Wednesday, March 24, 2021

Kampung Dapur 12

Cerita Kampung Dapur 12 di Kota Batam, Dulu Jadi Pemasok Arang untuk Warga Singapura

Tak banyak yang tahu jika di Kota Batam ada sebuah daerah yang memiliki nama unik yakni Kampung Dapur 12. Kampung ini cukup jauh dari hiruk pikuk Kota Batam tepatnya berada di Kelurahan Sei Pelunggut, Kecamatan Sagulung, Kota Batam. 

Dahulu kala, kampung tua ini memasok kebutuhan arang untuk memasak warga Singapura. Kampung Tua Dapur 12 awalnya bernama Kampung Tanjung Atok Itam. Namun untuk mengenang sejarah, kampung tersebut diberi nama Kampung Tua Dapur 12.

Pada masa lampau penduduk Batam yang disebut masyarakat Melayu mencukupi kebutuhannya dengan menangkap ikan. Selain itu mereka berdagang, mencari kayu, membuat tembikar, dan sebagainya. Sementara orang Tionghoa yang dikenal dengan sebutan nama Cina Kebun sebagian besar adalah imigran dari dataran Tiongkok yang menetap di pedalaman hutan dan membuka perkebunan karet, gambir, hingga merica. 

Sekitar tahun 1930-an, ada orang China yang membuka usaha dapur arang dan bekerja sama dengan orang Melayu yang mencari kayu bakau untuk pembuatan arang. Dikutip dari Buku Mozaik Batam di Bumi Segantang Lada yang ditulis oleh H Mhd Alfan Suheiri dijelaskan jika hutan bakau yang tumbuh sumbur di sepanjang pesisir Batam menjadi berkah bagi penduduk temppatan. 

Selain sebagai nelayan, sebagian penduduk menebangi hutan kayu bakau dan mengolah kayunya menjadi arang. Kayu arang olahan penduduk Batam bernilai ekonomis tinggi dan sangat laku di Singapura. 

Akhirnya kayu arang tersebut menjadi salah satu komiditas yang dijual ke Singapura. Penjualan arang sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda. Oleh warga Singapura, arang digunakan untuk bahan bakan saat memasak. Biasanya arang yang dibuat oleh warga Batam dibawa oleh toke arang dengan menggunakan kapal kayu. Bahkan sangking larisnya, dalam sehari toke arang bisa bolak-balik Batam-Singapura. 

Saat ke Singapura mereka membawa arang dan ketika pulang ke Batam, mereka membawa sembako. Transaksi yang dilakukan kala itu dengan cara tukar barang atau barter. Alfan Suheiri menulis pengiriman arang besar-besaran dari Batam ke Singapura terjadi pada tahun 1960-an. 

Saat itu kebutuhan arang cukup tinggi karena penduduk Singapura mulai ramai. Biasanya arang diproduksi di lokasi pesisir Batam dan dapur arang yang digunakan adalah milik tauke yang akan mempekerjakan beberapa orang. Namun ada juga tauke yang mengumpulkan arang dari penduduk dan jika jumlahnya sudah banyak akan dibawa ke Singapura. 

Ada 12 dapur arang berukuran besar 

Dari cerita tutur masyarakat sekitar, di Kampung Tanjung Atok Itam ada 12 dapur arang berukuran besar. Namun saat ini hanya ada beberapa dapur arang yang tersisa. Satu dapur arang berukuran besar dengan tinggi limer meter dan luas lebih dari 25 meter. 

Satu dapur arang bisa menghasilkan 30 ton arang dengan pembakaran antara 1 bulan hingga 1,5 bulan. Dua dapur arang dibangun oleh ayah Samyong, seorang tauke arang yang berasal dari Singapura. Tony A Samyong (Sam Hiong) adalah salah seorang pejuang pada zaman konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia. 

Saat Samyong masih kecil, ia dan ayahnya hijrah dari Singapura ke Batam dan mendirikan usaha dapur arang yang diteruskan oleh Samyong. Diceritakan saat Samyong berusia 12 tahun di tahun 1947, ia sudah terjun membuat arang membantu ayahnya. Di masa kejayaannya, satu dapur arang bisa menghasilkan hampir 30 ton arang yang dijual ke Singapura dengan mata uang dollar Singapura. 

Selain di Dapur 12, keluarga Samyong juga memiliki dapur arang di Seijodoh dan menjadi satu-satunya usaha dapur arang di lokasi tersebut. Kala itu, masyarakat melayu di Seijodoh masih bekerja sebagai nelayan dan sebagian berkebun. 

