Showing posts with label Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Bisnis. Show all posts

Wednesday, September 20, 2023

Warga Rempang Batal Direlokasi ke Pulau Galang

Warga Rempang Batal Direlokasi ke Pulau Galang, Bahlil Beberkan Opsi Pabrik Xinyi 

Rabu, 20 September 2023

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan merelokasi warga Pulau Rempang ke Pulau Galang.  Bahlil menuturkan, warga lokal yang terkena dampak dari rencana investasi produsen kaca asal China, Xinyi Group, hanya akan digeser ke daerah lain yang masih dalam satu kawasan Pulau Rempang. 

“Itu bukan relokasi karena kalau dari Rempang ke Pulau Galang itu kan relokasi beda pulau, tapi kalau dari Rempang ke Rempang itu bukan rekolasi, itu pergeseran,” kata Bahlil saat ditemui di Nusa Dua, Bali, Rabu (20/9/2023).  

Bahlil mengeklaim masyarakat yang terkena dampak rencana revitalisasi Pulau Rempang seluas 17.000 hektare itu sudah menyetujui proposal yang disampaikan pemerintah ihwal pergeseran tempat tinggal saat ini. 

Revitalisasi Pulau Rempang itu akan diarahkan untuk menjadi kawasan yang mencakup sektor industri, perdagangan, hunian, dan pariwisata yang terintegrasi.  Dari 17.000 hektare tersebut, hanya 7.000 hektare yang akan dikelola, sedangkan 10.000 hektare lainnya merupakan kawasan hutan lindung. 

Untuk tahap pertama, pembangunan kawasan industri akan dilakukan pada luas lahan sekitar 2.000-2.500 hektare.  

Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Untuk tahap awal, pengembangan kawasan ini sudah diminati oleh Xinyi Group yang akan berinvestasi untuk pembangunan pabrik kaca dan panel surya terintegrasi senilai US$11,5 miliar atau setara Rp174 triliun. 

Di sisi lain, Bahlil menegaskan, pemerintah akan menyiapkan hunian baru untuk 700 kepala keluarga yang terdampak pengembangan investasi di tahap pertama. Rumah type 45 dengan nilai sekitar Rp120 juta tersebut akan dibangun dalam rentang waktu 6 sampai 7 bulan. 

Sementara menunggu waktu konstruksi, warga akan diberikan fasilitas berupa uang dan tempat tinggal sementara.  “Start dimulai sekarang, kan kita sedang melakukan pendataan untuk mereka bisa bergeser, setelah itu langsung dibangun,” kata dia.  

Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pengusahaan (BP) Batam memperpanjang pendaftaran pemindahan warga Pulau Rempang yang terimbas proyek Rempang Eco City dari jadwal semula yang seharusnya berakhir 20 September 2023.  

Hal tersebut diungkapkan Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol Badan Pengusahaan (BP) Batam Ariastuty Sirait, Selasa (19/9/2023).   "Pendaftaran pertama tanggal 20 September 2023. Namun yang ini bersifat dinamis, kami mengikuti arahan dari pemerintah pusat saja," katanya di Gedung BP Batam.  

Begitu juga dengan rencana pengosongan tahap pertama, dimana batas akhirnya 28 September 2023. Lagi-lagi, Tuti menyebut masih akan melihat kondisi terbaru, sambil menunggu keputusan dari Jakarta. Sementara itu, ia juga menyebut bahwa jumlah warga yang sudah mendaftar untuk direlokasi baru sekitar 100 KK. "Sudah lebih dari 100 KK yang mendaftar," ungkapnya.


Sumber :

https://ekonomi.bisnis.com/read/20230920/9/1697052/warga-rempang-batal-direlokasi-ke-pulau-galang-bahlil-beberkan-opsi-pabrik-xinyi.

Tuesday, June 22, 2021

Lokasi Industri Manufaktur Teknologi 5G IoT

Batam Jadi Lokasi Industri Manufaktur dengan Teknologi 5G IoT Pertama di Indonesia

22 JUNI 2021

    


Kehadiran 5G di tanah air masih menjadi hal yang terus menarik untuk dibahas. Bagi sebagian besar masyarakat awam, pada awalnya keberadaan generasi terbaru dari jaringan internet ini dianggap dapat memberikan koneksi yang lebih cepat untuk keperluan hiburan atau aktivitas digital sehari-hari.

5G yang baru saja hadir sejauh ini hanya dinilai mampu untuk memberikan pengalaman streaming atau menonton video dengan kualitas gambar yang tinggi tanpa kendala buffering, atau kemampuan tinggi lain layaknya mengunduh gim dengan kapasitas puluhan GB hanya dalam waktu belasan menit.

Nyatanya, keunggulan yang dibawa oleh teknologi 5G jauh lebih mumpuni dari hal yang disebutkan di atas. Praktisi, pakar, dan pihak yang memahami betul potensi sesungguhnya dari generasi terbaru internet ini sejatinya memiliki target tertentu dari pemanfaatan teknologi 5G, lebih tepatnya untuk penerapan AIoT dan mendukung apa yang selama ini banyak dikenal dengan istilah transformasi digital dan era Industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dan berbagai operator seluler di tanah air menjadi pihak utama yang paham betul akan potensi 5G bahkan jauh sebelum teknologi tersebut secara resmi dihadirkan secara komersial.

Sedikit kilas balik, beberapa waktu lalu Kemkominfo bersama salah satu operator seluler di tanah air yaitu Smartfren melakukan uji coba 5G pada pita frekuensi tertinggi yang belum pernah digunakan sebelumnya (mmWave), hasil uji coba yang diperoleh pun menunjukkan secara nyata bahwa 5G dapat mengakselerasi keberadaan Industri 4.0 di tanah air lewat kecepatan internet tertinggi yang dimiliki.

