Pages

Tuesday, May 5, 2015

Rumah Liar (Ruli)

Ruli, Gusur Satu Tumbuh Seribu

Di sebuah warung di Kampung Nanas, Batam Kota, pembicaraan tentang rumah liar itu mengalun pelan. Yanti, pemilik warung, sudah bermukim di kampung itu sejak tahun 2004.

Kampung Nanas adalah salah satu permukiman liar yang cukup padat di Kota Batam. Di sana, keluarga kecil Yanti menempati sebuah petak milik kawan suaminya.

Pada 2008, Yanti dan suami sempat meninggalkan Kampung Nanas dan pulang kampung ke Padang. Mereka kembali lagi 1,5 tahun kemudian.

”(Saat balik ke Kampung Nanas) rumah itu sudah tidak ada. Kata orang-orang, kena badai,” ujar Yanti.

Yanti dan suaminya lantas datang ke seorang tua di sana. Namanya Pak Kopong. Mereka meminta sebuah lahan untuk bermukim. Pak Kopong menunjuk tanah yang hingga kini ia tempati bersama suami dan tiga anaknya itu.

Waktu itu, Yanti hanya membayar Rp 200 ribu. Itu upah tebas saja. Bangunan rumah tidak termasuk di dalamnya. Rumahnya menempati sebuah lahan kecil seluas seperempat lapangan bulu tangkis.

Ia membagi-baginya hingga menjadi empat ruangan.

Satu ruangan difungsikan sebagai warung. Satu ruangan untuk kamar tidur anak. Satu ruangan untuk kamar tidurnya dan suami. Satu lagi untuk dapur.

Dindingnya triplek saja. Atapnya seng. Kalau cuaca panas, gerahnya bukan main. Kalau hujan, air menetes di sana-sini.

”Seng sekarang kualitasnya nggak bagus. Harganya mahal, dipakai satu bulan sudah bocor,” katanya.

Meski begitu, ia bersyukur masih punya tempat tinggal. Ia tidak mungkin merepotkan kerabat-kerabatnya. Katanya, tidak banyak kerabatnya yang tahu ia tinggal di rumah liar.

Kalau tahu, kerabatnya pasti datang untuk mengentaskannya. Tapi, ”Tak enak. Sudah berkeluarga masa masih merepotkan saudara-saudara,” katanya.

Yanti tahu, tanah yang ia tinggali itu tanah ilegal. Suatu saat ia harus meninggalkannya dan pindah ke tempat lain. Se-Kampung Nanas juga sudah mengetahui kondisi itu.

Sudah ada persiapan?

Perempuan 32 tahun itu menggeleng sambil tertawa. Pendapatannya tak cukup untuk membeli kavling, seperti yang dilakukan para tetangganya. Ia lebih baik menggunakan uangnya untuk biaya sekolah anak-anaknya.

Ia memiliki tiga anak. Anak pertama kelas V SD. Anak kedua sekolah di PAUD. Dan yang terakhir baru lima bulan.

”Tahun ini, yang kedua mau masuk SD. Besoknya, yang pertama masuk SMP,” katanya.

Yanti sangat berharap pada lahan ganti-rugi. Setidaknya, sepetak kavling dan uang paku. Supaya ia bisa membangun rumah lagi di kavling yang baru nanti.

Sebagian besar tetangga di sana telah memiliki kavling. Dulu sempat ada orang yang datang dan menjajakan kavling-kavling di daerah Tiban. Mereka menjualnya dengan harga Rp 5 juta hingga Rp 6 juta per petak.

Yanti tak mungkin membelinya. Sementara Desi, istri Ketua RT 02 RW 09 di sana, sebenarnya bisa membelinya. Tapi ia urung membeli. ”Tak terpikir harganya akan semahal sekarang,” katanya.

Sekarang, harga kavling di wilayah Bengkong sudah sampai angka Rp 30 juta. Yang paling murah ada di wilayah Punggur. Harganya masih belasan juta rupiah. Paling mahal Rp 15 juta.

Sudah terlambat untuk membeli kavling. Desi dan suaminya, Syukur, hanya menunggu penggusuran saja. Supaya mendapat ganti kaveling.