Usaha dapur arang juga ditemukan di hampir semua pesisir Batam dan muara sungai seperti Seijodoh, Duriangkang, Dapur 12, Sungai Buluh dan tempat lainnya. Selain dekat dengan bahan utama yakni kayu bakau, pemilihan lokasi di muara sungai dan pesisir adalah untuk memudahkan mengirim arang dengan perahu ke Singpaura. 

Kala itu banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari dapur arang. Namun sekitar tahun 1980 usaha dapur arang tersebut sudah tidak bisa bertahan, karena bahan yang digunakan sudah mulai menipis. 

Mulai berkurangnya bahan yang akan diproduksi dapur arang tidak bisa semua digunakan hanya beberapa dapur yang bisa digunakan. Seiring berjalannya waktu bisnis dapur arang sudah tidak bisa beroperasi karena bahan sudah tidak ada dan Batam sudah dibangun oleh pemerintah pusat. 

Saat ini usaha dapur arang tersebut hanya tinggal kenangan dan tidak adalagi aktivitas pembakaran arang. Bahkan dapurnya pun sudah lapuk dimakan usia karena tidak pernah digunakan. Untuk mengenang sejarah maka tetua Kampung Tanjung Atok Itam sepakat memberi nama kampung mereka menjadi Kampung Tua Dapur 12.


Sumber :

https://regional.kompas.com/read/2021/02/21/09100081/cerita-kampung-dapur-12-di-kota-batam-dulu-jadi-pemasok-arang-untuk-warga?page=all#page2.

Friday, February 26, 2021

Batam Jadi Kota Paling Makmur

Kalahkan Medan, Batam Jadi Kota Paling Makmur di Region Sumatra   

Kota memang identik dengan kehidupan modern yang gemerlap. Akan tetapi, data kali ini mengajak Kawan GNFI melihat lebih dalam, seberapa makmur kota-kota di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatra. Caranya, kita lihat bagaimana kinerja PDRB per kapita mereka.

Dengan menggunakan harga berlaku, kita bisa melihat pergeseran-pergeseran yang terjadi dalam sektor ekonomi. Selain itu, bisa juga untuk melihat struktur ekonomi yang dimiliki oleh suatu kota, wilayah atau provinsi.

Bisa dikatakan bahwa PDRB adalah jumlah keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari semua kegiatan perekonomian di seluruh wilayah dalam periode tahun tertentu, yang pada umumnya dalam waktu satu tahun.

Biasanya data PDRB disajikan dalam bentuk per kapita, seperti halnya pendapatan. PDRB per kapita merupakan gambaran dan rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk selama satu tahun di suatu wilayah/daerah tertentu.

PDRB per kapita diperoleh dari hasil bagi antara total PDRB dengan jumlah penduduk suatu kota/provinsi. Data yang tersaji dalam bentuk ini merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu wilayah.


Pendapatan per kapita Batam Tertinggi di Sumatra

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 yang dirilis pada 2020, menempatkan Batam sebagai kota terkaya di wilayah Sumatra. PDRB per kapitanya menyentuh angka Rp119,33 juta/tahun atau hampir dua kali lipat dari PDRB per kapita Indonesia.

Batam merupakan markas dari beragam industri pengolahan berskala besar. Kemegahan kota ini juga tampak dari deretan gedung-gedung tinggi yang kian gemerlap. Dibanding kota lain di Sumatra, skyline Batam terlihat lebih menawan.

Posisi kedua diisi oleh Dumai, meskipun secara pamor tidak sekaliber Medan dan Palembang, tapi kota yang terletak di pesisir provinsi Riau ini termasuk salah satu kota paling tajir di Sumatra. Tercatat PDRB per kapita Dumai menyentuh angka Rp117,19 juta/tahun.

Dumai merupakan markas dari beragam perusahaan-perusahaan raksasa seperti Pertamina (kilang), Wilmar Group, Sinarmas Group, Asian Agri hingga Chevron.

Sementara Medan yang selalu digembor-gemborkan sebagai kota paling maju di region Sumatra hanya menempati posisi ketiga di bawah Batam dan Dumai. Pendapatan per kapitanya hanya senilai Rp105,91 juta/tahun.

Dua kota di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau lain menempel diposisi keempat dan kelima. Pekanbaru yang berstatus sebagai ibu kota Provinsi Riau berhasil mencatatkan nominal sebesar Rp104,17 juta tepat satu tingkat di atas Tanjung Pinang yang mencatatkan PDRB per kapita senilai Rp95,31 juta.