Dalam kesempatan itu pula, istilah ‘Dunia dalam Genggaman’ lewat penerapan kecerdasan buatan dan IoT pada sektor industri semakin ditekankan dan menjadi fokus utama dalam pemanfaatan 5G oleh Kemkominfo berdampingan dengan berbagai operator seluler di tanah air.

Bukan Jakarta, nyatanya Batam adalah kota yang mendapat keistimewaan sebagai lokasi di mana penerapan 5G dan IoT pertama kali diterapkan untuk sektor industri. Seakan bersinergi dengan uji coba yang dilakukan oleh Kemkominfo dan Smartfren beberapa waktu lalu, kali ini penerapan secara nyata dilakukan oleh operator lain yaitu Telkomsel dengan Schneider Electric sebagai salah satu pelaku industri yang akan bekerja sama mendukung keberadaan industri 4.0 melalui keberadaan 5G.

Pada tanggal 7 Juni lalu, Telkomsel sejatinya kembali memperluas layanan 5G yang dihadirkan di beberapa wilayah lanjutan yaitu Surabaya, Makassar, Bandung, Denpasar, dan Batam. Khusus untuk wilayah Batam, 5G yang dihadirkan sekaligus menjadi peresmian simbolis dari kolaborasi yang dilakukan untuk mewujudkan industri berbasis teknologi 5G IoT pertama di Indonesia.

Adapun peresmian kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Telkomsel dan Schneider Electric untuk memperkuat kemitraan strategis dalam mempercepat transformasi digital (DX) Indonesia dan Industri 4.0 dengan melaksanakan 5G trial joint collaboration melalui berbagai program.

Sekadars informasi, Schneider Electric yang berlokasi di Batam adalah perusahaan manufaktur terbesar dan diklaim sebagai yang terbaik dalam bidang pendistribusian serta otomatisasi dan kontrol industri.

Plant Director Plant Electronic Schneider Electric Manufacturing Batam, Kodrat Sutarhadiyanto pada kesempatan yang sama juga menyampaikan ungkapan mengenai kesiapan pihaknya menjadi industri pertama yang akan menerapkan teknologi 5G IoT dan berkolaborasi dengan Telkomsel.

“Kami memilih Telkomsel sebagai partner terpercaya dalam mendukung upaya Schneider Electric untuk menjadi yang terdepan di Industri 4.0 di Indonesia, Telkomsel sebagai pihak yang menyediakan solusi berbasis teknologi 5G untuk mengakselerasi transformasi digital pabrik pintar kami di Batam” ungkap Kodrat melansir rilis pada laman resmi Telkomsel.

Pada kesempatan yang sama, pihak Telkomsel dan Schneider Electric Batam juga menjabarkan mengenai teknologi atau program apa saja yang diterapkan melalui kolaborasi yang terjalin. Secara garis besar, ada 3 program berbasis 5G IoT yang siap diaplikasikan dalam operasional industri.

Pertama, menghadirkan fitur live streaming virtual tour pabrik pintar Schneider Electric Batam, sehingga para mitra industri global dapat mengunjungi pabrik pintar dari berbagai belahan dunia. Dengan kemampuan konektivitas yang dimiliki oleh 5G, kemampuan virtual tour ini jelas bisa berjalan dengan baik yang di mana selanjutnya akan meningkatkan kesadaran pelaku industri global akan keberadaan industri tanah air yang sudah mumpuni dan layak diperhitungkan keberadaannya.

Kedua, menghadirkan teknologi EcoStruxure Augmented Operator Advisor, yaitu berupa penerapan augmented reality menggunakan device (tablet) yang terhubung dengan jaringan 5G untuk membantu teknisi dalam aktivitas pemeliharaan jarak jauh. Lewat fasilitas ini, bukan tidak mungkin bahwa kedepannya tingkat efektivitas dan efisiensi di industri manufaktur akan semakin meningkat.

Ketiga, pengaplikasian sistem EcoStruxure Machine Advisor yang menghubungkan perangkat IoT sensor dengan dashboard online yang digunakan untuk memantau operasional proses produksi manufaktur secara real-time.

Melihat kolaborasi awal yang terjalin tersebut, bukan tidak mungkin bahwa kedepannya akan terus bermunculan penerapan industri berbasis teknologi 5G IoT, dengan operator seluler atau penyedia layanan 5G lainnya yang semakin meningkatkan performa industri manufaktur di tanah air dan tak kalah bersaing dengan kecanggihan industri manufaktur yang dimiliki oleh negara lain.


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/06/22/batam-jadi-lokasi-industri-manufaktur-dengan-teknologi-5g-iot-pertama-di-indonesia

Wednesday, March 24, 2021

Kampung Dapur 12

Cerita Kampung Dapur 12 di Kota Batam, Dulu Jadi Pemasok Arang untuk Warga Singapura

Tak banyak yang tahu jika di Kota Batam ada sebuah daerah yang memiliki nama unik yakni Kampung Dapur 12. Kampung ini cukup jauh dari hiruk pikuk Kota Batam tepatnya berada di Kelurahan Sei Pelunggut, Kecamatan Sagulung, Kota Batam. 

Dahulu kala, kampung tua ini memasok kebutuhan arang untuk memasak warga Singapura. Kampung Tua Dapur 12 awalnya bernama Kampung Tanjung Atok Itam. Namun untuk mengenang sejarah, kampung tersebut diberi nama Kampung Tua Dapur 12.

