Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Wednesday, September 20, 2023

Warga Rempang Batal Direlokasi ke Pulau Galang

Warga Rempang Batal Direlokasi ke Pulau Galang, Bahlil Beberkan Opsi Pabrik Xinyi 

Rabu, 20 September 2023

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan merelokasi warga Pulau Rempang ke Pulau Galang.  Bahlil menuturkan, warga lokal yang terkena dampak dari rencana investasi produsen kaca asal China, Xinyi Group, hanya akan digeser ke daerah lain yang masih dalam satu kawasan Pulau Rempang. 

“Itu bukan relokasi karena kalau dari Rempang ke Pulau Galang itu kan relokasi beda pulau, tapi kalau dari Rempang ke Rempang itu bukan rekolasi, itu pergeseran,” kata Bahlil saat ditemui di Nusa Dua, Bali, Rabu (20/9/2023).  

Bahlil mengeklaim masyarakat yang terkena dampak rencana revitalisasi Pulau Rempang seluas 17.000 hektare itu sudah menyetujui proposal yang disampaikan pemerintah ihwal pergeseran tempat tinggal saat ini. 

Revitalisasi Pulau Rempang itu akan diarahkan untuk menjadi kawasan yang mencakup sektor industri, perdagangan, hunian, dan pariwisata yang terintegrasi.  Dari 17.000 hektare tersebut, hanya 7.000 hektare yang akan dikelola, sedangkan 10.000 hektare lainnya merupakan kawasan hutan lindung. 

Untuk tahap pertama, pembangunan kawasan industri akan dilakukan pada luas lahan sekitar 2.000-2.500 hektare.  

Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Untuk tahap awal, pengembangan kawasan ini sudah diminati oleh Xinyi Group yang akan berinvestasi untuk pembangunan pabrik kaca dan panel surya terintegrasi senilai US$11,5 miliar atau setara Rp174 triliun. 

Di sisi lain, Bahlil menegaskan, pemerintah akan menyiapkan hunian baru untuk 700 kepala keluarga yang terdampak pengembangan investasi di tahap pertama. Rumah type 45 dengan nilai sekitar Rp120 juta tersebut akan dibangun dalam rentang waktu 6 sampai 7 bulan. 

Sementara menunggu waktu konstruksi, warga akan diberikan fasilitas berupa uang dan tempat tinggal sementara.  “Start dimulai sekarang, kan kita sedang melakukan pendataan untuk mereka bisa bergeser, setelah itu langsung dibangun,” kata dia.  

Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pengusahaan (BP) Batam memperpanjang pendaftaran pemindahan warga Pulau Rempang yang terimbas proyek Rempang Eco City dari jadwal semula yang seharusnya berakhir 20 September 2023.  

Hal tersebut diungkapkan Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol Badan Pengusahaan (BP) Batam Ariastuty Sirait, Selasa (19/9/2023).   "Pendaftaran pertama tanggal 20 September 2023. Namun yang ini bersifat dinamis, kami mengikuti arahan dari pemerintah pusat saja," katanya di Gedung BP Batam.  

Begitu juga dengan rencana pengosongan tahap pertama, dimana batas akhirnya 28 September 2023. Lagi-lagi, Tuti menyebut masih akan melihat kondisi terbaru, sambil menunggu keputusan dari Jakarta. Sementara itu, ia juga menyebut bahwa jumlah warga yang sudah mendaftar untuk direlokasi baru sekitar 100 KK. "Sudah lebih dari 100 KK yang mendaftar," ungkapnya.


Sumber :

https://ekonomi.bisnis.com/read/20230920/9/1697052/warga-rempang-batal-direlokasi-ke-pulau-galang-bahlil-beberkan-opsi-pabrik-xinyi.

Sunday, September 17, 2023

Sejarah Pulau Rempang Diungkap Peneliti BRIN

Melayu Galang, Orang Darat dan Orang Laut adalah Suku Asli Pulau Rempang 

Pulau Rempang dan Galang yang terletak di Kota Batam, Kepulauan Riau ini, tengah jadi sorotan di Indonesia, buntut polemik lahan dan penolakan relokasi warga. 

Minggu, 17 September 2023

Pulau Rempang dan Galang yang terletak di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau ini, tengah menjadi sorotan dari berbagai daerah yang ada di Indonesia.  Sebab, ribuan warga dari dua pulau tersebut, sempat terlibat bentrok dengan aparat, saat aksi demonstrasi penolakan relokasi warga Rempang dan Galang. 

Sedikitnya ada 16 titik kampung tua melayu di Pulau Rempang dan Galang yang terancam direlokasi, lantaran adanya rencana pembangunan Kawasan Terpadu Rempang Eco City oleh PT Makmur Elok Graha (MEG). Usut punya usut, 16 titik kampung tua di Pulau Rempang dan Galang ini ternyata memiliki sejarah yang sangat panjang.  

Memang, orang-orang pada umumnya mengetahui bahwa peradaban di Pulau Rempang dan sekitarnya baru ada pada abad ke-19, atau sekitar tahun 1834. Jika ditelusuri lebih dalam lagi, kehidupan di Pulau Rempang, Galang dan sekitarnya sudah ada sejak zaman Kesultanan Melaka, sebuah Kerajaan Melayu yang berpusat di Malaka.  

Hal ini diungkapkan oleh Dedi Arman, seorang Peneliti Sejarah Pusat Riset Kewilayahan-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). "Banyak yang menyatakan, orang Melayu di Pulau Rempang dan Galang baru ada di tahun 1834. Tapi menurut saya, orang melayu yang berdiam di sana, sudah ada jauh dari tahun tersebut," ujar Dedi, Sabtu (16/9/2023). 