Berikut urutan kota-kota terkaya di Sumatra berdasarkan PDRB per kapita:

  1. Batam (Rp119,27 juta)
  2. Dumai (Rp117,19 juta)
  3. Medan (Rp105,91 juta)
  4. Pekanbaru (Rp104,17 juta)
  5. Tanjung Pinang (Rp95,31 juta)
  6. Palembang (Rp93,09 juta)
  7. Sungai Penuh (Rp82,36 juta)
  8. Banda Aceh (Rp68,87 juta)
  9. Bukittinggi (Rp66,52 juta)
  10. Padang (Rp65,58 juta)

Empat dari 10 kota terkaya di Sumatra berada di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau. Sementara kota-kota di Provinsi Bengkulu, Bangka Belitung dan Lampung tidak satupun masuk dalam daftar 10 kota terkaya di Sumatra.


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/02/25/kalahkan-medan-batam-jadi-kota-paling-makmur-di-region-sumatra

Saturday, January 16, 2021

Silicon Valley Indonesia

Mengintip "Silicon Valley Indonesia" di Batam

23 FEBRUARI 2020 

   


Batam adalah salah satu pulau dalam gugusan Kepulauan Riau. Batam merupakan sebuah pulau di antara 329 pulau yang terletak antara Selat Malaka dan Singapura yang secara keseluruhan membentuk wilayah Batam. Karena langkanya catatan tertulis dari pulau ini, maka hanya ada satu literatur yang menyebut nama Batam, yaitu Traktat London yang mengatur pembagian wilayah kekuasaan antara Belanda dan Inggris. Namun, menurut para pesiar dari China, pulau ini sudah dihuni sejak 231 M ketika Singapura masih disebut Pulau Ujung.

Pada tahun 1970-an Batam mulai dikembangkan sebagai basis logistik dan operasional untuk industri minyak dan gas bumi oleh Pertamina. Kemudian berdasarkan Kepres No. 41 tahun 1973, pembangunan Batam dipercayakan kepada lembaga pemerintah yang bernama Otorita Pengembangan Industri Pulau Batam atau sekarang dikenal dengan Badan Pengusahaan Batam (BP Batam). Dalam rangka melaksanakan visi dan misi untuk mengembangkan Batam, maka dibangun berbagai insfrastruktur modern yang berstandar internasional serta berbagai fasilitas lainnya, sehingga diharapkan mampu bersaing dengan kawasan serupa di Asia Pasifik.

Berbagai kemajuan telah banyak dicapai selama ini, seperti tersediannya berbagai lapangan usaha yang mampu menampung angkatan kerja yang berasal hampir dari seluruh daerah di tanah air. Kini, Batam yang telah berkembang pesat dengan jumlah penduduk hampir 1.3 juta jiwa, bahkan pasti tidak terbayangkan bahwa kota ini dahulu adalah rerawa-gugusan belukar, bahkan daerah hitam dengan penduduk hanya ribuan yang tinggal di pesisir pantai.

Pulau Batam secara geografis memiliki letak yang sangat strategis, berada di jalur lalu lintas perdagangan internasional Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan internasional tersibuk kedua setelah Selat Dover di Inggris.

Posisinya juga sangat strategis hanya 20 km atau 12,5 mil laut dari Singapura, dengan jarak tempuh hanya 45 menit melalui jalur laut, dengan aksesibilitas yang mudah ke negera lainnya di belahan dunia.

Pada 2009, Batam menjadi salah satu Zona Perdagangan Bebas di Indonesia. Pulau-pulau yang termasuk dalam zona ini adalah Batam, Bintan dan Karimun yang berada di salah satu rute pengiriman dunia antara Singapura dan Sumatera.

Sebagai Zona Perdagangan Bebas, pengusaha yang berinvestasi di Batam dibebaskan dari bea impor, pajak penjualan, PPN, pajak barang mewah, dan pajak saat memiliki insentif ekspor jika membuat produk langsung di Batam.

Sejak perekonomian global bergerak menuju digitalisasi, Batam sekarang memanfaatkan kekuatan dan keuntungan dari Zona Perdagangan Bebasnya yang sudah ada dengan mendigitaliasi industri-industri kuat yang ada di pulau ini, seperti pembangunan kapal serta minyak dan gas.