Syukur tak sanggup jika harus membeli kavling itu. Ia masih harus membiayai dua anak yang hidup terpisah dengannya. Satu di Padang, satu di Tanjungpinang.

Sementara ia dan istrinya tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia tenaga lepas untuk proyek-proyek pembangunan gedung dan perumahan. Dan istrinya bekerja sebagai guru di PAUD Negeri di kawasan itu. ”Ia jadi guru karena ia istri RT. Tapi ya itu, gajinya tidak terlalu besar,” kata Syukur.

Pria yang sudah tujuh tahun menjabat sebagai Ketua RT itu yakin, penggusuran itu pasti akan berbalas lahan pengganti. Karena begitulah yang terjadi sebelum-sebelumnya.

Dulu, ketika sebagian lahan Kampung Nanas digusur, para penduduknya mendapat lahan pengganti di daerah Tiban. Namun, tersisa 28 rumah yang belum diganti rugi.

Proses ganti rugi 28 rumah itu agak sulit. Proses negosiasi ganti rugi tak kunjung membuahkan kata sepakat. Terakhir, pihak perusahaan meminta salinan KTP dari kepala keluarga ke-28 rumah itu.

”Kami tidak kasih. Nanti dikiranya kami sudah setuju. Padahal kan belum,” katanya.

Sementara Desi – istrinya, percaya, tidak akan ada penggusuran lahan dalam beberapa pekan ini. Bahkan sampai akhir tahun nanti. Ini tahun politik. Siapa yang mau kehilangan banyak suara di sini.

”Kami semua punya KTP. Kami ini pemilih aktif,” ujar perempuan itu sambil mengangkat lagi teleponnya.

Sadar tinggal di lahan ilegal dan suatu saat pasti akan digusur juga diungkapkan warga permukiman liar Baloi Kebun. Abas, tokoh masyarakat di Baloi Kebun, selalu menggaungkan pemahaman itu kepada seluruh penghuni rumah liar. Terlebih bagi para calon penghuni.

”Makanya, kami membuat kesepakatan permintaan kami ini apa saja. Supaya ketika digusur nanti, kompak,” katanya, Kamis (9/4).

Yang mereka yakini, penggusuran pasti akan diiringi dengan pemberian ganti rugi. Seluruh penghuni rumah liar Baloi Kebun sepakat tidak ingin rumahnya diganti dengan uang. Melainkan lahan.

Sebab, uang bisa habis dalam hitungan detik.

”Kalau dikasih Rp 10 juta, dibawa ke mal, langsung habis,” kata Sri, warga Ruli Baloi Kebun.

Abas, pria yang sudah mendiami wilayah tersebut sejak tahun 1983, bahkan merasa perlu ada penggantian biaya material bangunan. Pasalnya, harga material kini semakin tinggi.

”Kalau hanya diberi lahan saja, bagaimana membangunnya?” ujarnya.

Sudah lebih dari sepuluh pemodal yang datang ke rumah liar Baloi Kebun. Mencoba berbincang dengan warga. Namun, selalu mentok. Ganti rugi yang mereka tawarkan tak cocok.

Tanah Baloi Kebun itu termasuk luas. Wilayahnya dimulai dari samping Kantor Kelurahan Baloi hingga samping bangunan Imperium lama. Keuntungan wilayah itu adalah berada di tepi jalan raya.

Namun, ada satu kerugiannya. Kawasan itu berada tepat di bawah tower. Setidaknya, pemodal harus merelakan satu hektare tanah di bawah tower untuk tidak dibangun apa-apa.

”Pertimbangan mereka ada di situlah. Padahal, kalau saya diami sekarang juga tidak ada masalah apa-apa,” ujarnya.

Kendati masih berharap ganti rugi jika digusur, sesungguhnya, sebagian penghuni rumah liar sudah punya rmah pribadi di perumahan yang legal.

Abas, umpamanya, sudah memiliki sebuah rumah di satu perumahan di Batamkota. Rumah itu kini ia kontrakkan. Suatu saat digusur, ia akan langsung pergi ke rumah tersebut. Dan menetap di sana.