Pada abad ke-19, kata Dedi banyak laporan atau berkas yang menyatakan bahwa pejabat Belanda, Elisha Netscher pernah berkunjung ke Pulau Rempang sekitar tahun 1946.  Kala itu, Pulau Rempang sudah banyak dihuni oleh orang-orang, yang berasal dari suku Melayu Galang, Orang Darat dan Orang Laut. 

Kendati demikian, Dedi tetap keberatan jika peradaban di Pulau Rempang dan sekitarnya disebut baru ada pada abad ke-19.  Ia menyatakan, pada tahun 1722-1818 Pusat Pemerintahan Temenggung Riau Lingga dipindahkan dari Hulu Riau (Tanjungpinang), ke Pulau Bulang (dekat Pulau Rempang dan Galang). 

Menurutnya, ini adalah salah satu bukti bahwa Pulau Rempang, Galang dan sekitarnya sudah lama didiami atau ditinggali oleh orang Melayu Galang, Orang Darat dan Orang laut.  "Artinya di tahun tersebut sudah ada kehidupan di Pulau Rempang dan sekitarnya. 

Kenapa, karena jika ada pusat pemerintahan, harus ada orang atau rakyat. Jadi banyak sekali catata catatan kita, yang menyatakan bahwa orang di Pulau Rempang, Galang dan sekitarnya sudah lama ditinggali," ungkapnya. 

Sementara historis lainnya, pada tahun 1829, Sultan Riau Lingga, Sultan Abdul Rahman memberikan kuasa kepada Raja Isa atau Nong Isa untuk memimpin Nongsa (Pulau Batam, Galang, Rempang dan Sekitarnya). 

Bahkan, tahun tersebut merupakan hari lahirnya Batam. Penyerahan kuasa ini merupakan bukti, bahwa Pulau Batam dan sekitarnya sudah banyak dipadati masyarakat pada tahun 1829.  "Kalau dari cerita rakyat lebih banyak lagi, seperti pada tahun 1837 kapal inggris dibajak di Pulau Galang. 

Ternyata lanun atau bajak laut itu orang Melayu Galang," terang Dedi. Dedi menambahkan, suku laut atau lebih dikenal dengan orang laut, merupakan salah satu suku asli di Pulau Rempang.  Mereka tinggal di pesisir yang tersebar di Pulau Batam Rempang dan Galang (Barelang). 

Sementara Orang Darat, berada di pedalaman Pulau Rempang. "Orang darat adanya di Kampung sadap, dan hanya tinggal beberapa Kartu Keluarga (KK) saja. Jadi menurut saya, yang bisa dibilang suku asli, ya tiga kelompok tadi. Selebihnya pendatang, sejak Jembatan Barelang selesai dibangun pada 1998," tutupnya.


Sumber :

https://www.tvonenews.com/daerah/sumatera/153134-sejarah-pulau-rempang-diungkap-peneliti-brin-melayu-galang-orang-darat-dan-orang-laut-adalah-suku-asli-pulau-rempang?page=all

Wednesday, March 15, 2023

Sejarah Pulau Batam


Pulau Batam dihuni pertama kali oleh orang melayu dengan sebutan orang selat sejak tahun 231 Masehi. Pulau yang pernah menjadi medan perjuangan Laksamana Hang Nadim dalam melawan penjajah ini digunakan oleh pemerintah pada dekade 1960-an sebagai basis logistik minyak bumi di Pulau Sambu.

Pada dekade 1970-an, dengan tujuan awal menjadikan Batam sebagai Singapura-nya Indonesia, maka sesuai Keputusan Presiden nomor 41 tahun 1973, Pulau Batam ditetapkan sebagai lingkungan kerja daerah industri dengan didukung oleh Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam atau lebih dikenal dengan Badan Otorita Batam (BOB) sebagai penggerak pembangunan Batam. 

Kini menjadi Badan Pengusahaan (BP Batam).Seiring pesatnya perkembangan Pulau Batam, pada dekade 1980-an, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 1983, wilayah Kecamatan Batam yang merupakan bagian dari Kabupaten Kepulauan Riau, ditingkatkan statusnya menjadi Kotamadya Batam yang memiliki tugas dalam menjalankan administrasi pemerintahan dan kemasyarakatan serta mendudukung pembangunan yang dilakukan Otorita Batam (BP Batam).

Di era reformasi pada akhir dekade tahun 1990-an, dengan Undang-Undang nomor 53 tahun 1999, maka Kotamadya administratif Batam berubah statusnya menjadi daerah otonomi, yaitu Pemerintah Kota Batam untuk menjalankan fungsi pemerintahan dan pembangunan dengan mengikutsertakan Badan Otorita Batam (BP Batam).

Sumber :
https://jdih.batam.go.id/?page_id=500#:~:text=Pulau%20Batam%20dihuni%20pertama%20kali,selat%20sejak%20tahun%20231%20Masehi.

Wednesday, May 5, 2021

Asal-usul Nama Batam

Asal-usul Nama Batam: dari Akronim Batu Ampa dan Batang 

Batam adalah kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau dan merupakan salah satu kota industri di Indonesia yang paling menonjol. Kota Batam sendiri baru dikembangkan awal tahun 1970-an, namun kini telah menjadi salah satu kota metropolis di Indonesia. 

Wilayah Kota Batam terdiri dari Pulau Batam, Pulau Rempang dan Pulau Galang dan pulau-pulau kecil lainnya di kawasan Selat Singapura dan Selat Malaka. Pulau Batam, Rempang, dan Galang terkoneksi oleh Jembatan Barelang. 

Asal-usul nama kota Batam memiliki beragam versi. Hingga kini, belum ada data yang valid yang menjadi argumen pemberian nama Batam. Versinya beragam dan didapatkan dari berbagai sumber, terutama orang-orang lama yang justru berasal dari luar Pulau Batam. 