Pada masa lampau penduduk Batam yang disebut masyarakat Melayu mencukupi kebutuhannya dengan menangkap ikan. Selain itu mereka berdagang, mencari kayu, membuat tembikar, dan sebagainya. Sementara orang Tionghoa yang dikenal dengan sebutan nama Cina Kebun sebagian besar adalah imigran dari dataran Tiongkok yang menetap di pedalaman hutan dan membuka perkebunan karet, gambir, hingga merica. 

Sekitar tahun 1930-an, ada orang China yang membuka usaha dapur arang dan bekerja sama dengan orang Melayu yang mencari kayu bakau untuk pembuatan arang. Dikutip dari Buku Mozaik Batam di Bumi Segantang Lada yang ditulis oleh H Mhd Alfan Suheiri dijelaskan jika hutan bakau yang tumbuh sumbur di sepanjang pesisir Batam menjadi berkah bagi penduduk temppatan. 

Selain sebagai nelayan, sebagian penduduk menebangi hutan kayu bakau dan mengolah kayunya menjadi arang. Kayu arang olahan penduduk Batam bernilai ekonomis tinggi dan sangat laku di Singapura. 

Akhirnya kayu arang tersebut menjadi salah satu komiditas yang dijual ke Singapura. Penjualan arang sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda. Oleh warga Singapura, arang digunakan untuk bahan bakan saat memasak. Biasanya arang yang dibuat oleh warga Batam dibawa oleh toke arang dengan menggunakan kapal kayu. Bahkan sangking larisnya, dalam sehari toke arang bisa bolak-balik Batam-Singapura. 

Saat ke Singapura mereka membawa arang dan ketika pulang ke Batam, mereka membawa sembako. Transaksi yang dilakukan kala itu dengan cara tukar barang atau barter. Alfan Suheiri menulis pengiriman arang besar-besaran dari Batam ke Singapura terjadi pada tahun 1960-an. 

Saat itu kebutuhan arang cukup tinggi karena penduduk Singapura mulai ramai. Biasanya arang diproduksi di lokasi pesisir Batam dan dapur arang yang digunakan adalah milik tauke yang akan mempekerjakan beberapa orang. Namun ada juga tauke yang mengumpulkan arang dari penduduk dan jika jumlahnya sudah banyak akan dibawa ke Singapura. 

Ada 12 dapur arang berukuran besar 

Dari cerita tutur masyarakat sekitar, di Kampung Tanjung Atok Itam ada 12 dapur arang berukuran besar. Namun saat ini hanya ada beberapa dapur arang yang tersisa. Satu dapur arang berukuran besar dengan tinggi limer meter dan luas lebih dari 25 meter. 

Satu dapur arang bisa menghasilkan 30 ton arang dengan pembakaran antara 1 bulan hingga 1,5 bulan. Dua dapur arang dibangun oleh ayah Samyong, seorang tauke arang yang berasal dari Singapura. Tony A Samyong (Sam Hiong) adalah salah seorang pejuang pada zaman konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia. 

Saat Samyong masih kecil, ia dan ayahnya hijrah dari Singapura ke Batam dan mendirikan usaha dapur arang yang diteruskan oleh Samyong. Diceritakan saat Samyong berusia 12 tahun di tahun 1947, ia sudah terjun membuat arang membantu ayahnya. Di masa kejayaannya, satu dapur arang bisa menghasilkan hampir 30 ton arang yang dijual ke Singapura dengan mata uang dollar Singapura. 

Selain di Dapur 12, keluarga Samyong juga memiliki dapur arang di Seijodoh dan menjadi satu-satunya usaha dapur arang di lokasi tersebut. Kala itu, masyarakat melayu di Seijodoh masih bekerja sebagai nelayan dan sebagian berkebun. 

Usaha dapur arang juga ditemukan di hampir semua pesisir Batam dan muara sungai seperti Seijodoh, Duriangkang, Dapur 12, Sungai Buluh dan tempat lainnya. Selain dekat dengan bahan utama yakni kayu bakau, pemilihan lokasi di muara sungai dan pesisir adalah untuk memudahkan mengirim arang dengan perahu ke Singpaura. 

Kala itu banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari dapur arang. Namun sekitar tahun 1980 usaha dapur arang tersebut sudah tidak bisa bertahan, karena bahan yang digunakan sudah mulai menipis. 

Mulai berkurangnya bahan yang akan diproduksi dapur arang tidak bisa semua digunakan hanya beberapa dapur yang bisa digunakan. Seiring berjalannya waktu bisnis dapur arang sudah tidak bisa beroperasi karena bahan sudah tidak ada dan Batam sudah dibangun oleh pemerintah pusat. 

Saat ini usaha dapur arang tersebut hanya tinggal kenangan dan tidak adalagi aktivitas pembakaran arang. Bahkan dapurnya pun sudah lapuk dimakan usia karena tidak pernah digunakan. Untuk mengenang sejarah maka tetua Kampung Tanjung Atok Itam sepakat memberi nama kampung mereka menjadi Kampung Tua Dapur 12.


Sumber :

https://regional.kompas.com/read/2021/02/21/09100081/cerita-kampung-dapur-12-di-kota-batam-dulu-jadi-pemasok-arang-untuk-warga?page=all#page2.

Friday, February 26, 2021

Batam Jadi Kota Paling Makmur

Kalahkan Medan, Batam Jadi Kota Paling Makmur di Region Sumatra   

Kota memang identik dengan kehidupan modern yang gemerlap. Akan tetapi, data kali ini mengajak Kawan GNFI melihat lebih dalam, seberapa makmur kota-kota di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatra. Caranya, kita lihat bagaimana kinerja PDRB per kapita mereka.