”Kalau setelah digusur baru membangun, keluarga mau tinggal di mana?” ujarnya.

Hal yang sama juga dilakukan Sri. Warga yang sudah menetap sejak tahun 2000 di Ruli Baloi Kebun itu sudah membangun rumah di wilayah kaveling Tiban. Rumah itu bahkan sudah sempat ia tempati selama dua tahun.

Namun, ia kembali lagi ke rumah liar. Alasannya, suasana di kavling berbeda dengan di rumah liar. Ia rindu suasana keakraban di rumah liar. ”Kalau di kaveling atau perumahan itu orangnya di rumah semua. Sendiri-sendiri semua,” katanya.

Rumah itu sudah ia bangun sejak adanya isu penggusuran. Namun, nyatanya, rumah liar Baloi Kebun itu tak jadi digusur.

Rumah itu akan ia tempati ketika ia benar-benar digusur. Namun, jika ia mendapatkan ganti rugi berupa lahan, ia akan membangun rumah lagi di atas lahan tersebut.

”Saya harap bisa sekampung lagi dengan orang-orang sini,” ujarnya.

Niko, warga rumah liar Baloi Kolam, juga sudah punya rumah pribadi di sebuah perumahan di Batuaji. Rumah itu kini ia kontrakkan. ”Lebih baik di sinilah. Kan tidak bayar. Rumah yang di Batuaji disewakan, tambah-tambah penghasilan,” katanya.

Niko mengatakan, dengan tinggal di rumah liar ia bisa mendapatkan penghasilan Rp 1 juta sebulan dari menyewakan rumahnya. Tinggal di rumah liar, menurutnya, tidak terlalu ribet.

”Di sini ada air dan listrik juga. Lagian masih lamalah penggusuran,” katanya.

Selain memiliki rumah di Batuaji, pria beranak lima ini juga memiliki dua kaveling di daerah Punggur. Kaveling ini sudah lama ia miliki. Ia dapat dari pemberian Badan Pengusahaan (BP) Batam.

”Kalau itu sudah lama. Itu investasi, biar saja di situ,” katanya.


Sumber :
http://batampos.co.id/05-05-2015/ruli-gusur-satu-tumbuh-seribu/

Sunday, April 19, 2015

Jembatan Barelang

SEJARAH SINGKAT JEMBATAN BARELANG

Kuatnya keinginan investor untuk investasi ke Pulau Batam mencapai puncaknya pada akhir 1991. Kala itu pengajuan permohonan investasi baru hanya dapat dipenuhi sekitar 8% dari 1.500 perusahaan yang sedang menunggu di pintu masuk. Fenomena ini membuktikan teori balon yang dicetuskan oleh BJ Habibie selaku aktor utama pengembangan kawasan industri Pulau Batam. Batam yang dianalogikan seperti balon mulai kepenuhan, sehingga pemerintah perlu bersiap-siap untuk meniup balon berikutnya.

Ir. Gunawan Hadisusilo yang kala itu menjabat sebagai Asisten 1 Bidang Umum Ketua otorita Batam dan beberapa staf lainnya, Bj Habibie berkeliling menelusuri gugusan Kepulauan Batam, Rempang dan Galang (Barelang) dengan menggunakan helikopter. Dengan telunjuknya, Habibie menarik garis untuk menghubungkan pulau Batam hingga ke pulau Galang Baru ke arah Selatan. Ide untuk membuat jembatan penghubung plus jalan trans Trans Barelang kemudian tercetus. Ir Gunawan yang ditunjuk sebagai ketua tim pembangunan jembatan Barelang segera menerjemahkan konsep Bj Habibie dengan menyusun desain dan kerangka teknisnya.