Dilansir laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI,  berbagai versi tentang hikayat Batam salah satu di antaranya disebutkan dalam buku “Patahnya Gunung Daik,” tulisan Drs. Abdul Razak. 

Di buku itu disebutkan bahwa “Batam” merupakan akronim dari “batu ampa,” yang merujuk pada cerita si Badang dan Putri Tumasik yang dikenal dalam khasanah hikayat rakyat Melayu. 

Namun, versi lain menyebut, “Batam” berasal dari kata “Batang.” 

Konon, ketika pertama kali tanah semenanjung tercipta, kawasan itu terkenal sangat labil. Ketika hembusan angin Selatan datang, tanah semenanjung itu diterpa angin kencang. Untuk melindungi kawasan labil itulah, dewa penunggu semenanjung meletakkan berbagai batang kayu yang masih berumbi di Belakang Selatan Semenanjung. 

Dahulu, rumpun batang itu dibentang lagi dengan rumpun batang yang lain. Lalu di bagian Selatan rumpun batang itu di Rempang dan di Galang pula dengan rumpun-rumpun batang lain. 

Pada akhirya, semua itu menjadi asal usul perkataan ‘Bintan,’ ‘Rempang.’ dan “Galang.’ Versi penamaan ‘Batam’ lainnya, tersebutkan pula dalam hikayat “Dari Nongsa ke Pulau Terong,” yang ditulis Abdul Basyid dan Raja Erwan. 

Versi ini menyebut, kata ‘Batam’ berasal dari kata pelanduk putih. Kalau ditilik dari akronimnya, kata ‘Batam’ dan ‘pelanduk putih'. Meskipun tidak memiliki korelasi secara tekstual. Tetapi hikayat ini mampu memperkaya khasanah asal-usul kota Batam. 

Pulau Batam dihuni pertama kali oleh orang Melayu dengan sebutan orang selat sejak tahun 231 Masehi. Pulau ini dulu pernah menjadi medan perjuangan Laksamana Hang Nadim dalam melawan penjajah yang kemudian digunakan oleh pemerintah pada dekade 1960-an sebagai basis logistik minyak bumi di Pulau Sambu. 

Pada dekade 1970-an, sesuai Keputusan Presiden nomor 41 tahun 1973, Pulau Batam ditetapkan sebagai lingkungan kerja daerah industri. Hal ini juga dengan didukung oleh Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam atau lebih dikenal dengan Badan Otorita Batam (BOB) sebagai penggerak pembangunan Batam.


Sumber :

https://www.kompas.com/sains/read/2021/05/03/163100123/asal-usul-nama-batam-dari-akronim-batu-ampa-dan-batang?page=all#page2.

Wednesday, April 14, 2021

Batam untuk Saingi Singapura

Harapan BJ Habibie Membangun Batam untuk Saingi Singapura 

Presiden ketiga RI, Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto di Jakarta, Rabu (11/9/2019). Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 itu meninggal akibat penyakit yang dideritanya. 

Semasa hidupnya, banyak hal yang telah diperbuat Presiden ketiga RI ini, terutama terhadap pembangunan di Batam, Kepulauan Riau. BJ Habibie, begitu panggilan akrabnya menginginkan Batam tumbuh pesat pembangunannya dan mampu menyaingi negara tetangga, yakni Singapura. 

Bahkan dalam kunjungannya belum lama ini ke Batam, BJ Habibie sempat berpesan dan menginginkan pengelolaan Batam kembali pada konsep awal. Hal ini menjadi solusi penting untuk menyelesaikan kisruh dualisme kewenangan yang terjadi di Batam saat ini antara BP Batam (Otorita Batam) dengan Pemko Batam, demi pengembangan Batam yang lebih baik. 

Ide pengembangan Batam: dari Soeharto hingga BJ Habibie Dia menceritakan ide pengembangan Batam pertama kali dicetuskan oleh Soeharto, sebelum menjadi Presiden. Saat ada konfrontasi dengan Malaysia, Soeharto ditugaskan di Batam. Pulau tidak berpenghuni ini letaknya berdekatan dengan Singapura, yang menjadi pusat lalu lintas perdagangan. 

Dan ketika Soeharto menjadi Presiden, Soeharto ingin Batam bisa menyaingi Singapura. Terlebih saat itu Pertamina sedang menikmati hasil keuntungan yang bagus, akibat harga minyak dunia yang tinggi. Tentunya tidak sulit bagi Soeharto untuk membangun Batam menjadi kota yang dapat menyaingi Singapura. 

Tahun 1971, Soeharto pun menugaskan Direktur Utama Pertamina Ibnu Sutowo untuk membangun Batam, pertimbangannya karena wilayah Batam dekat dengan daerah operasi Pertamina di Natuna. Pertamina membangun Batam menjadi lokasi logistik penyimpanan pipa untuk kebutuhan perminyakan. 

Baru dua tahun membangun Batam, Pertamina kesulitan keuangan. Ambil alih pengembangan Batam dari Pertamina Sehingga di tahun 1973 Soeharto meminta BJ Habibie mengambil alih pengembangan Batam dari Pertamina. BJ Habibie meminta agar pengembangan Batam diubah. 

Dia ingin pengembangan Batam dilakukan dengan caranya sendiri dan Soeharto menyetujuinya. Untuk bisa mengalahkan Singapura, luas Pulau Batam yang hanya 75 persen dari negara tersebut harus ditambah. 

Makanya dia memperluas daerahnya ke pulau lain di sekitarnya yakni Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru, dengan membangun enam Jembatan Barelang. Sebagai konseptor dan orang pertama yang menjadi Kepala Otorita Batam (BP Batam), BJ Habibie ingin Batam menjadi wilayah khusus ekonomi. 