Dengan menggunakan harga berlaku, kita bisa melihat pergeseran-pergeseran yang terjadi dalam sektor ekonomi. Selain itu, bisa juga untuk melihat struktur ekonomi yang dimiliki oleh suatu kota, wilayah atau provinsi.

Bisa dikatakan bahwa PDRB adalah jumlah keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari semua kegiatan perekonomian di seluruh wilayah dalam periode tahun tertentu, yang pada umumnya dalam waktu satu tahun.

Biasanya data PDRB disajikan dalam bentuk per kapita, seperti halnya pendapatan. PDRB per kapita merupakan gambaran dan rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk selama satu tahun di suatu wilayah/daerah tertentu.

PDRB per kapita diperoleh dari hasil bagi antara total PDRB dengan jumlah penduduk suatu kota/provinsi. Data yang tersaji dalam bentuk ini merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu wilayah.


Pendapatan per kapita Batam Tertinggi di Sumatra

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 yang dirilis pada 2020, menempatkan Batam sebagai kota terkaya di wilayah Sumatra. PDRB per kapitanya menyentuh angka Rp119,33 juta/tahun atau hampir dua kali lipat dari PDRB per kapita Indonesia.

Batam merupakan markas dari beragam industri pengolahan berskala besar. Kemegahan kota ini juga tampak dari deretan gedung-gedung tinggi yang kian gemerlap. Dibanding kota lain di Sumatra, skyline Batam terlihat lebih menawan.

Posisi kedua diisi oleh Dumai, meskipun secara pamor tidak sekaliber Medan dan Palembang, tapi kota yang terletak di pesisir provinsi Riau ini termasuk salah satu kota paling tajir di Sumatra. Tercatat PDRB per kapita Dumai menyentuh angka Rp117,19 juta/tahun.

Dumai merupakan markas dari beragam perusahaan-perusahaan raksasa seperti Pertamina (kilang), Wilmar Group, Sinarmas Group, Asian Agri hingga Chevron.

Sementara Medan yang selalu digembor-gemborkan sebagai kota paling maju di region Sumatra hanya menempati posisi ketiga di bawah Batam dan Dumai. Pendapatan per kapitanya hanya senilai Rp105,91 juta/tahun.

Dua kota di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau lain menempel diposisi keempat dan kelima. Pekanbaru yang berstatus sebagai ibu kota Provinsi Riau berhasil mencatatkan nominal sebesar Rp104,17 juta tepat satu tingkat di atas Tanjung Pinang yang mencatatkan PDRB per kapita senilai Rp95,31 juta.


Berikut urutan kota-kota terkaya di Sumatra berdasarkan PDRB per kapita:

  1. Batam (Rp119,27 juta)
  2. Dumai (Rp117,19 juta)
  3. Medan (Rp105,91 juta)
  4. Pekanbaru (Rp104,17 juta)
  5. Tanjung Pinang (Rp95,31 juta)
  6. Palembang (Rp93,09 juta)
  7. Sungai Penuh (Rp82,36 juta)
  8. Banda Aceh (Rp68,87 juta)
  9. Bukittinggi (Rp66,52 juta)
  10. Padang (Rp65,58 juta)

Empat dari 10 kota terkaya di Sumatra berada di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau. Sementara kota-kota di Provinsi Bengkulu, Bangka Belitung dan Lampung tidak satupun masuk dalam daftar 10 kota terkaya di Sumatra.


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/02/25/kalahkan-medan-batam-jadi-kota-paling-makmur-di-region-sumatra

Saturday, January 16, 2021

Silicon Valley Indonesia

Mengintip "Silicon Valley Indonesia" di Batam

23 FEBRUARI 2020 

   


Batam adalah salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Riau. Batam merupakan sebuah pulau di antara 329 pulau yang terletak antara Selat Malaka dan Singapura yang secara keseluruhan membentuk wilayah Batam. Karena langkanya catatan tertulis dari pulau ini, maka hanya ada satu literatur yang menyebut nama Batam, yaitu Traktat London yang mengatur pembagian wilayah kekuasaan antara Belanda dan Inggris. Namun, menurut para pesiar dari China, pulau ini sudah dihuni sejak 231 M ketika Singapura masih disebut Pulau Ujung.

Pada tahun 1970-an Batam mulai dikembangkan sebagai basis logistik dan operasional untuk industri minyak dan gas bumi oleh Pertamina. Kemudian berdasarkan Kepres No. 41 tahun 1973, pembangunan Batam dipercayakan kepada lembaga pemerintah yang bernama Otorita Pengembangan Industri Pulau Batam atau sekarang dikenal dengan Badan Pengusahaan Batam (BP Batam). Dalam rangka melaksanakan visi dan misi untuk mengembangkan Batam, maka dibangun berbagai insfrastruktur modern yang berstandar internasional serta berbagai fasilitas lainnya, sehingga diharapkan mampu bersaing dengan kawasan serupa di Asia Pasifik.

Berbagai kemajuan telah banyak dicapai selama ini, seperti tersediannya berbagai lapangan usaha yang mampu menampung angkatan kerja yang berasal hampir dari seluruh daerah di tanah air. Kini, Batam yang telah berkembang pesat dengan jumlah penduduk hampir 1.3 juta jiwa, bahkan pasti tidak terbayangkan bahwa kota ini dahulu adalah rerawa-gugusan belukar, bahkan daerah hitam dengan penduduk hanya ribuan yang tinggal di pesisir pantai.

Pulau Batam secara geografis memiliki letak yang sangat strategis, berada di jalur lalu lintas perdagangan internasional Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan internasional tersibuk kedua setelah Selat Dover di Inggris.