Sebagai tindak lanjut pengembangan lingkungan kerja Daerah Industri Pulau Batam ke wilayah Rempang dan Galang, maka dibentuklah tim kerja. Yaitu pembuatan detail jalan dan jembatan ditunjuk tim LAPl-ITB sementara untuk pembuatan Master Plan Barelang ditunjuk tim LEMTEK-UI, dan untuk evaluasi dampak sosial dilakukan oleh Universitas Gajah Mada (UGM). Proyek pembuatan enam jembatan antarpulau yang dibidani oleh Ir Gunawan ini merupakan proyek jembatan pertama kali yang dilaksanakan di Indonesia, khususnya dalam hal teknologi, apalagi mulai dari desain, pelaksanaan dan pengawasan dilaksanakan oleh putera-puteri Indonesia dengan menelan biaya lebih dari Rp 400 miliar. Biaya yang dihabiskan ini tampaknya sangat sebanding jika dilihat dari kemegahan jembatan kokoh ini.

Keenam jembatan ini dimulai pembangunannya pada oktober 1993 dan selesai secara bertahap pada tahun 1996 hingga 1998.
Ir. Gunawan sebagai salah satu arsiteknya, telah membuktikan kemampuannya dalam me manage pengerjaan jembatan ini hingga rampung. Jembatan Barelang kini menjadi ikon dan landmark Pulau Batam, namun nama Ir Gunawan hanya terdengar lamat-lamat, nyaris tak tersebut apalagi diabadikan Lokasi Jembatan Barelang terletak sekitar 20 kilometer dari pusat kota Batam, provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.

Jembatan Barelang terdiri dari enam buah jembatan yang menghubungkan tiga pulau besar dan beberapa pulau kecil yang termasuk dalam provinsi Kepulauan Riau. Nama Barelang sendiri merupakan kepanjangan dari Batam-Rempang-Galang. Batam-Rempang-Galang adalah nama tiga buah pulau besar yang dihubungkan oleh jembatan ini.

Jembatan dengan total panjang 2.264 meter ini terdiri dari rangkaian enam jembatan yang masing-masing diberi nama raja yang pernah berkuasa pada zaman Kerajaan Melayu Riau pada abad 15-18 Masehi.

1. Jembatan Barelang 1/ Jembatan Tengku Fisabilillah. 
Jembatan berjenis Cable Stayed ini adalah jembatan yang paling dikenal oleh masyarakat. Jembatan ini menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton dan memiliki panjang 642 meter lebar 21,5 meter dan tinggi 350 meter. Konon ada yang mengatakan bahwa struktur dan model jembatan ini mirip dengan golden gate-nya San Fransisco USA.. tampaknya benar sekali.

2. Jembatan Barelang 2/ Jembatan Narasinga.
Jembatan yang berjenis Concrete Box Girder ini menghubungkan Pulau Tonton dengan Pulau Nipah, berbentuk lurus tanpa lengkungan dan memiliki panjang 420 meter, lebar 15 meter dan tinggi. 160 meter Tidak kalah megahnya dengan Jembatan sebelumnya.

3. Jembatan Barelang 3/ Jembatan Ali Haji 
Jembatan yang berjenis Concrete Box Girder menghubungkan Pulau Nipah dengan Pulau Setokok dan memiliki panjang 270 meter, tinggi 45 meter, dan lebar 15 meter.

4. Jembatan Barelang 4/ Jembatan Sultan Zainal Abidin
Jembatan yang juga berjenis Concrete Box Girder ini menghubungkan Pulau Setokok dengan Pulau Rempang dan memiliki panjang lebar tinggi 365 x 18 x 145 meter.

5. Jembatan Barelang 5/ Jembatan Tuanku Tambusai 
Jembatan yang berjenis Pelengkung ini menghubungkan Pulau Rempang dengan Pulau Galang dan memiliki panjang tinggi lebar 385 x 245 x 31 meter.

6. Jembatan Barelang 5/ Jembatan 
Jembatan yang juga berjenis Concrete Box Girder ini menghubungkan Pulau Galang dengan Pulau Galang Baru dan memiliki panjang tinggi lebar 180 x 45 x 9,5 meter.
Jembatan keenam ini sangat dikenal karena nilai sejarah dari pulau yang dihubungkannya. Di Pulau Galang ini pernah dijadikan tempat penampungan sedikitnya 250.000 pengungsi dari Vietnam pada tahun 1975-1996. Kisah ini dimulai 19 Aprik 1975, saat pecah perang saudara di Vietnam. Perang yang berlangsung panjang pada akhirnya selalu menyebabkan kesengsaraan.