"Batam ini dibangun untuk bisnis dengan harapan mampu menyaingi Singapura," kata Habibie saat berkunjung ke Batam belum lama ini. 

BJ Habibie ingin Batam menjadi ujung tombak pembangunan dan modernisasi Indonesia. Hingga akhirnya Batam diarahkan menjadi pusat industri di dalam negeri. Soal dualisme kewenangan BP Batam dan Pemkot Batam Saat ini dia cukup puas dengan pembangunan Batam yang sudah cukup maju, dibandingkan saat pertama kali dirinya masuk ke Batam. 

Meski begitu, dia mengakui masih ada permasalahan yang menghambat, terutama terkait dualisme kewenangan antara BP Batam dan Pemerintah Kota Batam. Bahkan untuk menimaliair dualisme kepemimpinan tersebut, Bapak Otorita Batam ini mengaku sangat setuju Batam menjadi provinsi tersendiri atau terlepas dari Kepulauan Riau. 

"Saya setuju Batam dijadikan provinsi istimewa dan sudah seharusnya Batam terpisah dari Kepulauan Riau untuk menjadi ujung tombak pusat ekonomi daerah terdepan Indonesia," jelas BJ Habibie. 

Dengan begitu, Batam bisa lebih cepat maju dengan konsep sebagai kota ekonomi, bila perlu menjadi kota pysat casino seperti Singapura dan Malaysia. 

"Yang penting sistemnya diperjelas, dan hanya diperuntukan untuk orang asing saja bukan orang Indonesia," paparnya.


Sumber :

https://regional.kompas.com/read/2019/09/12/06472021/harapan-bj-habibie-membangun-batam-untuk-saingi-singapura?page=all.

Wednesday, March 24, 2021

Kampung Dapur 12

Cerita Kampung Dapur 12 di Kota Batam, Dulu Jadi Pemasok Arang untuk Warga Singapura

Tak banyak yang tahu jika di Kota Batam ada sebuah daerah yang memiliki nama unik yakni Kampung Dapur 12. Kampung ini cukup jauh dari hiruk pikuk Kota Batam tepatnya berada di Kelurahan Sei Pelunggut, Kecamatan Sagulung, Kota Batam. 

Dahulu kala, kampung tua ini memasok kebutuhan arang untuk memasak warga Singapura. Kampung Tua Dapur 12 awalnya bernama Kampung Tanjung Atok Itam. Namun untuk mengenang sejarah, kampung tersebut diberi nama Kampung Tua Dapur 12.

Pada masa lampau penduduk Batam yang disebut masyarakat Melayu mencukupi kebutuhannya dengan menangkap ikan. Selain itu mereka berdagang, mencari kayu, membuat tembikar, dan sebagainya. Sementara orang Tionghoa yang dikenal dengan sebutan nama Cina Kebun sebagian besar adalah imigran dari dataran Tiongkok yang menetap di pedalaman hutan dan membuka perkebunan karet, gambir, hingga merica. 

Sekitar tahun 1930-an, ada orang China yang membuka usaha dapur arang dan bekerja sama dengan orang Melayu yang mencari kayu bakau untuk pembuatan arang. Dikutip dari Buku Mozaik Batam di Bumi Segantang Lada yang ditulis oleh H Mhd Alfan Suheiri dijelaskan jika hutan bakau yang tumbuh sumbur di sepanjang pesisir Batam menjadi berkah bagi penduduk temppatan. 

Selain sebagai nelayan, sebagian penduduk menebangi hutan kayu bakau dan mengolah kayunya menjadi arang. Kayu arang olahan penduduk Batam bernilai ekonomis tinggi dan sangat laku di Singapura. 

Akhirnya kayu arang tersebut menjadi salah satu komiditas yang dijual ke Singapura. Penjualan arang sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda. Oleh warga Singapura, arang digunakan untuk bahan bakan saat memasak. Biasanya arang yang dibuat oleh warga Batam dibawa oleh toke arang dengan menggunakan kapal kayu. Bahkan sangking larisnya, dalam sehari toke arang bisa bolak-balik Batam-Singapura. 

Saat ke Singapura mereka membawa arang dan ketika pulang ke Batam, mereka membawa sembako. Transaksi yang dilakukan kala itu dengan cara tukar barang atau barter. Alfan Suheiri menulis pengiriman arang besar-besaran dari Batam ke Singapura terjadi pada tahun 1960-an. 

Saat itu kebutuhan arang cukup tinggi karena penduduk Singapura mulai ramai. Biasanya arang diproduksi di lokasi pesisir Batam dan dapur arang yang digunakan adalah milik tauke yang akan mempekerjakan beberapa orang. Namun ada juga tauke yang mengumpulkan arang dari penduduk dan jika jumlahnya sudah banyak akan dibawa ke Singapura. 

Ada 12 dapur arang berukuran besar 

Dari cerita tutur masyarakat sekitar, di Kampung Tanjung Atok Itam ada 12 dapur arang berukuran besar. Namun saat ini hanya ada beberapa dapur arang yang tersisa. Satu dapur arang berukuran besar dengan tinggi limer meter dan luas lebih dari 25 meter. 

Satu dapur arang bisa menghasilkan 30 ton arang dengan pembakaran antara 1 bulan hingga 1,5 bulan. Dua dapur arang dibangun oleh ayah Samyong, seorang tauke arang yang berasal dari Singapura. Tony A Samyong (Sam Hiong) adalah salah seorang pejuang pada zaman konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia. 