Posisinya juga sangat strategis hanya 20 km atau 12,5 mil laut dari Singapura, dengan jarak tempuh hanya 45 menit melalui jalur laut, dengan aksesibilitas yang mudah ke negera lainnya di belahan dunia.

Pada 2009, Batam menjadi salah satu Zona Perdagangan Bebas di Indonesia. Pulau-pulau yang termasuk dalam zona ini adalah Batam, Bintan dan Karimun yang berada di salah satu rute pengiriman dunia antara Singapura dan Sumatera.

Sebagai Zona Perdagangan Bebas, pengusaha yang berinvestasi di Batam dibebaskan dari bea impor, pajak penjualan, PPN, pajak barang mewah, dan pajak saat memiliki insentif ekspor jika membuat produk langsung di Batam.

Sejak perekonomian global bergerak menuju digitalisasi, Batam sekarang memanfaatkan kekuatan dan keuntungan dari Zona Perdagangan Bebasnya yang sudah ada dengan mendigitaliasi industri-industri kuat yang ada di pulau ini, seperti pembangunan kapal serta minyak dan gas.

Batam yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau disinyalir menjadi kawasan yang paling strategis dalam mendukung pengembangan kawasan digital ekonomi di Indonesia. Pasalnya, lokasi Batam terletak tak jauh dari Singapura. Pertengahan tahun lalu, Sinar Mas Land berkomiten membangun ekosistem kota pintar berbasis teknologi di kota Nongsa, Batam. Proyek ini untuk mengembangkan “Jembatan Digital” yang menghubungkan Indonesia dan Singapura. Dalam proyek ini, Sinar Mas Land pun menggandeng Citra Mas Group untuk membangun Nongsa D-Town di jantung kota Batam sebagai destinasi generasi muda dalam membangun industri, kreativitas, dan konektivitas di bidang ekonomi digital.

Nongsa sendiri kini telah menjelma menjadi pusat digital di Batam. Terletak di kawasan ekonomi khusus dengan luas tak kurang dari 180 hektare, Nongsa Digital Park (NDP) baru 2 tahun beroperasi. NDP disiapkan menjadi sarana mengembangkan bisnis digital di Indonesia dan global. Kawasan terpadu ini selain mempekerjakan para kreator digital juga menyediakan fasilitas teknologi informasi mutakhir. Di antaranya jaringan optik berkecepatan tinggi dan pusat data yang dapat dijadikan server bagi perusahaan digital.


Kawasan Ekonomi Digital Nongsa

Kawasan NDP, kata Peters Vincent, Direktur NDP, tak ubahnya silicon valley-nya Indonesia yang berlokasi di Batam. Lokasinya di ujung timur Pulau Batam, yang hanya 35 menit ke Singapura dengan kapal ferry dan sekitar 10 kilomter dari Bandar Udara Internasional Hang Nadim. Sebutan silicon valley meniru kawasan tempat berkumpulnya perusahaan teknologi digital tingkat dunia di San Fransisco, Amerika Serikat. Perusahaan raksasa digital yang bercokol di sini seperti Google, Facebook, Youtube, Apple, Yahoo hingga HP. “Fasilitas NDP yang lengkap juga nyaman bagi technoprenuer,” kata Peters menambahkan.

Industri kreatif NDP bisa terbilang cepat meraih sukses di bidang digital. Ini terbukti dari sejumlah produk animasi yang mendapat pengakuan internasional. Di antaranya penghargaan AMI Award. Sedangkan film animasi yang digarap orderan dari perusahaan asing terus mengalir.

Beberapa film-film animasi yang digarap oleh para kreator di NDP. Ada Munki and Trunk, Sonic Boom, Vamparina, Zack and Quack, Shutterbug, Tatsumi, Octonauts, Peter Rabit, Garfield dan masih banyak lagi.

Pemerintah Indonesia dan Singapura juga sepakat untuk menindaklanjuti kerja sama terkait pengembangan Nongsa Digital Park guna memperkuat perekonomian kedua negara. Kedua negara sepakat untuk mengembangkan Nongsa Digital Park (NDP) di Batam. Kawasan ini akan menjadi basis bagi pelaku industri kreatif di bidang digital seperti pengembangan startup, web, aplikasi, program-program digital, film, dan animasi.


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/02/23/mengintip-silicon-valley-indonesia-di-batam

Friday, May 31, 2019

BP Batam Wujudkan Sistem Logistik yang Modern Lewat Smart Contract

Jumat, 31 Mei 2019 - 10:09 WIB

batampos.co.id – Sebagai lembaga Badan Layanan Umum (BLU) yang bertugas untuk membangun dan mengelola Batam, BP Batam terus memberi inovasi untuk meningkatkan daya saingnya.

Berselang enam hari dari kerjasama antara dClinic International guna mengembangkan sistem Blockchain Kesehatan Publik pertama di Indonesia, BP Batam kembali mengadakan Penandatanganan Nota Kesepahaman tentang Kerjasama Proyek Percontohan Indonesia Blockchain Logistics bersama PLMP Fintech LTD dan PT Central Distribusi Batam.

Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Rapat Mahakam, Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Rabu (29/5) siang, dan dihadiri oleh Kym Kee selaku Wakil Direktur (Chief Operating Officer) PLMP Fintech PTE.LTD, Komisaris PT Central Distribusi Batam, Agus Riyanto, Direktur Utama PT Sarinah, Ngurah Yasa, dan Kepala BP Batam, Edy Putra Irawady.

Kepala BP Batam, Edy Putra Irawady mengatakan, kerjasama tersebut merupakan salah satu bentuk wujud prioritas dan komitmen BP Batam untuk tahun 2020 dengan mengintegrasikan kegiatan logistik dan komoditas.