Batam yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau disinyalir menjadi kawasan yang paling strategis dalam mendukung pengembangan kawasan digital ekonomi di Indonesia. Pasalnya, lokasi Batam terletak tak jauh dari Singapura. Pertengahan tahun lalu, Sinar Mas Land berkomiten membangun ekosistem kota pintar berbasis teknologi di kota Nongsa, Batam. Proyek ini untuk mengembangkan “Jembatan Digital” yang menghubungkan Indonesia dan Singapura. Dalam proyek ini, Sinar Mas Land pun menggandeng Citra Mas Group untuk membangun Nongsa D-Town di jantung kota Batam sebagai destinasi generasi muda dalam membangun industri, kreativitas, dan konektivitas di bidang ekonomi digital.

Nongsa sendiri kini telah menjelma menjadi pusat digital di Batam. Terletak di kawasan ekonomi khusus dengan luas tak kurang dari 180 hektare, Nongsa Digital Park (NDP) baru 2 tahun beroperasi. NDP disiapkan menjadi sarana mengembangkan bisnis digital di Indonesia dan global. Kawasan terpadu ini selain mempekerjakan para kreator digital juga menyediakan fasilitas teknologi informasi mutakhir. Di antaranya jaringan optik berkecepatan tinggi dan pusat data yang dapat dijadikan server bagi perusahaan digital.


Kawasan Ekonomi Digital Nongsa

Kawasan NDP, kata Peters Vincent, Direktur NDP, tak ubahnya silicon valley-nya Indonesia yang berlokasi di Batam. Lokasinya di ujung timur Pulau Batam, yang hanya 35 menit ke Singapura dengan kapal ferry dan sekitar 10 kilomter dari Bandar Udara Internasional Hang Nadim. Sebutan silicon valley meniru kawasan tempat berkumpulnya perusahaan teknologi digital tingkat dunia di San Fransisco, Amerika Serikat. Perusahaan raksasa digital yang bercokol di sini seperti Google, Facebook, Youtube, Apple, Yahoo hingga HP. “Fasilitas NDP yang lengkap juga nyaman bagi technoprenuer,” kata Peters menambahkan.

Industri kreatif NDP bisa terbilang cepat meraih sukses di bidang digital. Ini terbukti dari sejumlah produk animasi yang mendapat pengakuan internasional. Di antaranya penghargaan AMI Award. Sedangkan film animasi yang digarap orderan dari perusahaan asing terus mengalir.

Beberapa film-film animasi yang digarap oleh para kreator di NDP. Ada Munki and Trunk, Sonic Boom, Vamparina, Zack and Quack, Shutterbug, Tatsumi, Octonauts, Peter Rabit, Garfield dan masih banyak lagi.

Pemerintah Indonesia dan Singapura juga sepakat untuk menindaklanjuti kerja sama terkait pengembangan Nongsa Digital Park guna memperkuat perekonomian kedua negara. Kedua negara sepakat untuk mengembangkan Nongsa Digital Park (NDP) di Batam. Kawasan ini akan menjadi basis bagi pelaku industri kreatif di bidang digital seperti pengembangan startup, web, aplikasi, program-program digital, film, dan animasi.


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/02/23/mengintip-silicon-valley-indonesia-di-batam

Sunday, December 6, 2020

Staycation di Batam Menikmati Pemandangan Singapura

Asyiknya Staycation di Batam Sambil Nikmati Pemandangan Singapura

5 Desember 2020

Di masa pandemi, berlibur dengan staycation masih menjadi favorit bagi wisatawan lokal. Apalagi beberapa waktu belakangan, hotel dan resort menawarkan promo dan diskon besar-besaran untuk menarik minat pengunjung.

Seperti yang terjadi di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Salah satu resort ternama KTM Resort mengeluarkan harga baru di tengah pandemi.

Pengunjung bisa menikmati menginap di resort dengan budget Rp 400 ribu per kamar. Sedangkan vila dua kamar dibanderol Rp 1 juta per malam. Kamar yang menghadap langsung Singapura dan melihat barisan gedung pencakar langitnya hanya dihargai Rp 450 ribu per malam. Sebelum pandemi, harga satu kamar di resort ini bisa mencapai Rp 700 ribuan per malam.

Sebelum menginap di sana, pengunjung disarankan untuk menghubungi terlebih dulu pengelola. Selain menanyakan ketersediaan kamar, pengunjung bisa memastikan mengenai penerapan protokol kesehatan di sana.