Saat Samyong masih kecil, ia dan ayahnya hijrah dari Singapura ke Batam dan mendirikan usaha dapur arang yang diteruskan oleh Samyong. Diceritakan saat Samyong berusia 12 tahun di tahun 1947, ia sudah terjun membuat arang membantu ayahnya. Di masa kejayaannya, satu dapur arang bisa menghasilkan hampir 30 ton arang yang dijual ke Singapura dengan mata uang dollar Singapura. 

Selain di Dapur 12, keluarga Samyong juga memiliki dapur arang di Seijodoh dan menjadi satu-satunya usaha dapur arang di lokasi tersebut. Kala itu, masyarakat melayu di Seijodoh masih bekerja sebagai nelayan dan sebagian berkebun. 

Usaha dapur arang juga ditemukan di hampir semua pesisir Batam dan muara sungai seperti Seijodoh, Duriangkang, Dapur 12, Sungai Buluh dan tempat lainnya. Selain dekat dengan bahan utama yakni kayu bakau, pemilihan lokasi di muara sungai dan pesisir adalah untuk memudahkan mengirim arang dengan perahu ke Singpaura. 

Kala itu banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari dapur arang. Namun sekitar tahun 1980 usaha dapur arang tersebut sudah tidak bisa bertahan, karena bahan yang digunakan sudah mulai menipis. 

Mulai berkurangnya bahan yang akan diproduksi dapur arang tidak bisa semua digunakan hanya beberapa dapur yang bisa digunakan. Seiring berjalannya waktu bisnis dapur arang sudah tidak bisa beroperasi karena bahan sudah tidak ada dan Batam sudah dibangun oleh pemerintah pusat. 

Saat ini usaha dapur arang tersebut hanya tinggal kenangan dan tidak adalagi aktivitas pembakaran arang. Bahkan dapurnya pun sudah lapuk dimakan usia karena tidak pernah digunakan. Untuk mengenang sejarah maka tetua Kampung Tanjung Atok Itam sepakat memberi nama kampung mereka menjadi Kampung Tua Dapur 12.


Sumber :

https://regional.kompas.com/read/2021/02/21/09100081/cerita-kampung-dapur-12-di-kota-batam-dulu-jadi-pemasok-arang-untuk-warga?page=all#page2.

Sunday, April 19, 2015

Jembatan Barelang

SEJARAH SINGKAT JEMBATAN BARELANG

Kuatnya keinginan investor untuk investasi ke Pulau Batam mencapai puncaknya pada akhir 1991. Kala itu pengajuan permohonan investasi baru hanya dapat dipenuhi sekitar 8% dari 1.500 perusahaan yang sedang menunggu di pintu masuk. Fenomena ini membuktikan teori balon yang dicetuskan oleh BJ Habibie selaku aktor utama pengembangan kawasan industri Pulau Batam. Batam yang dianalogikan seperti balon mulai kepenuhan, sehingga pemerintah perlu bersiap-siap untuk meniup balon berikutnya.

Ir. Gunawan Hadisusilo yang kala itu menjabat sebagai Asisten 1 Bidang Umum Ketua otorita Batam dan beberapa staf lainnya, Bj Habibie berkeliling menelusuri gugusan Kepulauan Batam, Rempang dan Galang (Barelang) dengan menggunakan helikopter. Dengan telunjuknya, Habibie menarik garis untuk menghubungkan pulau Batam hingga ke pulau Galang Baru ke arah Selatan. Ide untuk membuat jembatan penghubung plus jalan trans Trans Barelang kemudian tercetus. Ir Gunawan yang ditunjuk sebagai ketua tim pembangunan jembatan Barelang segera menerjemahkan konsep Bj Habibie dengan menyusun desain dan kerangka teknisnya.


Sebagai tindak lanjut pengembangan lingkungan kerja Daerah Industri Pulau Batam ke wilayah Rempang dan Galang, maka dibentuklah tim kerja. Yaitu pembuatan detail jalan dan jembatan ditunjuk tim LAPl-ITB sementara untuk pembuatan Master Plan Barelang ditunjuk tim LEMTEK-UI, dan untuk evaluasi dampak sosial dilakukan oleh Universitas Gajah Mada (UGM). Proyek pembuatan enam jembatan antarpulau yang dibidani oleh Ir Gunawan ini merupakan proyek jembatan pertama kali yang dilaksanakan di Indonesia, khususnya dalam hal teknologi, apalagi mulai dari desain, pelaksanaan dan pengawasan dilaksanakan oleh putera-puteri Indonesia dengan menelan biaya lebih dari Rp 400 miliar. Biaya yang dihabiskan ini tampaknya sangat sebanding jika dilihat dari kemegahan jembatan kokoh ini.

Keenam jembatan ini dimulai pembangunannya pada oktober 1993 dan selesai secara bertahap pada tahun 1996 hingga 1998.
Ir. Gunawan sebagai salah satu arsiteknya, telah membuktikan kemampuannya dalam me manage pengerjaan jembatan ini hingga rampung. Jembatan Barelang kini menjadi ikon dan landmark Pulau Batam, namun nama Ir Gunawan hanya terdengar lamat-lamat, nyaris tak tersebut apalagi diabadikan Lokasi Jembatan Barelang terletak sekitar 20 kilometer dari pusat kota Batam, provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.

Jembatan Barelang terdiri dari enam buah jembatan yang menghubungkan tiga pulau besar dan beberapa pulau kecil yang termasuk dalam provinsi Kepulauan Riau. Nama Barelang sendiri merupakan kepanjangan dari Batam-Rempang-Galang. Batam-Rempang-Galang adalah nama tiga buah pulau besar yang dihubungkan oleh jembatan ini.