Masyarakat umum yang sering tidak mengerti apa-apa akhirnya yang selalu menjadi korban. Untuk menyelamatkan diri, daripada bertahan di Vietnam. Bekas tempat pengungsian yang berada di Desa Sijantung, Kecamatan Galang ini masih menyisakan benda-benda atau bangunan-bangunan peninggalan para pengungsi. Peninggalan yang kaya dengan nilai sejarah ini, tidak ada yang mau melewatkannya dan telah membuat takjub banyak orang. Semua benar-benar ada dan nyata di sini.

Pemerintah Kota Batam menjadikan Jembatan Barelang sebagai simbol kota dan juga ikon untuk program Visit Batam 2010. Tertarik ke pulau Batam, jangan lewatkan berkunjung ke “ikon”nya kota Batam.

Oleh masyarakat Batam, Jembatan Barelang ini tidak hanya difungsikan untuk menghubungkan beberapa pulau saja. Namun, jembatan ini juga digunakan untuk bersantai dan melepas lelah. Maka tak heran, jika pada akhir pekan ataupun hari libur, suasana ramai dapat ditemui di jembatan ini. Banyak orang yang duduk santai sambil menikmati pemandangan laut dari atas jembatan atau memancing ikan. Selain itu, jembatan ini juga turut menarik perhatian para wisatawan dari luar Batam, karena bentuknya yang megah, menyerupai Golden Gate, yang ada di San Francisco, Amerika Serikat.

Jembatan Tengku Raja Haji Fisabilillah merupakan jembatan yang paling terkenal dibanding lima jembatan lainnya, karena menggunakan konstruksi cable stayed. Kabel-kabel baja besar digunakan sebagai pengikat jembatan. Ujung-ujung kabel terikat di tepi jalan dengan jarak tertentu, lalu ujung lainnya terkumpul pada satu titik di atas puncak tonggak beton setinggi 200 m. Dari kejauhan, bentuk jembatan ini akan tampak seperti jaring raksasa berbentuk segitiga. Namun, ketika semakin mendekat, bentuk jembatan ini akan mengingatkan pengunjung pada Golden Gate. Berdiri di jembatan ini, dan menghadap ke arah jembatan kedua, pengunjung dapat melihat pemandangan yang indah: hamparan laut dan juga pulau-pulau kecil yang ada di sekitar kedua pulau ini.

Jika wisatawan ingin berfoto dengan latar belakang Golden Gate a la Batam, maka lanjutkanlah perjalanan ke Jembatan Narasinga. Karena dari sini merupakan tempat paling cocok untuk berfoto dengan latar belakang jembatan pertama tersebut. Selain itu, dari jembatan ini pula, pengunjung dapat melihat sebuah pulau yang sangat kecil tidak berpenghuni, dan hanya terdiri dari bebatuan yang mulai terkikis air laut.

Selain jembatan pertama, jembatan yang juga terkenal adalah jembatan keenam, Raja Kecil. Jembatan ini dikenal karena nilai sejarah dari pulau yang dihubungkannya. Di Pulau Galang ini pernah dijadikan tempat penampungan 250.000 pengungsi dari Vietnam, pada tahun 1975-1996. Bekas tempat pengungsian yang berada di Desa Sijantung, Kecamatan Galang ini, masih menyisakan benda-benda maupun bangunan-bangunan peninggalan para pengungsi, seperti, gereja, pagoda, vihara, kuburan massal, ataupun bekas perahu-perahu kayu. Jadi, setelah melewati keseluruhan rangkaian Jembatan Barelang ini, maka setiba di Pulau Galang, pengunjung dapat melihat sisa-sisa peninggalan bersejarah dari kamp pengungsian tersebut.

