.

Ir. Gunawan Hadisusilo yang kala itu menjabat sebagai Asisten 1 Bidang Umum Ketua otorita Batam dan beberapa staf lainnya, Bj Habibie berkeliling menelusuri gugusan Kepulauan Batam, Rempang dan Galang (Barelang) dengan menggunakan helikopter. Dengan telunjuknya, Habibie menarik garis untuk menghubungkan pulau Batam hingga ke pulau Galang Baru ke arah Selatan. Ide untuk membuat jembatan penghubung plus jalan trans Trans Barelang kemudian tercetus. Ir Gunawan yang ditunjuk sebagai ketua tim pembangunan jembatan Barelang segera menerjemahkan konsep Bj Habibie dengan menyusun desain dan kerangka teknisnya.


Sebagai tindak lanjut pengembangan lingkungan kerja Daerah Industri Pulau Batam ke wilayah Rempang dan Galang, maka dibentuklah tim kerja. Yaitu pembuatan detail jalan dan jembatan ditunjuk tim LAPl-ITB sementara untuk pembuatan Master Plan Barelang ditunjuk tim LEMTEK-UI, dan untuk evaluasi dampak sosial dilakukan oleh Universitas Gajah Mada (UGM). Proyek pembuatan enam jembatan antarpulau yang dibidani oleh Ir Gunawan ini merupakan proyek jembatan pertama kali yang dilaksanakan di Indonesia, khususnya dalam hal teknologi, apalagi mulai dari desain, pelaksanaan dan pengawasan dilaksanakan oleh putera-puteri Indonesia dengan menelan biaya lebih dari Rp 400 miliar. Biaya yang dihabiskan ini tampaknya sangat sebanding jika dilihat dari kemegahan jembatan kokoh ini.

Keenam jembatan ini dimulai pembangunannya pada oktober 1993 dan selesai secara bertahap pada tahun 1996 hingga 1998.
Ir. Gunawan sebagai salah satu arsiteknya, telah membuktikan kemampuannya dalam me manage pengerjaan jembatan ini hingga rampung. Jembatan Barelang kini menjadi ikon dan landmark Pulau Batam, namun nama Ir Gunawan hanya terdengar lamat-lamat, nyaris tak tersebut apalagi diabadikan Lokasi Jembatan Barelang terletak sekitar 20 kilometer dari pusat kota Batam, provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.

Jembatan Barelang terdiri dari enam buah jembatan yang menghubungkan tiga pulau besar dan beberapa pulau kecil yang termasuk dalam provinsi Kepulauan Riau. Nama Barelang sendiri merupakan kepanjangan dari Batam-Rempang-Galang. Batam-Rempang-Galang adalah nama tiga buah pulau besar yang dihubungkan oleh jembatan ini.

Jembatan dengan total panjang 2.264 meter ini terdiri dari rangkaian enam jembatan yang masing-masing diberi nama raja yang pernah berkuasa pada zaman Kerajaan Melayu Riau pada abad 15-18 Masehi.

1. Jembatan Barelang 1/ Jembatan Tengku Fisabilillah. 
Jembatan berjenis Cable Stayed ini adalah jembatan yang paling dikenal oleh masyarakat. Jembatan ini menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton dan memiliki panjang 642 meter lebar 21,5 meter dan tinggi 350 meter. Konon ada yang mengatakan bahwa struktur dan model jembatan ini mirip dengan golden gate-nya San Fransisco USA.. tampaknya benar sekali.

2. Jembatan Barelang 2/ Jembatan Narasinga.
Jembatan yang berjenis Concrete Box Girder ini menghubungkan Pulau Tonton dengan Pulau Nipah, berbentuk lurus tanpa lengkungan dan memiliki panjang 420 meter, lebar 15 meter dan tinggi. 160 meter Tidak kalah megahnya dengan Jembatan sebelumnya.

3. Jembatan Barelang 3/ Jembatan Ali Haji 
Jembatan yang berjenis Concrete Box Girder menghubungkan Pulau Nipah dengan Pulau Setokok dan memiliki panjang 270 meter, tinggi 45 meter, dan lebar 15 meter.

4. Jembatan Barelang 4/ Jembatan Sultan Zainal Abidin
Jembatan yang juga berjenis Concrete Box Girder ini menghubungkan Pulau Setokok dengan Pulau Rempang dan memiliki panjang lebar tinggi 365 x 18 x 145 meter.