“Nah, kami menghadirkan teknologi Blockchain yang disebut sebagai Smart Contract. Terobosan ini merupakan hal yang krusial, karena logistik adalah kunci dari perekonomian nasional,” ujarnya.

Edy menambahkan, teknologi Smart Contract nantinya akan menggunakan layanan Data Center dari Pusat Data dan Sistem Informasi (PDSI) BP Batam, sebagai salah satu entitas bisnis di BP Batam.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi adalah penerapan pemerataan implementasi teknologi di Batam dan kesesuaian bentuk bisnis yang dipersiapkan untuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

“Kita sudah memiliki fasilitasnya dan perbaiki infrastrukturnya, jadi sesegera mungkin bisa terlaksana,” jelasnya. Edy melanjutkan, meski dirancang dalam bentuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), teknologi tersebut tetap di jalan.

“Implementasinya saya harapkan maksimal tiga bulan setelah penandatanganan perjanjian kerjasama,” paparnya..

Kata edy, teknologi Blockchain merupakan platform desentralisasi atau Digital Legder, di mana transaksi dapat terekam dan terintegrasi secara digital.

Wakil Direktur PLMP Fintech PTE.LTD, Kym Kee, mengatakan sistem tersebut tidak menggunakan pihak ketiga. “Sederhananya, catatan transaksi-transaksi yang sudah terjadi, disimpan oleh lebih dari satu komputer. Jadi akan lebih susah untuk men-hack sistem ratusan bahkan ribuan komputer,” jelasnya.

Kym mengungkapkan, kecil kemungkinan adanya gangguan untuk semua komputer pada waktu yang sama. menurutnya, dengan menggunakan metode konvensional biasanya akan menimbulkan masalah kepercayaan.

“Dengan menggunakan jaringan Peer-to-Peer yang Blockchain miliki, hal tersebut dapat teratasi,” katanya.

Sedangkan Smart Contract sendiri lanjutnya, adalah kontrak kripton yang mengizinkan penggunanya untuk mentransfer aset secara digital. Baik mengontrol transfer mata uang digital atau aset antar pihak dalam kondisi tertentu.

Kontrak tersebut kemudian akan tersimpan di dalam teknologi Blockchain dan bersifat Immutable atau tidak bisa diubah.(*)


Sumber :
https://batampos.co.id/2019/05/31/bp-batam-wujudkan-sistem-logistik-yang-modern-lewat-smart-contract/

Tuesday, May 21, 2019

Proses Produksi Smartphone Xiaomi di Batam

Foto: Melihat Proses Produksi Smartphone Xiaomi di Batam·

21 Mei 2019 8:00


Produksi smartphone Xiaomi di PT Sat Nusapersada, Batam.

Xiaomi telah merakit lini smartphone-nya untuk pasar Indonesia di PT Sat Nusapersada, Batam. Hal ini telah mereka lakukan sejak tahun 2017 sebagai langkah mereka untuk memenuhi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di Indonesia.

Perusahaan teknologi asal China itu mampu memproduksi 700.000 smartphone dalam waktu satu bulan di Sat Nusapersada. Ada tiga lantai di pabrik tersebut yang disediakan untuk merakit smartphone Xiaomi. Dan untuk saat ini, ternyata tiga line produksinya difokuskan untuk Redmi Note 7 yang sedang laris manis.

Tim kumparan diajak oleh Xiaomi untuk berkunjung langsung melihat proses produksi smartphone mereka di Sat Nusapersada. Proses produksinya sendiri dilakukan selama 24 jam. Menurut penjelasan pihak Sat Nusapersada, secara garis besar ada tiga proses yang dilewati smartphone Xiaomi sebelum diedarkan ke pasaran.

Proses pertama adalah perakitan ponselnya. Setelah itu, dilanjutkan oleh proses pengujian kamera dan radio Wi-Fi. Dalam proses kedua tersebut, ada tahap yang disebut aging, di mana smartphone akan diuji saat mengisi daya baterai selama enam jam.

Setelah itu, proses terakhir adalah pengemasan alias packing. Smartphone-smartphone Xiaomi dimasukkan ke dalam boks untuk siap diedarkan ke pasar. Total dalam tiga tahap itu terdiri dari 86 proses produksi.

Steven Shi, Country Head Xiaomi Indonesia, mengungkapkan saat ini permintaan terhadap Redmi Note 7 memang sangat tinggi. Oleh karena itu produksinya bisa disesuaikan dengan permintaan dan suplai di pasar. Apalagi dengan adanya kritik yang mengatakan Redmi Note 7 sebagai 'ponsel gaib' karena sulit didapatkan di pasaran.

"Jadi permintaannya sangat luar biasa di pasaran, selama ini juga ada beberapa komplain, karena kami tahu permintaan sangat luar biasa, jadi kami memaksimalkan produksi," ujar Shi, saat ditemui di pabrik PT Sat Nusapersada, Batam, Senin (20/5).

Shi berjanji akan memproduksi sebanyak mungkin smartphone Xiaomi lewat kerja sama dengan Sat Nusapersada untuk memenuhi permintaan yang tinggi dari konsumen.


Sumber :

https://kumparan.com/kumparantech/foto-melihat-proses-produksi-smartphone-xiaomi-di-batam-1r7JNBJnFFD/full

Thursday, May 16, 2019

Batam Tidak Bebas Cukai

Batam Cs Tak Lagi Bebas Cukai


Pemerintah menyatakan tak lagi membebaskan cukai di wilayah free trade zone (FTZ) atau zona perdagangan bebas. Ada beberapa pertimbangan sehingga pemerintah tak lagi memberikan pembebasan.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Heru Pambudi di Kemenkeu Jakarta, Kamis (16/5/2019).