Jembatan Barelang terletak sekitar 20 km dari pusat Kota Batam. Agar dapat lebih menikmati perjalanan di jembatan ini, anda disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi. Namun, jika tidak memiliki kendaraan pribadi, Anda dapat menggunakan Metro Trans (angkutan umum di Kota Batam) dengan tarif antara Rp 3.000,00—Rp 5.000,00. Atau, pengunjung juga dapat menyewa taksi yang banyak melintas di sekitar jembatan. Biaya sewa taksi memang akan lebih mahal dari pada bus, namun pengunjung bisa lebih santai untuk menikmati perjalanan ini.

Untuk berjalan-jalan di sepanjang jembatan ini, pengunjung tidak dipungut biaya apapun. Di kedua ujung jembatan pertama terdapat banyak warung yang menyediakan aneka makanan dan minuman. Jadi, jika merasa lelah para pengunjung dapat beristirahat sejenak di warung-warung ini. Saat ini ada restaurant dan kelong yang menyediakan makanan laut (sea food).

Di akhir pekan ataupun hari-hari libur, di sepanjang jembatan ini akan banyak ditemui pedagang kaki lima yang menjajakan beragam jenis minuman dan makanan, seperti es kelapa muda, jagung bakar, dan peyek udang. Selain itu, ada juga penjual bensin eceran dan juga tukang tambal ban dadakan. Siapa tahu, dalam menyusuri jembatan, pengunjung kehabisan bensin.
Nah, bagi rekan-rekan yang berkunjung ke batam, jangan lupa utk mengunjungi tempat ini.


Sumber :
https://www.facebook.com/wajahbatamfanpage/videos/964802903538231/?fref=nf

Sunday, February 15, 2015

Hang Nadim, Bandara dengan Landasan Terpanjang di Indonesia


Bandara Hang Nadim adalah satu-satunya bandara internasional yang ada di Batam, Kepulauan Riau. Bandara ini mempunyai landasan pacu terpanjang di Indonesia lho!

Bandara Hang Nadim terletak di Batu Besar, Nongsa, Batam.

Landasannya terlihat luas dan panjang. Ternyata landasan pacu Bandara Hang Nadim merupakan yang terpanjang di Indonesia.

Panjangnya mencapai 4.025 meter. Sebagai perbandingan data yang dihimpun detikTravel, Bandara Kuala Lamu landasannya 3.750 meter, Bandara Soekarno-Hatta landasannya 3.660 meter dan Bandara Ngurah Rai landasannya 3.000 meter.

Keluar bandara, terlihat aneka sarana transportasi seperti taksi yang bisa Anda naiki. Tidak semua taksi memakai argo. Jadi, Anda harus bisa menawar harga agar tidak terkena biaya terlalu mahal. Saya pun kemudian melanjutkan perjalanan ke pusat Kota Batam.

Di lantai bawah ada toilet yang cukup bersih, tempat check in-nya juga tergolong nyaman. Di lantai 2 ada tempat untuk bersantai yaitu El John Executive Lounge.

Selain itu, di bandara ini juga terdapat kantor kesehatan, air keran siap minum dan deretan toko. Air keran siap minum ini berada di lantai 2 dekat ruang tunggu keberangkatan pesawat. Keran tersebut sudah ada sejak tahun 2009 lalu.

Tak jauh dari keran air ini tampak deretan toko-toko yang menjual makanan dan suvenir lokal serta impor. Barang yang dijual antara lain kaos, gantungan kunci, makanan khas Batam seperti kek pisang hingga yang impor seperti Kit-kat Green Tea dan Ovomaltine.


Sumber :
http://travel.detik.com/read/2015/02/15/163220/2833619/1519/2/hang-nadim-bandara-dengan-landasan-terpanjang-di-indonesia

Thursday, January 8, 2015

Funtasy Island

Taman Rekreasi Bertema Alam Terbesar di Dunia Ada di Indonesia



Eco-theme park atau taman rekreasi bertemakan alam terbesar di dunia tengah digarap di Indonesia tepatnya berada di Batam, Kepulauan Riau. Taman rekreasi ini nantinya akan membawa wisatawan yang berkunjung kedalam dunia planet Avatar seperti di film itu lho.