Saat menginap di sana, Tempo mendapat informasi bahwa ternyata selama pandemi, KTM resort tidak menyediakan makan di restoran. Pengunjung diperbolehkan membawa makanan dari luar kawasan resort. 

Untuk menuju KTM Resort, dibutuhkan waktu perjalanan dengan kendaraan roda dua sekitar 30 menit dari pusat kota Batam. KTM Resor bersebelahan dengan Pantai Tanjung Pinggir yang menjadi destinasi andalan warga setempat untuk berenang sambil menikmati pemandangan negara Singapura.

Sebelum berangkat ke sana, selain membawa kebutuhan pribadi seperti pakaian, jangan lupa membawa alat pelindung diri (APD) seperti masker, hand sanitizer dan lainnya.

Pada masa pandemi, KTM Resor hanya membuka satu pintu besar. Dari pintu itu sebelum masuk pengunjung harus menjalani pemeriksaan suhu tubuh serta pencatatan data tamu oleh petugas resort. Setelah itu pengunjung akan diarahkan ke ruang resepsionis. 

Di ruangan tersebut juga diberlakukan protokol kesehatan, seperti antri dengan penerapan jaga jarak, tamu harus menggunakan masker serta diharuskan cuci tangan sebelum masuk ke ruang lobby. 

Tamu bisa membayar biaya hotel secara cashless. Tapi wajib meninggalkan deposito sebesar Rp 100 ribu secara tunai.

Ukuran kamar resort cukup untuk dua orang. Di dalam kamar sudah disediakan beragam fasilitas seperti tempat tidur, kulkas, teko pemanas air, kopi, teh serta perlengkapan mandi.

Kamar di resort memiliki interior klasik tapi fasilitasnya sudah modern. Di kamar yang menghadap ke Singapura, Pada balkon yang bisa menjadi tempat untuk memandang pemandangan.

Dari kamar Singapura terlihat cukup jelas, seperti gedung Marina Bay Sands, bianglala Singapura atau yang dikenal Singapura Flyer dan gedung besar lainnya. Cocok dinikmati sambil menyesap kopi atau teh.

Yang tak kalah menarik adalah kawasan resort itu sendiri di daerah yang berbentuk lereng bukit. Di dalam kawasan, banyak taman yang bisa dijadikan spot foto. Selain itu, ada patung Dewi Kwan Im berukuran besar yang menjadi spot foto favorit pengunjung.

Banyak tumbuh pohon-pohon besar di dalam kawasan. Kamar atau vila resort juga menyesuaikan keasrian alam sekitar. Kamarnya tidak seperti kama resort kebanyakan, bangunan kamar terlihat terbuat dari kayu. Selain itu tidak langsung berada di atas tanah, tetapi lebih tinggi sekitar setengah meter dari tanah, seperti rumah-rumah kayu zaman dulu.

Bagi tamu yang ingin berenang, tersedia kolam renang cukup besar dan tidak terlalu dalam untuk orang dewasa. Pengelola sebelumnya harus memastikan pengunjung berenang tidak menggunakan pakai yang mudah luntur. Kolam ini memang terawat dengan baik. Hanya saja tidak dibuka untuk umum.

Di sebelah kolam terdapat Ombak Bar. Di masa pandemi tempat ini masih buka untuk umum. Selain di Tanjung Pinggir, masyarakat bisa menikmati pemandangan Singapura dari tempat ini.

Di Ombak Bar juga terdapat makanan, mulai dari spaghetti hingga pizza. Harga makanan dan minuman dibanderol mulai dari Rp 60 ribu sampai Rp 1 jutaan.

Nongkrong di bar sambil melihat pemandangan Singapura di malam hari bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan. Kalau tidak malam hari, tamu masih bisa menikmatinya di pagi hari. Ditambah dengan deru ombak yang menawan dan kapal-kapal nelayan lalu lalang di depan kamar. 


Sumber :

https://travel.tempo.co/read/1411877/asyiknya-staycation-di-batam-sambil-nikmati-pemandangan-singapura/full&view=ok

Tuesday, October 20, 2020

Jembatan Tol Batam Centre-Nongsa

Jembatan Tol Highway Nong Isa, Bakal Persingkat Jarak Batam Centre-Nongsa

19 Oktober 2020

Pembangunan jembatan layang dengan konsep tol highway akan mengubungkan Batam Centre-Nongsa. Jembatan ini akan menjadi jalur baru. Saat ini Pemko Batam sedang mengestimasikan anggaran untuk merealisasikan proyek ini

Pejabat Sementara (Pjs) Wali Kota Batam, Syamsul Bahrum menjelaskan, keberadaan jembatan tersebut nantinya akan terintegrasi antar ragam wisata baik Nongsa maupun yang ada di Batam Centre, dengan eco tourism dan leisure tourism di kawasan pantau Nongsa, Batu Besar dan sekitarnya.