"Untuk yang terkait barang kena cukai betul bahwa fasilitas barang kena cukai selama ini diberikan untuk FTZ ada Batam, Bintan, Karimun kemudian Pinang akan tidak lagi diberikan. Dasarnya adalah rekomendasi KPK dan review pemerintah," kata Heru.

Pertimbangan tersebut, pertama, dari sisi legal, undang-undang menyatakan tak pernah membebaskan cukai. Dia mengatakan, pada prinsipnya cukai adalah untuk pengendalian.

"Pertama dari sisi legal framework undang-undang cukai tak pernah memberikan pembebasan karena memang prinsipnya cukai adalah pengendalian. Karena justru dengan memberikan pembebasan terbalik dari filosofi cukai," ujarnya.

"Kedua PP FTZ sebenarnya memberi ruang karena di situ kalimatnya untuk konsumsi diberikan pembebasan. Kombinasi dua legal framework kita analisa kemudian kita menyimpulkan bahwa sebenarnya pembebasan barang kena cukai untuk FTZ tidak tepat, rokok sama minuman," sambungnya.

Pertimbangan kedua ialah dari sisi operasional. Menurut Heru, dari analisa lanjutan, barang yang dibebaskan cukai malah mengalir ke wilayah-wilayah sekitarnya.

"Kedua sisi review operasional, kita sudah mendapat informasi sebelumnya termasuk dari KPK, bahwa kota-kota yang dikeluarkan itu menurut analisa lanjutan terlalu banyak atau over kuota. Dampak dari over kuota adalah mengalirnya barang-barang itu keluar FTZ, terutama dari Batam terutama case rokok dari Batam ke pesisir timur Sumatera," ujarnya.

"Dari dua aspek utama tadi maka diputuskan tidak lagi diberikan pembebasan," tutupnya. (dna/dna)


Sumber :
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4552650/batam-cs-tak-lagi-bebas-cukai?_ga=2.8545909.1325100318.1558060665-1549130391.1509338617

Tuesday, January 15, 2019

Batam dari Free Trade Zone Jadi Kawasan Ekonomi Khusus

Batam Akan Diubah dari Free Trade Zone Jadi Kawasan Ekonomi Khusus

Bisnis.com, BATAM – Produk industri di Batam akan dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

Untuk itu, status Batam sebagai kawasan Free Trade Zone (FTZ) akan segera diubah menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

“Ada 262 juta konsumen di dalam negeri, Batam harus berkontribusi,” ujar Kepala BP Batam Edy Putra Irawady, Selasa (15/1).

Selama ini Batam mendapatkan fasiltias FTZ, yang memungkinkan barang impor dan ekspor di Batam tak kena tarif PPN, PPN BM, dan Bea. Namun jika produk industri Batam dijual ke dalam negeri, kewajiban membayar PPN, PPNBM, dan Bea kembali dikenakan.

Pemberian Fasilitas KEK di Batam dianggap menjadi solusi karena dengan KEK produk hasil industri di Batam bisa dijual ke dalam negeri tanpa dikenakan tarif pajak.

“Yang paling utama adalah untuk substitusi impor, karena itu konsep KEK itu kan, supaya pengusaha bisa jual ke dalam negeri, tentu dengan berbagai fasiltias. Itu yang saya pikir untuk tahun ini,” jelasnya.

Selain memenuhi pasar dalam negeri, Batam juga akan tetap berperan sebagai penyumbang ekspor nasional. Kedepan, seluruh barang dari luar negeri bisa dikumpulkan di Batam, untuk kemudian diekspor kembali ke negara-negara yang membutuhkan.

“Orientasi ekspor kita adalah untuk global value chain,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pembenahan jasa logistik Batam akan terus digesa.

Terutama untuk meningkatkan kapasitas air cargo Bandara Hang Nadim. Pengembangan bandara Hang Nadim sendiri telah memasuki masa pre qualifikasi sejak awal bulan ini.

“Misalnya dari Surabaya mau kirim ke Eropa, dikumpulkan di Batam lalu diangkut dengan yang besar,” jelasnya.

Sektor pelabuhan juga terus dibenahi. Pelabuhan Batuampar akan didesain sebagai Hub Angkutan laut agar biaya logistik yang tinggi bisa ditekan.

Untuk menekan ongkos logistik, Batam harus meningkatkan volume angkut melalui perluasan jaringan. (K31)


Sumber :
https://sumatra.bisnis.com/read/20190115/534/878790/batam-akan-diubah-dari-free-trade-zone-jadi-kawasan-ekonomi-khusus

Monday, December 4, 2017

Pabrik Smartphone Xiaomi di Batam

Berkunjung ke Pabrik Smartphone Xiaomi di Batam

04 Des 2017, 15:15 WIB

Pemerintah telah mewajibkan semua smartphone 4G yang dijual di Indonesia memenuhi peraturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Vendor smartphone asing pun telah bekerja sama dengan perusahaan manufaktur lokal untuk merakit produknya di Indonesia.

Salah satunya adalah vendor smartphone Tiongkok Xiaomi. Februari 2017, Xiaomi mengumumkan telah bermitra dengan PT Sat Nusapersada (Sat Nusa) untuk merakit smartphone 4G yang dirilis di Indonesia. Waktu itu Xiaomi menyebut bisa merakit ratusan ribu unit smartphone tiap bulan.

Tekno Liputan6.com berkesempatan untuk berkunjung ke pabrik Xiaomi yang berada di PT Sat Nusapersada, Batam, Senin (4/12/2017). PT Sat Nusapersada berada di daerah Lubuk Baja, Kota Batam, Kepulauan Riau yang ada di dekat wilayah permukiman penduduk.