Jembatan dengan total panjang 2.264 meter ini terdiri dari rangkaian enam jembatan yang masing-masing diberi nama raja yang pernah berkuasa pada zaman Kerajaan Melayu Riau pada abad 15-18 Masehi.

1. Jembatan Barelang 1/ Jembatan Tengku Fisabilillah. 
Jembatan berjenis Cable Stayed ini adalah jembatan yang paling dikenal oleh masyarakat. Jembatan ini menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton dan memiliki panjang 642 meter lebar 21,5 meter dan tinggi 350 meter. Konon ada yang mengatakan bahwa struktur dan model jembatan ini mirip dengan golden gate-nya San Fransisco USA.. tampaknya benar sekali.

2. Jembatan Barelang 2/ Jembatan Narasinga.
Jembatan yang berjenis Concrete Box Girder ini menghubungkan Pulau Tonton dengan Pulau Nipah, berbentuk lurus tanpa lengkungan dan memiliki panjang 420 meter, lebar 15 meter dan tinggi. 160 meter Tidak kalah megahnya dengan Jembatan sebelumnya.

3. Jembatan Barelang 3/ Jembatan Ali Haji 
Jembatan yang berjenis Concrete Box Girder menghubungkan Pulau Nipah dengan Pulau Setokok dan memiliki panjang 270 meter, tinggi 45 meter, dan lebar 15 meter.

4. Jembatan Barelang 4/ Jembatan Sultan Zainal Abidin
Jembatan yang juga berjenis Concrete Box Girder ini menghubungkan Pulau Setokok dengan Pulau Rempang dan memiliki panjang lebar tinggi 365 x 18 x 145 meter.

5. Jembatan Barelang 5/ Jembatan Tuanku Tambusai 
Jembatan yang berjenis Pelengkung ini menghubungkan Pulau Rempang dengan Pulau Galang dan memiliki panjang tinggi lebar 385 x 245 x 31 meter.

6. Jembatan Barelang 5/ Jembatan 
Jembatan yang juga berjenis Concrete Box Girder ini menghubungkan Pulau Galang dengan Pulau Galang Baru dan memiliki panjang tinggi lebar 180 x 45 x 9,5 meter.
Jembatan keenam ini sangat dikenal karena nilai sejarah dari pulau yang dihubungkannya. Di Pulau Galang ini pernah dijadikan tempat penampungan sedikitnya 250.000 pengungsi dari Vietnam pada tahun 1975-1996. Kisah ini dimulai 19 Aprik 1975, saat pecah perang saudara di Vietnam. Perang yang berlangsung panjang pada akhirnya selalu menyebabkan kesengsaraan.

Masyarakat umum yang sering tidak mengerti apa-apa akhirnya yang selalu menjadi korban. Untuk menyelamatkan diri, daripada bertahan di Vietnam. Bekas tempat pengungsian yang berada di Desa Sijantung, Kecamatan Galang ini masih menyisakan benda-benda atau bangunan-bangunan peninggalan para pengungsi. Peninggalan yang kaya dengan nilai sejarah ini, tidak ada yang mau melewatkannya dan telah membuat takjub banyak orang. Semua benar-benar ada dan nyata di sini.

Pemerintah Kota Batam menjadikan Jembatan Barelang sebagai simbol kota dan juga ikon untuk program Visit Batam 2010. Tertarik ke pulau Batam, jangan lewatkan berkunjung ke “ikon”nya kota Batam.

Oleh masyarakat Batam, Jembatan Barelang ini tidak hanya difungsikan untuk menghubungkan beberapa pulau saja. Namun, jembatan ini juga digunakan untuk bersantai dan melepas lelah. Maka tak heran, jika pada akhir pekan ataupun hari libur, suasana ramai dapat ditemui di jembatan ini. Banyak orang yang duduk santai sambil menikmati pemandangan laut dari atas jembatan atau memancing ikan. Selain itu, jembatan ini juga turut menarik perhatian para wisatawan dari luar Batam, karena bentuknya yang megah, menyerupai Golden Gate, yang ada di San Francisco, Amerika Serikat.

Jembatan Tengku Raja Haji Fisabilillah merupakan jembatan yang paling terkenal dibanding lima jembatan lainnya, karena menggunakan konstruksi cable stayed. Kabel-kabel baja besar digunakan sebagai pengikat jembatan. Ujung-ujung kabel terikat di tepi jalan dengan jarak tertentu, lalu ujung lainnya terkumpul pada satu titik di atas puncak tonggak beton setinggi 200 m. Dari kejauhan, bentuk jembatan ini akan tampak seperti jaring raksasa berbentuk segitiga. Namun, ketika semakin mendekat, bentuk jembatan ini akan mengingatkan pengunjung pada Golden Gate. Berdiri di jembatan ini, dan menghadap ke arah jembatan kedua, pengunjung dapat melihat pemandangan yang indah: hamparan laut dan juga pulau-pulau kecil yang ada di sekitar kedua pulau ini.

Jika wisatawan ingin berfoto dengan latar belakang Golden Gate a la Batam, maka lanjutkanlah perjalanan ke Jembatan Narasinga. Karena dari sini merupakan tempat paling cocok untuk berfoto dengan latar belakang jembatan pertama tersebut. Selain itu, dari jembatan ini pula, pengunjung dapat melihat sebuah pulau yang sangat kecil tidak berpenghuni, dan hanya terdiri dari bebatuan yang mulai terkikis air laut.