“Jembatan Batam Center-Nongsa ini akan diperkuat jika konsep Tering Bay Water Front City dapat dikembangkan sebagai Kawasan Strategis Provinsi baru yang alokasi lahannya masuk dalam perencanaan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) Provinsi Kepri," jelas Syamsul.

Diharapkan keberadaan jembatan ini dapat memperpendek jarak tempuh dari Batam Center ke Bandara Internasional Hang Nadim Batam, maupun kawasan wisata Nongsa dan Batu Besar.

Pembangunan hotel di kawasan Nongsa akan direncanakan untuk mengimbangi banyaknya hotel di kawasan Nagoya dan Batam Centre, seperti Harris Resort, Aston Hotel, Harmoni, Sahid, Golden View dan Marriot.

Syamsul menambahkan Batam Centre bisa sebagai Government Business District (GBD) serta Commercial Business District (CBD). “Bisa juga menjadi surga belanja bagi turis yang menginap di Nongsa,” katanya.

Rencana pembangunan jembatan ini juga bisa menghidupkan Batam Centre-Nongsa sebagai kawasan destinasi wisata dan memperkuat sport tourism. Syamsul juga menambahkan, jembatan ini bisa menjadi ikon baru bagi Batam.

Kehadiran jembatan penghubung ini dapat mengoptimalisasi pula dua pulau di Teluk Tering, yaitu Semakau Besar dan Semakau Kecil sebagai Batam Financial Digital Hub.

"Makanya jembatan ini akan dinamai Nong Isa, sesuai dengan asal dari nama Nongsa sendiri. Dengan adanya jembatan ini juga akan memungkinkan terselenggaranya event olahraga internasional," katanya.

Sampai saat ini, progres pembangunan jembatan tersebut masih baru menghitung besaran nilai dan aspek teknis proyek bersama dengan para investor. Agar dapat menentukan perencanaan desain yang tepat dengan anggaran yang kuat juga.  "Tergantung desain jembatan yang akan dibangun, bisa saja anggarannya sampai Rp 1,5 triliun," kata dia.


Sumber :

https://www.batamnews.co.id/berita-68722-jembatan-tol-highway-nong-isa-bakal-persingkat-jarak-batam-centrenongsa.html?page=2

Tuesday, June 23, 2020

Mengenal Teh Obeng Khas Kepulauan Riau


Apa yang pertama kali muncul dalam benak Kawan GNFI setelah mendengar Teh Obeng? Apakah karena cara pengadukan tehnya yang menggunakan obeng?

Kalau ya, sayang sekali pemikiran Kawan GNFI salah. Melansir dari beberapa sumber dan pengalaman beberapa orang, ternyata penamaan Teh Obeng ini ada asal-usulnya dan menjadi ciri khas penamaan teh di Kepulauan Riau.

Teh Obeng merupakan teh yang sangat familiar dan diminati masyarakat Kepulauan Riau, khususnya di Batam dan Tanjung Pinang. Meski penamaan Teh Obeng terkesan ekstrim, sebenarnya Teh Obeng ini hanyalah es teh manis pada umumnya.

Hanya saja, jika Kawan GNFI berkunjung ke Kepulauan Riau, jangan pernah memesannya dengan sebutan ‘es teh manis’. Bisa-bisa Kawan GNFI tidak akan dilayani atau bahkan pelayan warung makan dan restoran di sana akan memberi segelas teh dan segelas es batu secara terpisah.

Masyarakat di sana justru akan kebingungan ketika diminta untuk menyediakan es teh manis.


Asal-Usul Teh Obeng

Awalnya, es teh manis ini seharusnya disebut dengan Teh Apeng. Peng sendiri berarti ‘es’, sebutan hasil dari akulturasi budaya Melayu dan China. Seiring berjalannya waktu, penyebutan Teh Apeng ini bercampur dan menyesuaikan lidah orang Indonesia.

Hingga akhirnya warga keturunan banyak yang menyebutnya dengan Teh Openg. Meski begitu tetap saja kata-kata Teh Openg masih dirasa kurang pas dengan lidah orang Indonesia. Seiring berjalannya waktu lagi, akhirnya huruf P tersebut berubah menjadi B, hingga terciptalah Teh Obeng yang terkenal legendaris hingga sekarang.