Begitu memasuki area pabrik, pengunjung diwajibkan untuk mematuhi beberapa peraturan. Misalnya saja pengunjung wajib berjalan di area yang telah ditentukan yang dibatasi dengan cat berwarna kuning di lantai.

Kemudian, di beberapa area pabrik juga dilarang untuk mengambil foto. Selain itu, mereka yang masuk ke area perakitan diharuskan memakai pakaian khusus untuk memasuki area produksi. Semua orang yang memasuki ruang perakitan juga tidak diperbolehkan membawa smartphone serta alat elektronik lainnya.

Sekadar informasi, di PT Sat Nusapersada, Xiaomi memiliki 9 line produksi, yakni 4 line produksi terletak di lantai 1 dan 5 line produksi terletak di lantai 2.


Kegiatan di Pabrik Xiaomi yang berada di PT Sat Nusapersada

Managing Director Xiaomi Indonesia Steven Shi melihat proses pengepakan smartphone Xiaomi

Adapun pada masing-masing line, ada 48 proses perakitan yang dilakukan, mulai dari pengecekan dan verifikasi barang masuk untuk dirakit, proses perakitan atau assembly yang terdiri dari berbagai proses, termasuk pemasangan motherboard, kamera depan dan belakang, fingerprint, baterai, layar, pengujian seluruh fungsi smartphone dan packing.


Proses Perakitan dan Packing

Seluruh proses inipun tak luput dari pengecekan yang dilakukan oleh petugas quality control (QC) yang memastikan tak ada masalah pada tiap prosesnya. Selanjutnya, petugas melakukan pengepakan atau packing produk yang dilengkapi dengan plastik pres.

Terakhir, boks berisi smartphone dipak dalam kardus untuk didistribusikan.


Sumber :

https://www.liputan6.com/tekno/read/3184229/berkunjung-ke-pabrik-smartphone-xiaomi-di-batam

Wednesday, May 20, 2015

Xiaomi Ogah Bangun Pabrik di Indonesia

Alasan Xiaomi Ogah Bangun Pabrik di Indonesia

Rabu 20 Mei 2015 10:41 WIB

Vice President Global Xioami, Hugo Barra

Perusahaan telefon seluler asal China, Xiaomi, menyatakan untuk saat ini belum menyiapkan rencana membangun pabrik di Indonesia, sebagai upaya untuk mengantisipasi dorongan pemerintah terkait pengaturan kandungan lokal perangkat genggam 4G. Hal tersebut disampaikan oleh Vice President of Internasional, Hugo Barra, disela acara peluncuran smartphone terbaru, Mi 4i.

Hugo Barra mengakui, saat ini Xiaomi memang belum memiliki strategi untuk mendirikan pabrik smartphone di Indonesia. Tetapi dirinya mengetahui tentang aturan soal Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) tersebut dan menyatakan siap mematuhinya.

“Kami tahu soal regulasi tersebut di negara ini dan kami sebisa mungkin akan mengikutinya. Namun bicara soal membangun pabrikan manufaktur di Indonesia itu rasanya terlalu dini untuk saat ini,” ucap Hugo Barra di Lounge Plaza Senayan, Jakarta, (19/5/2015).

Disampaikan dalam kesempatan berbeda oleh General Manager Xiaomi Southeast Asia, Steve Vickers . Dirinya mengatakan akan mempertimbangkan peraturan pemerintah Indonesia untuk memasukan unsur kandungan lokal dalam negeri pada smartphone.

Steve menyatakan jika aturan persentase mengenai tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) telah rampung, Xiaomi kemungkinan akan merakit smartphone di Indonesia dengan menggandeng rekanan lokal (partner lokal), bukan membangun pabrik.

Steve berharap akan dapat merealisasikan niat tersebut pada 2015. Diakuinya Xiaomi ingin mendukung serta mendorong penetrasi 4G di Indonesia.

Ketika disinggung mengenai perusahaan Electronic Manufacturing Services (EMS) mana yang akan digandeng oleh Xiaomi untuk merakit ponselnya, Steve menjawab belum menentukan pabrikan mana yang akan diajak kerjasama. Seperti diketahui di Indonesia ada dua perusahaan yang bergerak di bidang tersebut yakni PT Tirdharma Persada (TDK) dan Satnusa Persada.


Aturan TKDN

Kebijakan penggunaan material lokal yang akan dilakukan pemerintah mengenai perhitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dikabarkan telah rampung. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, mengungkapkan bahwa perturan tersebut sudah ditandatanganinya.

“Kita akan uji publik mengenai TKDN ini. Saat ini, komposisi TKDN dalam satu produk yang sudah berjalan adalah 30:20 persen, 30 untuk network dan 20 persen untuk sub scriber station. Perhitungan untuk peraturan baru di awal 2017, akan menjadi 40:30, 40 untuk network dan 30 persen untuk sub scriber station,” jelas Rudiantara, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dirinya juga menuturkan bahwa peraturan baru ini tidak akan memberatkan produsen lokal maupun global, peraturan akan diikuti oleh semua produsen di industri telekomunikasi dalam produk besutannya yang akan dijual di dalam negeri.

Kebijakan mengenai TKDN untuk ponsel basis 4G diklaimnya akan dimulai pada bulan Janurari 2017 mendatang. Sedang perhitungannya diperkirakan sudah tepat, karena telah juga disepakati oleh tiga kementerian yang di Indonesia.


Sumber :

https://techno.okezone.com/read/2015/05/20/207/1152392/alasan-xiaomi-ogah-bangun-pabrik-di-indonesia

Related Posts