Selain jembatan pertama, jembatan yang juga terkenal adalah jembatan keenam, Raja Kecil. Jembatan ini dikenal karena nilai sejarah dari pulau yang dihubungkannya. Di Pulau Galang ini pernah dijadikan tempat penampungan 250.000 pengungsi dari Vietnam, pada tahun 1975-1996. Bekas tempat pengungsian yang berada di Desa Sijantung, Kecamatan Galang ini, masih menyisakan benda-benda maupun bangunan-bangunan peninggalan para pengungsi, seperti, gereja, pagoda, vihara, kuburan massal, ataupun bekas perahu-perahu kayu. Jadi, setelah melewati keseluruhan rangkaian Jembatan Barelang ini, maka setiba di Pulau Galang, pengunjung dapat melihat sisa-sisa peninggalan bersejarah dari kamp pengungsian tersebut.

Jembatan Barelang terletak sekitar 20 km dari pusat Kota Batam. Agar dapat lebih menikmati perjalanan di jembatan ini, anda disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi. Namun, jika tidak memiliki kendaraan pribadi, Anda dapat menggunakan Metro Trans (angkutan umum di Kota Batam) dengan tarif antara Rp 3.000,00—Rp 5.000,00. Atau, pengunjung juga dapat menyewa taksi yang banyak melintas di sekitar jembatan. Biaya sewa taksi memang akan lebih mahal dari pada bus, namun pengunjung bisa lebih santai untuk menikmati perjalanan ini.

Untuk berjalan-jalan di sepanjang jembatan ini, pengunjung tidak dipungut biaya apapun. Di kedua ujung jembatan pertama terdapat banyak warung yang menyediakan aneka makanan dan minuman. Jadi, jika merasa lelah para pengunjung dapat beristirahat sejenak di warung-warung ini. Saat ini ada restaurant dan kelong yang menyediakan makanan laut (sea food).

Di akhir pekan ataupun hari-hari libur, di sepanjang jembatan ini akan banyak ditemui pedagang kaki lima yang menjajakan beragam jenis minuman dan makanan, seperti es kelapa muda, jagung bakar, dan peyek udang. Selain itu, ada juga penjual bensin eceran dan juga tukang tambal ban dadakan. Siapa tahu, dalam menyusuri jembatan, pengunjung kehabisan bensin.
Nah, bagi rekan-rekan yang berkunjung ke batam, jangan lupa utk mengunjungi tempat ini.


Sumber :
https://www.facebook.com/wajahbatamfanpage/videos/964802903538231/?fref=nf

Tuesday, May 21, 2013

Sejarah Kota Batam


Menurut sejarah, pengembangan Pulau Batam dapat dilihat pada tiga periode yang berbeda yakni periode masa lampau, periode pendudukan kolonial dan periode globalisasi. Perkembangan pulau Batam awalnya berasal dari Pemerintahan Kesultanan yang sekarang telah berbaur dengan Republik Singapura dan kerajaan Malaysia yang terlebih dahulu menganut paham moderat.

Sejarah pulau Batam dapat ditelusuri ketika pertama kali Bangsa Mongolia dan Indo-Aryans pindah dan menetap di kerajaan Melayu sekitar tahun 1000 M atau sebelum kerajaan Islam Malaka dan Bintan muncul serta saat datangnya Pemerintahan Kolonial Eropa yang diprakarsai oleh bangsa Portugis, Belanda dan Inggris. 

Sejak tahun 1513 M, pulau Batam dan Singapura telah menjadi bagian dari kesultanan Johor. Penduduk pulau Batam sendiri berasal dari orang Melayu atau yang lebih dikenal dengan orang Selat atau orang Laut. Mereka menempati wilayah tersebut sejak zaman kerajaan Temasek atau paling tidak dipenghujung tahun 1300 M (awal abad ke-14). 

Referensi lain menyebutkan, pulau Batam telah dihuni orang Laut sejak 231 M.
Ketika Singapura dinamai Temasek yang dikelilingi oleh perairan, wilayah ini telah dijadikan sebagai pusat perdagangan yang dikuasai oleh Temanggung Tempatan (pemimpin wilayah).

Akibat dari pesatnya perdagangan tersebut membuat kerajaan Melayu Johor, Penyengat serta Lingga/Daik menjadi kuat dan mereka memperluas daerah kekuasaan sampai ke kawasan Malaka. Bukan itu saja, pulau Sumatera Bagian timur juga menjadi bagian dari kekuasaan mereka. sampai akhirnya datang bangsa Belanda dan Inggris pada tahun 1824 M, yang kemudia mengambil alih tampuk kekuasaan sekaligus menjadi daerah jajahannya dan muncullah paham politis yang baru. 

Di abad ke-19, persaingan antara Inggris dan Belanda amatlah tajam dalam upaya menguasai perdagangan di perairan Selat malaka. Bandar Singapura juga maju pesat, mengakibatkan Belanda dengan berbagai cara ingin menguasai perdagangn Melayu dan aktivitas lainnya yang melewati kawasan tersebut. Terjadilah penyusupan tersembunyi yang dilkukan oleh pedagang Singapura. hal ini sangat menguntungkan pulau Batam yang berdekatan dengan Singapura sebagai tempat bersembunyi dari gangguan patroli Belanda.

Pada 17 Maret 1824, Pemerintah Inggris Baron Fagel dari Belanda menandatangani perjanjian London (Anglo-Deutch Tractate berisi : Belanda mengaku kedudukan Inggris di Malaka dan Singapura, sementara itu Bencoolen (Bengkulu, Sumatera) menjadi kekuasaan Belanda sekaligus menguasai kepuluan Riau).

Setelah kerajaan Melayu Riau yang berpusat di Lingga berpisah dari Johor, maka yang dipertuan besar bergelar Sultan membagi wilayah administrasi pemerintahan dalam kerajaan Melayu Lingga-Riau menjadi tiga bagian. Yakni kekuasaan Sultan di Daik Lingga, Yang Dipertuan Muda di Penyengat dan Tumenggung di Bulang. Ketiga wilayah ini menjadi satu kesatuan yang utuh dalam menjalankan roda pemerintahan. namun secara umum yang menjadi titik sentral dalam menjalankan roda pemerintahan di kerajaan Melayu dipegang Yang Dipertuan Muda yang berkedudukan di Penyengat.