Lagi pula kata ‘obeng’ merupakan kata dari bahasa Indonesia yang lebih familiar di telinga orang Indonesia. Jadi, tidak heran justru berkat pelafalan Teh Obeng, es teh manis ala Kepulauan Riau ini justru menjadi sangat ikonik dan terkenal.

Dahulu Teh Obeng memiliki cita rasa yang khas. Teh yang digunakan juga berbentuk bubuk yang memiliki aroma khas serta tehnya yang kental dan pekat.

Namun semakin banyaknya pendatang baru yang datang ke Kepulauan Riau, maka masyarakat mulai banyak membangun bisnis rumahan. Semakin banyak orang yang berjualan teh, maka ciri khas kepekatan Teh Obeng pun semakin terlupakan karena para pebisnis rumahan itu akhirnya menggunakan teh umum yang praktis seperti teh celup.

Meski berbeda, tapi masyarakat kala itu mengklaim bahwa es teh manis buatannya adalah Teh Obeng.


Jika Memesan ‘Kopi Panas’, Juga Tidak Akan Dilayani

Sama halnya dengan memesan segelas kopi panas. Di Tanjung Pinang, Kawan GNFI tidak bisa mengatakan, ‘’Pesan kopi panas satu, ya!’’.

Masyarakat di sana juga cenderung kebingungan. Kawan GNFI harus menyebutnya dengan Kopi O, yang artinya kopi panas tanpa es. Ini juga berlaku kalau ingin memesan teh panas, yaitu menyebutnya dengan Teh O.

Penamaan ini juga sebenarnya berhubungan dengan Teh Obeng. Jika sebelumnya disebutkan bahwa Peng artinya es, lalu akulturasi budaya Melayu mengubahnya menjadi Beng, maka untuk memesan teh dan kopi tanpa es, kata Peng atau Beng di dalamnya dihilangkan.

Terciptalah Kopi O dan Teh O khusus untuk pelanggan yang menginginkan kopi dan teh panas (tanpa es),

Mengutip pengalaman wartawan detikTravel, Wahyu Setyo Widodo, ada hal unik lainnya ketika Wahyu memesan Kopi O di Tanjung Pinang. Jika biasanya ketika memesan kopi untuk dibawa pulang, maka kopi akan dituang ke gelas plastik atau yang lebih modern dituang ke gelas kertas.

Hal itu tidak akan Kawan GNFI temukan, karena masyarakat Tanjung Pinang akan menuangkannya ke dalam botol kaca bekas sirup, kemudian ditutup memakai plastik bening yang diikat karet gelang. Otomatis porsi kopi yang dibawa pulang tidak untuk satu orang pada umumnya.

Satu botol kaca bekas sirup berisi Kopi O dihargai Rp 18 ribu. Dapat dikatakan sangat terjangkau, apalagi satu botol tersebut bisa untuk diminum bersama-sama.

Jika tidak ada botol kaca bekas sirup, biasanya para pedagang menggunakan kaleng susu bekas. Kawan GNFI bisa pilih, mau bawa pulang kopi menggunakan botol kaca atau kaleng bekas?


Sumber :
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/06/05/mengenal-teh-obeng-khas-kepulauan-riau

Wednesday, April 1, 2020

RS Darurat di Pulau Galang


Hari Ini, Jokowi Presiden Tinjau RS Darurat di Pulau Galang

Joko Widodo Presiden, hari ini, Rabu (1/4/2020), melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Kepulauan Riau, dengan agenda utama meninjau kesiapan Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 yang ada di Pulau Galang.

Presiden beserta rombongan terbatas lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, pukul 10.00 WIB, menuju Bandar Udara Internasional Hang Nadim, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Dari Bandara Hang Nadim, rombongan RI1 langsung bergerak menuju lokasi RS Darurat di Pulau Galang, Kelurahan Sei Jantung, Kecamatan Galang, Kota Batam.

Selepas kunjungan tersebut, Kepala Negara dan rombongan rencananya langsung kembali ke Jakarta.

Turut serta dalam kunjungan kerja itu, antara lain Basuki Hadimuljono Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Letjen TNI Doni Monardo Kepala BNPB, Mayjen TNI Suharyanto Sekretaris Militer Presiden, dan Mayjen TNI Maruli Simanjuntak Komandan Paspampres.