Proyek ambisius yang sedang dikerjakan perusahaan patungan antara Indonesia dan Singapura yaitu PT Batam Island Marina dan Funtasy Island Development (FID) Pte Ltd ini bernama Funtasy Island dimana dalam pengelolaannya kelak bekerjasama dengan Seven Seas Funtasy Venture Pte Ltd yang bertindak sebagai pengelola taman rekreasi.

Menilik dari situs resminya Funtasy Island, Eco-theme park di Batam ini akan menggunakan lahan seluas 328 hektar. Di dalam lahan tersebut akan dibangun berbagai fasilitas seperti Avatar Habitat, Rainforest Paradise, Samia Adventure, Mangrove Safari Ride, Riau Jungle Explorer, Aqua Adventure, Dolphin Discovery Habitat, dan Deep Ocean Wonder.

Pengembang memilih Kepulauan Riau sebagai lokasi pembangunan Eco-theme park karena memiliki lanskap yang masih alami dengan pantai yang cantik, hutan hujan yang masih terjaga serta budaya asli yang menarik sehingga sangat pas untuk dijadikan lokasi pembangunan taman rekreasi bertema alam.

Pembangunan Eco-theme park telah dimulai sejak tahun 2014 dan rencananya akan mulai dioperasikan pada akhir 2015. Funtasy Island yang terletak 16 Km selatan Singapura, dan 6 km timur Batam ini rencananya akan bisa diakses dengan cara naik kapal pesiar mewah selama 20 menit dari Harbourfront ferry terminal di Singapura.

Di lokasi ini nantinya traveler bisa melakukan berbagai kegiatan menyenangkan seperti berlayar, snorkeling, diving, safari, spa, sampai dining dan clubbing. Safari yang ditawarkan oleh resort mewah ini lebih bertema ekosistem air dimana traveler akan diajak menjelajahi alam bawah laut yang indah.

Selain itu juga akan ada safari melintasi hutan bakau dimana kalian bisa menikmati kicauan aneka satwa di dalam hutan. Keren kan? So, bersiaplah menabung mulai dari sekarang agar akhir tahun nanti 2015 kalian bisa berlibur ke sana.


Sumber :
http://travelingyuk.com
http://www.batam.com
http://www.funtasyisland.com

Monday, December 15, 2014

Car Free Day Berubah jadi Car Free Night

Pemerintah Kota Batam mengubah kegiatan Car Free Day menjadi Car Free Night. Malam tanpa kendaraan bermotor ini akan dilaksanakan pada Minggu (20/12/2014) mulai pukul 18.00 WIB - 21.00 WIB.

Perubahan waktu kegiatan hanya dilakukan di penghujung tahun 2014 yang sejalan dengan Hari Ulang Tahun Kota Batam yang ke-185. Sedangkan lokasi pelaksanaan masih sama seperti bulan-bulan sebelumnya, yakni di sepanjang Jalan Imam Bonjol Nagoya.

Kepala Bagian Humas Pemko Batam, Ardiwinata mengatakan, pergeseran waktu pelaksanaan acara bebas kendaraan bermotor ini tidak akan berpengaruh terhadap kunjungan masyarakat.

Sejumlah komunitas diperkirakan masih tetap akan memeriahkan kegiatan ini. Komunitas-komunitas di batam masih bisa menggelar penampilan-penampilan langsung di jalanan. Contohnya saja antusias pecinta sepeda di Batam yang tinggi dan komunitas pecinta iguana yang hadir pada minggu lalu.

Kegiatan bebas dari kendaraan bermotor ini memang bertujuan untuk mengurangi efek rumah kaca yang bersumber dari kendaraan bermotor. Yakni dengan mengurangi gas emisi sebesar 26 persen, dalam waktu tersebut.


Sumber :
http://batam.tribunnews.com

Kecelakaan Lalu Lintas di Batam Naik 80%

Sepanjang 2014 ini, tingkat Laka lantas yang terjadi di  Batam mengalami peningkatan hingga 80 persen dibandingkan tahun 2013 lalu.

Menurut Direktur Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Kepri Kombes ‎Tantan Sulistyana, ada 27 kejadian dan dari angka itu tujuh orang meninggal, 15 luka berat dan 33 luka ringan. Korban rata-rata usia 16-20 tahun, kedua 26-30 dan ketiga 11-15 tahun.