5. Jembatan Barelang 5/ Jembatan Tuanku Tambusai 
Jembatan yang berjenis Pelengkung ini menghubungkan Pulau Rempang dengan Pulau Galang dan memiliki panjang tinggi lebar 385 x 245 x 31 meter.

6. Jembatan Barelang 5/ Jembatan 
Jembatan yang juga berjenis Concrete Box Girder ini menghubungkan Pulau Galang dengan Pulau Galang Baru dan memiliki panjang tinggi lebar 180 x 45 x 9,5 meter.
Jembatan keenam ini sangat dikenal karena nilai sejarah dari pulau yang dihubungkannya. Di Pulau Galang ini pernah dijadikan tempat penampungan sedikitnya 250.000 pengungsi dari Vietnam pada tahun 1975-1996. Kisah ini dimulai 19 Aprik 1975, saat pecah perang saudara di Vietnam. Perang yang berlangsung panjang pada akhirnya selalu menyebabkan kesengsaraan.

Masyarakat umum yang sering tidak mengerti apa-apa akhirnya yang selalu menjadi korban. Untuk menyelamatkan diri, daripada bertahan di Vietnam. Bekas tempat pengungsian yang berada di Desa Sijantung, Kecamatan Galang ini masih menyisakan benda-benda atau bangunan-bangunan peninggalan para pengungsi. Peninggalan yang kaya dengan nilai sejarah ini, tidak ada yang mau melewatkannya dan telah membuat takjub banyak orang. Semua benar-benar ada dan nyata di sini.

Pemerintah Kota Batam menjadikan Jembatan Barelang sebagai simbol kota dan juga ikon untuk program Visit Batam 2010. Tertarik ke pulau Batam, jangan lewatkan berkunjung ke “ikon”nya kota Batam.

Oleh masyarakat Batam, Jembatan Barelang ini tidak hanya difungsikan untuk menghubungkan beberapa pulau saja. Namun, jembatan ini juga digunakan untuk bersantai dan melepas lelah. Maka tak heran, jika pada akhir pekan ataupun hari libur, suasana ramai dapat ditemui di jembatan ini. Banyak orang yang duduk santai sambil menikmati pemandangan laut dari atas jembatan atau memancing ikan. Selain itu, jembatan ini juga turut menarik perhatian para wisatawan dari luar Batam, karena bentuknya yang megah, menyerupai Golden Gate, yang ada di San Francisco, Amerika Serikat.

Jembatan Tengku Raja Haji Fisabilillah merupakan jembatan yang paling terkenal dibanding lima jembatan lainnya, karena menggunakan konstruksi cable stayed. Kabel-kabel baja besar digunakan sebagai pengikat jembatan. Ujung-ujung kabel terikat di tepi jalan dengan jarak tertentu, lalu ujung lainnya terkumpul pada satu titik di atas puncak tonggak beton setinggi 200 m. Dari kejauhan, bentuk jembatan ini akan tampak seperti jaring raksasa berbentuk segitiga. Namun, ketika semakin mendekat, bentuk jembatan ini akan mengingatkan pengunjung pada Golden Gate. Berdiri di jembatan ini, dan menghadap ke arah jembatan kedua, pengunjung dapat melihat pemandangan yang indah: hamparan laut dan juga pulau-pulau kecil yang ada di sekitar kedua pulau ini.

Jika wisatawan ingin berfoto dengan latar belakang Golden Gate a la Batam, maka lanjutkanlah perjalanan ke Jembatan Narasinga. Karena dari sini merupakan tempat paling cocok untuk berfoto dengan latar belakang jembatan pertama tersebut. Selain itu, dari jembatan ini pula, pengunjung dapat melihat sebuah pulau yang sangat kecil tidak berpenghuni, dan hanya terdiri dari bebatuan yang mulai terkikis air laut.