RS Darurat di Pulau Galang Siap Beroperasi Senin 6 April.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau kesiapan Rumah Sakit Darurat di Pulau Galang, Kepulauan Riau, Rabu (1/4). Menurut Jokowi, rumah sakit darurat ini akan siap beroperasi pada Senin (6/4) depan.

Presiden mengakui, pembangunan rumah sakit darurat ini sempat terkendala selama beberapa hari. “Ini maksimal Senin sudah bisa dioperasikan. Memang ada keterlambatan 3-4 hari. Karena ada transportasi bahan material yang terkendala karena cuaca,” kata Jokowi saat meninjau RS Darurat di Pulau Galang.

Jokowi menyebut, RS Darurat ini juga disiapkan untuk mengantisipasi membludaknya pasien terjangkit virus corona di Jakarta. Wisma Atlet yang juga dijadikan sebagai rumah sakit darurat di Jakarta saat ini memiliki 2.400 bed. Namun baru 400 bed yang terpakai.

Sedangkan, RS Darurat di Pulau Galang memiliki 360 bed dengan 20 kamar isolasi yang dilengkapi dengan ICU dan 30 kamar isolasi tanpa ICU. “Ya semuanya ini memang kita rencanakan dan siapkan. Kita berharap tidak terjadi tapi paling tidak kita siap,” kata Jokowi.

Rumah sakit ini nantinya juga akan menjadi tempat karantina dan observasi bagi tenaga kerja WNI yang kembali pulang ke Tanah Air dari Malaysia. Sebab menurutnya, mobilitas WNI yang kembali ke Tanah Air ini juga cukup banyak. “Tapi kita juga harus tahu saat ini setiap hari ada mobilitas tenaga kerja Indonesia yang dari Malaysia pulang mudik. Ini harus dikontrol, harus diawasi dan dicek sehingga semuanya dalam keadaan bersih dan tidak membawa corona masuk ke desa,” ujar dia.

Setelah seluruh wabah corona ini berakhir, nantinya RS Darurat di Pulau Galang ini akan dialihkan fungsinya sebagai RS Penyakit Menular dan Riset Penyakit. Jokowi berharap, penambahan jumlah pasien terpapar corona tak semakin banyak sehingga rumah sakit ini nantinya tak perlu digunakan.

Sementara itu, Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR Danis Sumadilaga menjelaskan, RS Darurat di Pulau Galang ini dibangun di area seluas 16 hektare. “Pembangunan di Pulau Galang ini area 16 hektare. Terdiri atas zona A 2,4 hektare; zona B 13,6 hektare, total 16 ha,” jelas dia.

Danis mengatakan, rumah sakit darurat ini terbagi menjadi tiga zona. Zona pertama yakni zona A yang merupakan mess bagi para pegawai, perawat, dan juga dokter dengan 158 tempat tidur. Kemudian, terdapat juga bangunan penunjang berupa bangunan sterilisasi, farmasi, laundry, serta bangunan  gizi. “Kita juga bangun untuk gedung dan power house. Ini zona A dengan progres 100 persen. Ini kerja sama kami dengan 2 BUMN,” kata Danis.

Bangunan utama di RS Darurat ini yakni berada di zona B. Zona B ini merupakan bangunan isolasi yang berisi 20 tempat tidur dan juga bangunan observasi dengan 340 tempat tidur. “Jadi kita membangun observasi plus observasi total 360 bed. Ini bangunan inti,” ungkapnya.

Selain bangunan itu, ada juga bangunan penunjang lainnya sebagai laboratorium satelit, farmasi, kamar jenazah, dan lainnya. Sedangkan zona C digunakan sebagai zona pengembangan jika diperlukan sewaktu-waktu.

Nantinya, pasien yang akan masuk ke rumah sakit ini akan menjalani screening test terlebih dahulu untuk memastikan status dan kondisinya. Danis mengatakan, RS Darurat di Pulau Galang ini dibangun selama 26 hari dengan proses pembangunan mencapai 96 persen. “Total 26 hari pembangunan sudah 96 persen. Kami juga bangun tiga helipad, sewaktu waktu pasien bisa diantar dengan helikopter,” tambah dia.


Sumber :
https://republika.co.id/berita/q83nfc384/rs-darurat-di-pulau-galang-siap-beroperasi-senin-6-april
https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2020/hari-ini-jokowi-presiden-tinjau-rs-darurat-di-pulau-galang/?fbclid=IwAR2W4E72RLEuTNzeqeLjr_t5nyisbYLF-RdN336zV-U51r9tYvud8MjL1JM

Related Posts