Dari 27 kecelakaan ini, Tantan mengaku diperkirakan kerugian mencapai Rp192 juta. Rata-rata kendaraan roda dua yang terbanyak dari pada roda empat keatas. Menurut Tantan untuk hasil pencegahan operasi zebra 2014 sedikitnya ‎ada 3.720 pelanggar yang terdiri dari teguran tertulis 1.792‎ pelanggar dan tilang 1928 pelanggar.

Untuk pelanggaran pengguna roda dua rata-rata 800 pelanggar untuk pengguna helm, surat-surat 539 pelanggar, tidak menyalakan lampu utama 164 pelanggar dan melanggar lampu lalu lintas 97‎ pelanggar.


Sumber :
http://batam.tribunnews.com

Tuesday, November 25, 2014

4 - 10 Perusahaan di Batam akan Tutup


Badan Pengusahaan Kawasan Free Trade Zone Batam (BP Batam) mencatat ada empat perusahaan tutup sepanjang tahun 2014, sedangkan Disnaker memastikan 10 perusahan.

Perusahaan yang tutup usaha di Batam bergerak dalam bidang industri perkapalan dan elektronik. 10 perusahaan tutup usaha di Batam dan megakibatkan sekitar 3.000 orang kehilangan pekerjaan. Sementara pencari kerja mencapai 14 ribu dan lowongan kerja di 2014 ini hanya tiga ribu.

PT Nidec Seimitsu Batam adalah perusahaan penanaman modal asing asal Jepang yang memproduksi penggerak motor elektronik ke Saigon Hitech Industrial Park, Vietnam. Perusahaan ini sebelumnya bernama PT Sanyo Precision Batam, sebelum akhirnya diambil alih kepemilikan sahamnya oleh Nidec sekitar tiga tahun lalu.

Niksen menjelaskan banyak hal yang mengakibatkan PT Nidec tutup. Aksi demo yang disertai sweeping oleh pendemo terhadap pekerja membuat perusahaan ketakutan. Selain itu, upah yang ditetapkan pemerintah dianggap terlalu tinggi.

Untuk tahap awal, perusahaan mem-PHK-kan pekerja tingkat operator, kemudian supervisor, dan senior supervisor, di antaranya Nikson. Dia juga menjelaskan ada afiliasi PT Nidec yang juga mungkin tutup, yakni PT Nidec Servo dan PT Nidec Sankyo. Jumlah pekerja hampir delapan ribu orang.

Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam mencatat, sekitar 3.000 pekerja telah menganggur akibat tutupnya 10 perusahaan galangan kapal di Batam. Menurut Kepala Disnaker Kota Batam, Zarefriadi, kenaikan upah minimum kota (UMK) Batam yang sulit diprediksi manajemen menjadi salah satu alasan 10 perusahan itu hengkang di tahun ini.

Dari awal tahun sampai awal April hanya dua yang dicabut izinnya. Yakni Panasonic Shikoku bergerak di bidang komponen elektronik di Batamindo dan Union Satria bergerak di bidang pengerjaan dan pembentukan logam yang berada di Kara Industrial Park.

Menurutnya, kedua perusahaan tersebut tutup dengan alasan perputaran produk barang-barang produksi yang telah habis masa pakainya. Satunya lagi karena memang odernya sepi, sehingga memilih tutup.


Sumber :
http://batam.bisnis.com/m/read/20140909/11/45293/bp-ftz-batam-disnaker-beda-data-soal-perusahaan-tutup
http://www.tempo.co/read/news/2014/09/17/090607619/Nidec-Seimitsu-Batam-Tutup-4500-Buruh-Di-PHK
http://batamtoday.com/berita47398-10-Perusahaan-di-Batam-Tutup,-3.000-Tenaga-Kerja-Menganggur.html
http://www.haluankepri.com/index.php/iklan/news/images/stories/Berita/2013/Maret2013/10Mar13/news/batam/45124-perusahaan-asing-tutup-bp-batam-belum-tahu.html