Selain jembatan pertama, jembatan yang juga terkenal adalah jembatan keenam, Raja Kecil. Jembatan ini dikenal karena nilai sejarah dari pulau yang dihubungkannya. Di Pulau Galang ini pernah dijadikan tempat penampungan 250.000 pengungsi dari Vietnam, pada tahun 1975-1996. Bekas tempat pengungsian yang berada di Desa Sijantung, Kecamatan Galang ini, masih menyisakan benda-benda maupun bangunan-bangunan peninggalan para pengungsi, seperti, gereja, pagoda, vihara, kuburan massal, ataupun bekas perahu-perahu kayu. Jadi, setelah melewati keseluruhan rangkaian Jembatan Barelang ini, maka setiba di Pulau Galang, pengunjung dapat melihat sisa-sisa peninggalan bersejarah dari kamp pengungsian tersebut.

Jembatan Barelang terletak sekitar 20 km dari pusat Kota Batam. Agar dapat lebih menikmati perjalanan di jembatan ini, anda disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi. Namun, jika tidak memiliki kendaraan pribadi, Anda dapat menggunakan Metro Trans (angkutan umum di Kota Batam) dengan tarif antara Rp 3.000,00—Rp 5.000,00. Atau, pengunjung juga dapat menyewa taksi yang banyak melintas di sekitar jembatan. Biaya sewa taksi memang akan lebih mahal dari pada bus, namun pengunjung bisa lebih santai untuk menikmati perjalanan ini.

Untuk berjalan-jalan di sepanjang jembatan ini, pengunjung tidak dipungut biaya apapun. Di kedua ujung jembatan pertama terdapat banyak warung yang menyediakan aneka makanan dan minuman. Jadi, jika merasa lelah para pengunjung dapat beristirahat sejenak di warung-warung ini. Saat ini ada restaurant dan kelong yang menyediakan makanan laut (sea food).

Di akhir pekan ataupun hari-hari libur, di sepanjang jembatan ini akan banyak ditemui pedagang kaki lima yang menjajakan beragam jenis minuman dan makanan, seperti es kelapa muda, jagung bakar, dan peyek udang. Selain itu, ada juga penjual bensin eceran dan juga tukang tambal ban dadakan. Siapa tahu, dalam menyusuri jembatan, pengunjung kehabisan bensin.
Nah, bagi rekan-rekan yang berkunjung ke batam, jangan lupa utk mengunjungi tempat ini.


Sumber :
https://www.facebook.com/wajahbatamfanpage/videos/964802903538231/?fref=nf

Sunday, February 15, 2015

Hang Nadim, Bandara dengan Landasan Terpanjang di Indonesia


Bandara Hang Nadim adalah satu-satunya bandara internasional yang ada di Batam, Kepulauan Riau. Bandara ini mempunyai landasan pacu terpanjang di Indonesia lho!

Bandara Hang Nadim terletak di Batu Besar, Nongsa, Batam.

Landasannya terlihat luas dan panjang. Ternyata landasan pacu Bandara Hang Nadim merupakan yang terpanjang di Indonesia.

Panjangnya mencapai 4.025 meter. Sebagai perbandingan data yang dihimpun detikTravel, Bandara Kuala Lamu landasannya 3.750 meter, Bandara Soekarno-Hatta landasannya 3.660 meter dan Bandara Ngurah Rai landasannya 3.000 meter.

Keluar bandara, terlihat aneka sarana transportasi seperti taksi yang bisa Anda naiki. Tidak semua taksi memakai argo. Jadi, Anda harus bisa menawar harga agar tidak terkena biaya terlalu mahal. Saya pun kemudian melanjutkan perjalanan ke pusat Kota Batam.

Di lantai bawah ada toilet yang cukup bersih, tempat check in-nya juga tergolong nyaman. Di lantai 2 ada tempat untuk bersantai yaitu El John Executive Lounge.

Selain itu, di bandara ini juga terdapat kantor kesehatan, air keran siap minum dan deretan toko. Air keran siap minum ini berada di lantai 2 dekat ruang tunggu keberangkatan pesawat. Keran tersebut sudah ada sejak tahun 2009 lalu.

Tak jauh dari keran air ini tampak deretan toko-toko yang menjual makanan dan suvenir lokal serta impor. Barang yang dijual antara lain kaos, gantungan kunci, makanan khas Batam seperti kek pisang hingga yang impor seperti Kit-kat Green Tea dan Ovomaltine.


Sumber :
http://travel.detik.com/read/2015/02/15/163220/2833619/1519/2/hang-nadim-bandara-dengan-landasan-terpanjang-di-indonesia