Batam sendiri saat itu, merupakan wilayah kekuasaan Tumenggung, Tumenggung yang pertama di Bulang bergelar Tengku Besar. Sementara yang menjadi Tumenggung terakhir adalah Tumenggung Abdul Jamal. Sebagai pusat kekuasaan dan yang menjalankan roda pemerintahan, pada tahun 1898, Yang Dipertuan Muda yang berpusat di Penyengat, mengeluarkan sepucuk surat yang ditujukan kepada Raja Ali Kelana bersama seorang saudaranya untuk mengelola pulau Batam. bekal surat itulah, Raja Ali Kelana kemudia mengembangkan usahanya di pulau Batam. Slaah satunya mendirikan pabrik batu bata.

Pada tahun 1965 Temasek melepaskna diri dari Federasi Malaysia (1963-1965) untuk menjadi negara Singapura yang bebas. Pada awal kemerdekaan Indonesia tahun 1945 hingga 1957, Tanjung Pinang dinobatkan sebagai pusat pemerintahan dan bisnis di bagian Timur Sumatera. Tanjung Pinang kemudian ditetapkan sebagai ibukota propinsi Riau yang kemudian diikuti oleh Pekanbaru yang terletak di Sumatera. Semenjak itu, Tanjung Pinang resmi menjadi ibukota Kabupaten Kepuluan Riau yang melingkupi 17 kecamatan termasuk di antaranya pulau Batam.

Untuk jangka panjang, belum ada pulau lain secara relatif bisa berkembang seperti Pulau Batam yang terus mengalami pembangunan yang sangat pesat. Padahal secara turun temurun, Belakang Padang adalah kota besar dan Batam hanya suatu tempat yang hanya dijadikan sebagai destinasi kedua setelah Belakang Padang. Tahun 1957 Pulau Buluh menjadi satu kesatuan dengan pulau Batam dan menjadi bagian dari Belakang Padang sekitar tahun 1965. Sementara pada tahun 1971, dengan keputusan Presiden No. 74 / 1971, Pemerintah pusat mengumumkan secara resmi bahwa pulau Batam sebagai suatu zona industri.

Pulau Batam yang merupakan bagian dari Propinsi Riau memiliki banyak nilai tambah. Dengan modal jalur pelayaran internasional serta jarak dengan negara Singapura hanya 12.5 mil laut atau sekitar 20 Km, maka untuk memacu perkembangan di wilayah nusantara dari semua aspek kehidupan, khususnya dibidang ekonomi, maka Pemerintah Indonesia mengembangkan Pulau Batam menjadi Otorita pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (OPDIPB).

Sumber : pn-batam.go.id

Sejarah Pulau Batam

Batam merupakan salah satu pulau yang berada di antara perairan Selat Malaka dan Selat Singapura. Tidak ada literatur yang dapat menjadi rujukan dari mana nama Batam itu diambil. 

Pulau Batam merupakan sebuah pulau besar dan 329 pulau yang ada di wilayah Kota Batam. Satu-satunya sumber yang dengan jelas menyebutkan nama Batam dan masih dapat dijumpai sampai saat mi adalah Traktat London (1824). 

Penduduk asli Kota Batam diperkirakan adalah orang-orang Melayu yang dikenal dengan sebutan Orang Selat atau Orang Laut. Penduduk ini paling tidak telah menempati wilayah itu sejak zaman kerajaan Tumasik (sekarang Singapura) dipenghujung tahun 1300 atau awal abad ke-

14. Malahan dan catatan lainnya, kemungkinan Pulau Batam telah didiami oleh orang laut sejak tahun 231 M yang di zaman Singapura disebut Pulau Ujung. Pada masa jayanya Kerajaan Malaka, Pulau Batam berada di bawah kekuasaan Laksamana Hang Tuah. 

Setelah Malaka jatuh, kekuasaan atas kawasan Pulau Batam dipegang oleh Laksamana Hang Nadim yang berkedudukan di Bentan (sekarang P. Bintan). Ketika Hang Nadim menemui ajalnya, pulau ini berada di bawah kekuasaan Sultan Johor sampai pada pertengahan abad ke.18. 

Dengan hadirnya kerajaan di Riau Lingga dan terbentuknya jabatan Yang Dipertuan Muda Riau, maka Pulau Batam beserta pulau-pulau lainnya berada di bawah kekuasaan Yang Dipertuan Muda Riau, sampai berakhirnya keraj aan Melayu Riau pada tahun 1911.

Di abad ke-18, persaingan antara Inggris dan Belanda amatlah tajam dalam upaya menguasai perdagangan di perairan Selat Melaka. Bandar Singapura yang maju dengan pesat, menyebabkan Belanda berusaha dengan berbagai cara menguasai perdagangan melayu dan perdagangan lainnya yang lewat di sana. 

Hal ini mengakibatkan banyak pedagang yang secara sembunyi-sembunyi menyusup ke Singapura. Pulau Batam yang berdekatan dengan Singapura, amat bermanfaat bagi pedagang-pedagang untuk berlindung dan gangguan patroli Belanda. 

Pada abad ke-18, Lord Minto dan Raffles dan kerajaan Inggris melakukan Barter dengan pemerintah Hindia Belanda sehingga Pulau Batam yang merupakan pulau kembar dengan Singapura diserahkan kepada pemerintah Belanda. 

Sumber artikel : pn-batam.go.id
Sumber foto : saudaratua.wordpress.com

Related Posts